Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
SEANDAINYA saya Presiden RI, pastilah sesak kepala saya oleh khawatir. Di sana perang di sini kelahi. Ditengah-tengahnya hanya ada ketidakpastian. Mayoritas negara, pada waktu terakhir ini, dalam suasana geopolitik yang semakin kompleks, mungkin saja tercebur dalam konflik baru, dan memiliki resiko besar terhadap memburuknya keamanan. Apa mau dikata, begitulah dunia; tak akan pernah berhenti memberi kejutan, seringnya kejutan yang mengerikan.
Tersadar dari lamunan, untunglah presiden kita bukan saya. Presiden yang asli mana mungkin cepat betul berputus asa, tentulah dia jenius lagi bijaksana, tahu bagaimana menyatakan sikap, pun terampil memosisikan diri. Ehm!
Meski demikian, saya rasa kita pantas merasa cemas. Indonesia, rumah kita, sedang berada dalam pusaran konflik global. Silahkan cermati dengan seksama, aneka pertikaian yang saat ini sedang bergejolak, seolah sedang terjadi di halaman belakang kedaulatan kita. Ingat, peristiwa apapun yang menimpa suatu wilayah, pasti berdampak pada belahan dunia lainnya. Satu negara merana, yang lain pasti ikut menderita.
Ancaman di ambang pintu
Tanpa bermaksud mendahului takdir Tuhan, sebagaimana perkiraan ahli politik kenamaan, jarak hari ini hingga perang terbuka di Timur Tengah hanya tinggal sepelemparan batu, amat dekat, tebal alasan karena motif balas dendam, terlebih antara Iran dan Israel, jika tidak secara langsung di antara kedua negara, barangkali melibatkan proxinya. Proksi-proksi Iran di antaranya Hamas, Hizbullah di Lebanon selatan, Houthi di Yaman, dan milisi di Suriah serta Irak.
Mengapa? Gara-gara kematian pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, diduga karena dicelakai Israel lewat serangan udara, ketika berada di wisma kenegaraan (state house) persis di Jantung Ibu Kota Iran. Siapa yang tidak masygul? Sekarang semua negara sedang berhati-hati sembari menanti kejutan apalagi gerangan yang akan terjadi, kekuatan besar mana nanti yang akan terbawa-bawa? AS? China? Rusia? India? Indonesia….?
Seandainya perkiraan ini betul terjadi, Indonesia, sebagai negara yang berada di Asia Tenggara, mungkin akan terpengaruh oleh perubahan geopolitik ini. Pemerintah Indonesia mungkin akan dihadapkan dengan tekanan untuk mengambil posisi dalam konflik ini, yang dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri dan hubungan diplomatik.
Konflik ini juga dapat mempengaruhi masyarakat Indonesia, terutama jika ada komunitas Muslim yang mendukung Hamas atau Iran. Reaksi sosial dan politik masyarakat Indonesia dapat beragam, dari dukungan hingga protes terhadap kebijakan pemerintah. Jika konflik melibatkan serangan militer, Indonesia mungkin akan dihadapkan dengan tekanan untuk berpartisipasi dalam operasi militer atau memberikan dukungan logistik. Terpengaruh jualah kebijakan pertahanan dan keamanan nasional kita.
Sementara itu, Laut China Selatan, yang berbatasan langsung dengan Indonesia, menjadi arena kontestasi kekuatan. China mengklaim hampir seluruh wilayah, berhadapan dengan klaim tumpang tindih dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk tetangga Indonesia seperti Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Situasi ini menciptakan ketegangan yang terus meningkat di kawasan, memaksa Indonesia untuk mempertimbangkan kembali strategi keamanan maritimnya.
Krisis Taiwan, meskipun terlihat jauh, memiliki implikasi langsung bagi keamanan Indonesia. Selat Malaka, yang menjadi urat nadi perdagangan global dan berbatasan dengan Indonesia, bisa menjadi titik panas jika konflik China-Taiwan meletus. Laporan think tank RAND Corporation yang memproyeksikan kemungkinan invasi China ke Taiwan antara tahun 2025 hingga 2030 menjadi peringatan keras akan potensi destabilisasi kawasan yang dapat langsung mempengaruhi Indonesia.
Sementara itu, pembentukan aliansi keamanan baru seperti the Quad (Quadrilateral Security Dialogue antara AS, Jepang, India, dan Australia) dan AUKUS (aliansi keamanan antara Australia, Inggris, dan AS) menambah kompleksitas geopolitik di Indo-Pasifik. Kedua aliansi ini, yang dipandang sebagai upaya mengimbangi pengaruh China, menempatkan Indonesia dalam posisi yang rumit. Di satu sisi, Indonesia perlu menjaga hubungan baik dengan China sebagai mitra dagang utama. Di sisi lain, Indonesia juga harus mempertimbangkan implikasi keamanan dari meningkatnya aktivitas militer negara-negara anggota Quad dan AUKUS di perairan sekitar.
Konflik Rusia-Ukraina, meskipun terjadi jauh di Eropa, memiliki dampak tidak langsung terhadap Indonesia. Dengan korban jiwa yang telah melampaui 500.000 orang, perang ini telah mengubah lanskap keamanan global dan mempengaruhi rantai pasokan serta harga komoditas dunia, yang pada gilirannya berdampak pada ekonomi Indonesia. Sementara itu, krisis kemanusiaan di Sudan, dengan lebih dari 6 juta pengungsi menurut data UNHCR, menunjukkan bagaimana konflik internal dapat memiliki konsekuensi regional yang luas, termasuk potensi arus pengungsi yang bisa mencapai Asia Tenggara.
Membangun Ketahanan Nasional
Saran saya, sebagaimana judul tulisan ini, bukan berarti Indonesia harus mengadopsi sikap agresif atau meninggalkan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Sebaliknya, ini adalah tentang membangun ketahanan nasional yang komprehensif. Saya berharap Pak Presiden baru berkenan menaruh perhatian pada upaya-upaya berikut: peningkatan anggaran pertahanan secara bertahap, modernisasi alutsista, pengembangan industri pertahanan dalam negeri, penguatan kapabilitas siber dan intelijen, peningkatan kerjasama militer regional dan internasional, investasi dalam pendidikan dan pelatihan personel militer, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pertahanan nasional.
Ini penting, Pak Presiden, sebagaimana adagium popular, "Si vis pacem, para bellum", jika kau mendambakan perdamaian, bersiaplah untuk berperang!!
Inilah tantangan besar yang harus dihadapi oleh Presiden baru: mempersiapkan negara untuk menghadapi kemungkinan terburuk, sambil terus bekerja keras untuk menciptakan dunia yang lebih aman dan damai. [T]
Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...