Buleleng Terkaya di Bali, Sesungguhnyalah Tak Perlu Investor
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
MALAM itu, Sabtu 3 Agustus 2024, masyarakat Banjar Pinda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar memenuhi balai banjar setempat. Ruas jalan yang luas di depan balai banjar menyempit. Sesekali prangkat keamanan adat Pecalang bersama Bhimas dan Babinsa mengatur warga untuk tertib agar lalulitas lancar.
Dari kejauhan terdengar lentingan nada gambelan bali yang rancak dan dinamis. Ketika didekati yang memainkan gambelan ternyata “touris”, berhidung mancung, kulit putih, rambut kemerah-merahan. Tak hanya satu, semua personel satu prangkat gambelan semua adalah WNA. “Kleng, dueg san tamu e ne megambel,” ujar salah satu warga berdecak kagum.
Tepuk tangan dari penonton tak henti-hentinya ketika WNA itu memperlihatkan aksinya. Mereka silih berganti memukul gambelan dengan seka gong setempat.
Mereka adalah WNA Prancis menghumpun diri menjadi Grup Puspa Warna, yang beralamat di Paris-Prancis di bawah naungan Asosiasi Panca Indra mereka fokus belajar Gong Kebayar dan Semar Peguliangan.
Theo Merigeau, yang menjadi inisiator menghimpun kelompok gambelan, menceritakan sekitar tahun 2011, mereka menghimpun diri di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris di bawah binaan Bidang Penerangan Sosial Budaya. Mereka ingin secara serius belajar gambelan Bali.
“Pada tahun tersebut juga saya belajar langsung dengan Pak Kumpul salah satu tokoh gambelan dari Desa Adat Pinda, Saba, Blahbatuh, Gianyar. Setelah latihan itu, kami terus mengembangkan diri mengadakan latihan rutin di Paris dua kali seminggu," ujar Theo yang sangat lancar bernesia.
Theo pun mengaku sangat memimpikan bisa pentas di banjar Pinda ini, “Setelah sekian lama belajar baru kesampaian. Selama 10 dari 22 Juli - 2 Agustus kami mengadapan workshop belajar nonstop sama seniman-seniman banjar," ungkap Theo.
"Pementasan ini sangat berarti bagi kami, kami yang dari jauh menghimpun diri dengan biaya sendiri akhirnya bisa pentas disini. Saya sendiri tidak tau kenapa saya suka dengan gambelan Bali," tawa laki-laki yang seoarang komposer di Paris tersebut.
Dalam pementasan tersebut mereka membawakan gending lelambatan Kreasi Tabuh Telu Pepanggulan, Tari Pendet, dan Tabuh Kreasi Manuk Anguci yang merupakan tabuh lengendaris milik para seniman Banjar Pinda. Berdampingan dengan Seka Gong Dharma Kesuma, Pinda mereka silih berganti memainkan gambelan.
Penghubung workshop I Wayan Kader dosen Isi Denpasar bercerita, awalnya ia melatih Perhimpunan Pelajar Indonesia di Paris tahun 2009 untuk mengenal budaya. “kampus mengirim saya saa itu. Tidak sengaja bertemu Theo ini. Entah bagaimana ceritanya, ia ingin belajar, tapi saya harus pulang, saya tidak bisa mengajarinya," ujarnya.
Saat itu Kader berpesan, kalau kamu memang benar tertarik dan ingin belajar datang saja ke Bali. "Datang saja ke Bali, pasti ada yang ngajari kamu. Biar gak bingung kamu juga bisa datang ke Banjar saya " ujarnya Kader. "Tahun 2011 dia bener datang, saya saat itu sedang kuliah di Solo, jadinya yang mengajari bapak saya Pak Kumpul itu. Bahkan saya harus belikan dia gambelan gender agar bisa belajar," kenang kader.
Menurut Kader, mungkin karena Theo ini seorang composer, dia bisa menghimpun teman-temannya di Paris untuk belajar gambelan, “Teman-temanya itu dari berbagai latar belakang, bahkan dua orang seorang dosen matematika. Mereka tidak ada sponsor, mereka liburan tapi agar dapat sesuatu, jadilah mereka gelar workshop ini," ujar kader.
Lucunya Theo sendiri tidak tau alasannya menyukai gambelan Bali. Ia suka saja. Cara belajarnya pun berbeda. “Kalau saya belajar music barat itu pakai note, satu satu, bertahap. Kalua disini mendengarkan langsung praktek saya jadi pusing,” tawanya. [T]
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
INI adalah komentar seorang teman pebisnis sukses, orang Bali yang tinggal di Amerika “Orang Bali harusnya ajarkan anak-anaknya berbisnis bukan hanya sembahyang”. Dan comment yang...
WABAH Pokémon Go sepertinya sudah masuk ke ceruk kehidupan orang Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, tentu bukan hal aneh jika sarang Pokémon banyak terdapat di Pura. Di Pura besar ata...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa...
BUNGA KECOMBRANG (1 ) Pada kelopak mudaku kau temukan rasa yang enggan pergi dari tiap ujung papila Kau terbakar rasa larut dalam liur kuntum kuntumku membuat...
SALAH satu cara mengatasi kerumitan pilihan hidup dalam dunia, --- yang mana orang-orangnya kian jauh dari kesempatan untuk berbeda adalah mengikuti ke mana arah pemikiran pergi,...
"Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri," KERUMUNAN tampak dari kejauhan. Iringan suara gamelan rindik berpadu dengan...
HARI sekolah tiba. Orang tua harap-harap cemas. Apakah si anak bisa berprestasi di sekolah. Jika iya tentunya membanggakan. Namun, hilangkan harapan itu. Baiknya, jangan paksa anak...
Judul: Magening # Pengarang: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Kakilangit Kencana # Tahun: April 2015 # Tebal: vi, 164 halaman # ISBN: 978-602-8556-53-8 899.221 3 NOVEL Magening...
PADA suatu masa, tak terlalu lama, di negeri ini pernah ada penggemar cicak dan ada penggemar buaya, ada juga yang suka melihat ribut-ribut antara keduanya. Tapi saya sendiri lebih...