Puisi-puisi Selendang Sulaiman | Meditasi

Selendang Sulaiman
by Selendang Sulaiman — Agustus 04, 2024 in Puisi

Tatkala.co

Meditasi Hari Pertama

sudah kusempurnakan mandi besar
dan jubah hitam gairah yang lalu
lekas kulepas di pintu keheningan
lumut dan bakteri kusikat sampai kilat

kini kukenakan kulit bayiku lagi
pikiran yang baru tahu tangis dan tawa
hati yang jauh dari pilu dan haru
pada umur kelewat remaja dan tua

di sini, seperempat hidup pada almanak
menggumpal di atas dingin keramik
sambil menata nafas yang lama tercampak

dan di keheningan ini kusapu bersih
noda-noda masa lalu dan remah impian
yang menghisap energi bahagia dan hidupku

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kedua

umpama jelajah alam di malam bulan terang
mencari arah lapang menuju kampung nurani
batu-batu sandung berbentuk layang-layang
dan kala jengking memetik bunga melati

kuikuti jejak kaki para pertapa
melewati bukit, lembah dan rimba
selepas kegelapan tertikam di pintu sukma
belati di tangan tetas api di mata serigala

pagar melati menyeruap wangi dan salam
pisang emas matang di pohon berbinar-binar
bersama irama jengkrik di semak-semak seruni

alir nafasku mengembun, kuku-kuku membening
seperti bayi tenang, silaku hening
meraba seluruh pori-pori, luar dalam.

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Ketiga

kunang-kunang terbit di hamparan padi
kakiku geli di pucuk-pucuk tunas ilalang
bukan, itu percik sinar lampu-lampu kota
jadi bainglala dipejam mata meditasiku

kedua lengan terentang-terkepak
terbang memandang cuaca
bagai burung gagak awasi mangsa
lalu hinggap di punggung meditasiku

bagai khidir, lentur tangan buka pintu
fantasi menggelar teater satu babak
dari masa silam yang koyak-moyak

meditasi badan kerontang tersentak
tapa bisu mengikis bahasa yang terserak
sebelum tiba gelap saat nafas diam di dada

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Keempat

seluruh organ tubuh berontak
sel-sel darah saling desak
sendi-sendi menetaskan nyeri
otot pegal ditekan linu

hasrat pergi memuncak
pikiran keluar ke mana-mana
perasaan halus dan kasar saling tindih
sukma mencair, tubuh padat terkunci

seluruh energi batin mengkristal
menghentikan waktu di duduk pikiran
menumpas segala ingin dan angan

angin halus menjaga nafas mulus
mengurai benang kusut berlumut
di sekujur atmosfir hidup.

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kelima

kujur tubuh berlabuh di dermaga hening
kesiur angin-ombak lenyap di daun telinga
di belakang kelopak mata ada pelangi
menjadi jembatan masa lalu ke masa depan

hidup lahir di hulu bergerak ke hilir
mengisi ruang dan waktu di dasar dan tepi
aku terapung dan hanyut sepanjang nafas
pada denyut batu-batu memenuhi paru-paru

pikiran menjadi ikan mas koki lemah
bermimpi setiap tenang air diam bariak
berharap jadi lumba-lumba pintar perkasa

hujan emosi berduyun-duyun ke kawasanku
menggerogoti perasaan bisu bermata biru
dalam duduk meditasi panjangku.

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Keenam

kulepas wajah luka di tubuh lembut meditasi
sejengkal dari ubun-ubun sebuah pintu terbuka
kumasuki sebelum ruas cahaya memadam
lalu muncul ribuan jendela kaca de javu

separuh sukmaku mengambang
di atas bukit-bukit hijau puncak bogor
kuturuni tangga batu menuju lembah
mengikuti jejak kaki matahari

sukma diam di gerbang kayu kedua
perkampungan muncul dihuni duka cita
ratusan keranda terbang ke pemakaman

gubuk trauma reot di balik gerbang kayu
di seberang tangga batu yang keenam
dan di gerbang terakhir; hening memelukku

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Ketujuh

di perbatasan lubang hidung dan bibir
menepilah benih-benih angin segala penjuru
sekejeap tunas tumbuh dan berlabuh
ke ujung pangkal terdekat dan terjauh

segenggam nafas beroprasi di jantung
menyusuri arah denah urat nadi
seperti gulungan ombak tergumpal di ubun-ubun
lalu pecah ruah ke sekujur dilebur darah

alirnya deras berarus kencang
tak ada hulu bermula, tanpa hilir perjumpaan
tubuhku tak lagi berjarak dengan atmosfer

waktu meleleh di tenggorokan
kutelan bersama racun dahak kental
masa silam masa depan berhenti dalam dada

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kedelapan

tak satu pun tertinggal dan terlepas
daun-daun peristiwa tumbuh dan gugur
di ranting-dahan pohon jati takdirku
di kebun ingatan tempat segalanya berdenyut

umpama sel-sel sperma dan zat tanah gambut
setiap yang berdenyut mengembang biak
memilih nasib dan jalur hidup kebebasan
dan aku mengakses seluruh denyut sendiri

jauh dari ujung belati panca indera
ribuan babak tragedi tercipta dalam otak
tanpa lampu, tak bersuara: senyap

jutaan bayang-bayang keangkuhan
mematung di antara langit dan bumi meditasi
terjamah, ia jelmaan impian yang terbunuh.

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kesembilan

di ruang kesembilan meditasi vipassana
batang pohon nanas kering di pagi buta
semut dan walang sengit pergi ke lembah
laba-laba dan burung empret membuat sarang

aku kehilangan hasrat dan selera
tulang belakang ditumbuhi akar gantung
pandangan meninggi mencapai bukit
kabut tebal putih susut ke pori-pori

aku kehilangan batas dan jarak
menjelma atmosfir dan iklim sendiri
suara hanya gema di titik hening

ragaku terus menipis-tanpa kikis
masa dan gelombang bunyi terlipat
tersusun megah di pintu kepulangan

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Meditasi Hari Kesepuluh

menjelang purna diam yang mulia
di pusat meditasi vipassana dhamma java
aku mungkin meraih dhamma
lenyap segala bentuk sangkara

menjelma janin subur sang budha?
di rahim dunia yang fana
sebelum ritual khusyuk tobat paripurna
menyongsong sulur cahaya sukma

pecah dari wajah dewa matahari
atau dewi bulan dan samudera
sebagian menjadi reinkarnasiku

keheningan memenuhi aku
kesadaran menguasai perikemanusiaanku
pancaran hidup mengkristal di pusat cahaya

Bogor-Jakarta, 2014/2024

Penutup Tapa Bisu

semua yang nyata berlalu, tapa bisu, pikiran biru
adakah yang lebih biru dari pekatnya rindu?

puncak-puncak bukit disanding gunung geulis
meniup langit, awan bunting lahir dalam rinduku.

sempurnalah meditasiku
sepuluh hari menunaikan tapa bisu

Jakarta-Bogor, 2014/2024

BACA puisi-puisi lainnya

https://tatkala.co/2024/07/27/puisi-puisi-achmad-khoirul-fatoni-catatan-biru
https://tatkala.co/2023/11/12/puisi-puisi-fathurrozi-nuril-furqon-seseorang-dalam-puisi/embed/#?secret=LUAKQpPbeO#?secret=1qRgr2I84C
https://tatkala.co/2024/07/20/puisi-puisi-zajima-zan-di-sebuah-perpustakaan-kecil/embed/#?secret=CcYvEHYUxT#?secret=SbkjvQ8bL5
https://tatkala.co/2024/07/13/puisi-puisi-farras-pradana-bukan-hukuman/embed/#?secret=NTXw76GaAP#?secret=jv0SzLkOWo
https://tatkala.co/2024/07/06/puisi-puisi-jang-sukmanbrata-ketika-sajak-itu-jejak-di-sungai/embed/#?secret=UDL7qJzXyl#?secret=Um4X0dRLBp
https://tatkala.co/2024/06/15/puisi-puisi-mettarini-seperti-mimpimu-memeluk-langit/embed/#?secret=sLukx65e1N#?secret=AOYxla0Oxk
https://tatkala.co/2023/11/11/puisi-puisi-rehan-naza-peristiwa-singkat-untuk-ingatan-panjang/embed/#?secret=y8QM7Ijx8Y#?secret=U2hg6tfAiQ
https://tatkala.co/2023/11/04/puisi-puisi-arif-billah-sepanjang-pantai-aku-mengumpat/embed/#?secret=PlBSrguv8z#?secret=dZLCsh3rUk
https://tatkala.co/2023/10/29/puisi-puisi-rusdy-ulu-keruh-gelisah-propaganda/embed/#?secret=r0DoVfouO1#?secret=W0roZ75jHO
Tag: Puisi
Avatar

Selendang Sulaiman

Related Posts