Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
“Tulisan ini didedikasikan untuk Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba, pendiri Program Studi Ilmu Kepariwisataan, Universitas Udayana, Bali”
MEMBANDINGKAN Bali serta pariwisatanya di masa lalu dan kini bagaikan memandang suasana tengah malam dan siang hari. Antara ketenangan dan kesejukan di waktu dulu dengan kesemerawutan dan kepengapan di saat sekarang. Bali yang dulu ramah, kini menjadi beringas.
Bali sedang tidak baik-baik saja. Bali sedang banyak masalah. Begitu kira-kira tanggapan banyak orang tentang Bali. Pariwisata dituding sebagai “rezim” yang kini menikam Bali. Pariwisata menjadi madu yang sekaligus racun. Pariwisata Bali kini menjadi amburadul.
Orang lantas rindu pada Bali di masa lalu. Rindu pada kedamaian. Rindu pada wisatawan yang akrab dengan masyarakat. Rindu pada alam yang sakral namun meneduhkan. Rindu pada segalanya yang kini hanya riwayat.
Akankah Bali mendapatkan kembali taksunya, sehingga wisatawan begitu kagum dan hormat kepada masyarakatnya? Akankah bentangan sawah menghijau masih dapat dipertahankan? Akankah masih bisa disaksikan kedigdayaan Subak dan ritual para petani saat menanam dan memanen padi?
Pertanyaan dan kenyataan tersebut mengingatkan pada sederet tokoh dan akademisi Bali, yang jauh hari bicara tentang masa depan Bali dan pariwisatanya. Dari sekian tokoh dan akademisi Bali, adalah Profesor Ida Bagus Adnyana Manuaba yang selalu kritis menyoroti pariwisata Bali.
Profesor Manuaba adalah tokoh Bali dan pendiri Fakultas Pariwisata Universitas Udaya; dulu bernama Program Studi Diploma IV (PSD IV), lantas menjadi Program Studi Ilmu Kepariwisataan (PSIK) Universitas Udayana. Begitu gigih Profesor Manuaba memperjuangkan agar pariwisata diakui sebagai ilmu. Upaya yang dimulai sejak tahun 1985 itu akhirnya membuahkan hasil. Sejak 27 September 2008, Universitas Udayana memiliki Fakultas Pariwisata (fpar.unud.ac.id).
Apa yang Kau Cari Palupi?
Selama sepuluh tahun menjadi asisten dosen Profesor Manuaba di Program Studi Ilmu Kepariwisataan, Universitas Udayana; banyak catatan tentang ucapan dan pemikiran kritisnya yang dilontarkan dalam berbagai kesempatan. Hal itu dilakukan sejak tahun 1985. Artinya, 39 tahun lalu Profesor Manuaba mencemaskan Bali.
Ungkapan yang sering disampaikan terkait pariwisata Bali adalah sebuah pertanyaan sindiran: “Apa yang Kau Cari Palupi?”. Pertanyaan yang mengutip judul film terkenal garapan sutradara kondang Asrul Sani tahun 1969 itu ditujukan kepada stakeholder pariwisata dan masyarakat Bali.
Apa yang sesungguhnya dicari pengusaha, pejabat, dan masyarakat Bali dari pariwisata? Apakah beramai-ramai berburu dollar atau menjaga alam dan budaya Bali agar tetap lestari? Dan kini pertanyaan itu terjawab. Pariwisata menjadi sektor andalan Bali dan Indonesia. Nyaris tak ada satu jengkal pun lahan yang tak tersentuh pariwisata.
Pertanyaan berikut yang kerap dilontarkan Profesor Manuaba dalam berbagai seminar nasional dan internasional adalah: ”Bali untuk Pariwisata atau Pariwisata untuk Bali?”. Pertanyaan yang sangat substantif dan filosofis. Pertanyaan itu pun kini telah terjawab. Bali telah diobral untuk pariwisata. Bali saat ini semakin tergantung dari pariwisata.
Memang banyak yang diuntungkan dari pariwisata Bali. Namun ada pula yang beranggapan, hanya segelintir orang yang benar-benar menikmati pariwisata untuk kesejahteraan hidupnya. Selebihnya, Bali dinikmati oleh para investor dan pejabat pusat yang ikutan mendulang bisnis di Bali. Bahkan orang asing begitu mudah memiliki villa dan properti lain di Bali.
Masyarakat pun terpaksa dan dipaksa oleh keadaan untuk terjun bebas di sektor pariwisata. Alih profesi bukan hal baru di Bali. Petani dan nelayan banyak yang tak lagi mencangkul dan melaut. Pariwisata menjadi ladang garapan baru. Pariwisata menjadi majikan baru bagi masyarakat Bali.
Daya Dukung
Daya dukung wilayah (carrying capacity) sering pula dilontarkan Profesor Manuaba ketika bicara tentang pengembangan pariwisata. Bali perlu dikembangkan dengan memperhatikan daya dukung wilayahnya. Berapa luas wilayah Bali, Berapa kamar hotel yang diperlukan, dan berapa jumlah wisatawan yang diharapkan. Jangan sampai Bali menjadi destinasi wisata yang sarat beban.
Lontaran Profesor Manuaba menjadi kenyataan. Bali kini sedang diambang overtourism. Meski ada yang kurang sependapat dengan kondisi tersebut, kenyataannya secara kualitatif Bali banyak menyandang masalah dengan serbuan wisatawan. Perilaku wisatawan sulit dikendalikan, melecehkan norma, adat, dan tradisi Bali. Wisatawan mulai berperilaku brutal dan beringas.
Wisatawan terus berdatangan, dibarengi dengan pembangunan kamar hotel yang tiada henti. Sehingga seolah Bali masih mampu menampung wisatawan sebanyak mungkin. Akibatnya, persaingan harga kamar hotel menjadi tidak sehat. Banyak kamar hotel dan villa yang dijual murah, sehingga mematikan hotel lain yang mencoba mempertahankan harga kamar sesuai kualitasnya.
Kongesti atau kemacetan lalu lintas sudah 39 tahun yang lalu diprediksi oleh Profesor Manuaba. Bali, khususnya Badung dan Denpasar akan mengalami kemacetan lalu lintas sebagai dampak perkembangan pariwisata. Hal itu disebabkan oleh panjang dan lebar jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan di Bali yang terus bertambah. Selain itu, banyak pertokoan dan rumah makan di Bali yang tidak memiliki lahan parkir memadai. Sehingga makin menambah kemacetan lalu lintas.
Pariwisata juga dikatakan sangat rakus pada sumber daya alam dan lahan. Jika tidak dibarengi dengan political will yang baik, maka akan terjadi eksploitasi dan kerusakan alam di Bali. Kondisi ini mulai terjadi di Bali.
Kerusakan lingkungan sebagai imbas pariwisata dialami Bali. Banyak lahan produktif yang kini berubah menjadi resort wisata. Investasi besar-besaran melanda Bali. Sementara masyarakat Bali sendiri kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk kepentingan sehari-hari.
Dislokasi budaya menjadi kekhawatiran waktu dahulu. Bukan hanya pada perubahan perilaku, tetapi juga orientasi seni budaya yang cenderung memenuhi kehendak pasar wisata. Kini, orientasi itu menjadi nyata. Banyak pertunjukan kesenian untuk wisatawan yang bukan hanya dipentaskan di sanggar kesenian atau pelataran pura, tetapi juga di halaman sebuah mall.
Terbaru, masyarakat Bali kini disuguhkan dengan isu tarian Joged Bumbung jaruh (porno) yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Perlu kajian mendalam dari perspektif sosiologis, antropologis, ekonomi, religi, maupun yuridis. Apakah tarian itu memang produk budaya asli Bali yang sudah ada sejak dulu ataukah ekses dislokasi dan komodifikasi budaya atas nama pariwisata. Faktanya, sebagian dari masyarakat Bali sendiri pernah menolak diberlakukannya Undang-Undang Pornografi.
Perubahan perilaku bukan hanya melanda masyarakat Bali. Imitasi perilaku wisatawan oleh masyarakat dibarengi pula oleh perilaku wisatawan yang justru bertentangan dengan norma, adat, dan tradisi Bali. Beberapa kasus pelecehan terhadap tempat-tempat suci di Bali dilakukan wisatawan. Perilaku negatif wisatawan ini tentu saja akan berdampak pada dislokasi budaya.
Salah satu dislokasi budaya yang kini mengancam Bali adalah keberadaan Subak. Sebagai warisan budaya dunia yang ditetapkan UNESCO pada tahun 2012, kini Subak di Bali tak lagi seperti dulu. Subak terancam tergusur oleh kepentingan pariwisata, sehingga suatu ketika sawah yang dikelola secara adat dan tradisi itu hanya akan menjadi riwayat tempo dulu.
Masih banyak pemikiran futuristik Profesor Manuaba tentang pariwisata Bali. Dan selayaknya Bali memang harus dikembangkan dengan konsep pariwisata yang futuristik. Dengan demikian, Bali dengan segala potensi alam dan budayanya masih bisa bertahan untuk hari ini dan masa depan. [T]
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...