DI panggung bagian utara, di sisi kiri patung Singa Ambara Raja, para penabuh gong kebyar Sanggar Wahana Santhi dari Desa Umejero, Busungbiu, Buleleng, menempati posisi masing-masing. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan yang masih muda. Campur. Menjunjung kesetaraan khas zaman baru yang keluar dari sekat-sekat norma lama yang membatasi perempuan.
Sedangkan, masih di panggung yang sama, di sisi kanan patung tersebut, penabuh-penabuh muda dari Sanggar Seni Santhi Budaya Singaraja juga sudah berada di posisi masing-masing. Kedua sanggar tersebut, Wahana Santhi dan Santhi Budaya, bersiap untuk mebarung dalam pagelaran Festival Kebyar Kasih Pertiwi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB di Taman Bung Karno Singaraja, Minggu (21/7/2024) malam.
Penabuh perempuan Sanggar Wahana Santhi | Foto: Son
Lampu sorot mengarah ke sisi kiri, di mana penabuh Sanggar Wahana Santhi berada. Penonton bergeming. Menunggu gamelan kebyar dimainkan. Dan dengan sekali entakan, Tabuh Kreasi Palguna Warsa dimainkan. Tabuh ini menjadi pembuka gong mebarung malam itu.
Palguna Warsa, sebagaimana sinopsis yang dibacakan pembawa acara sebelum pertunjukan dimulai, diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1968. Secara kompositorik, komposisi ini dirangkai oleh interupsi tekstur gineman yang terfragmentasi ke dalam kelompok melodi singkat kontra-siklis.
Seakan tak mau kalah, setelah Palguna Warsa---komposisi gubahan ketiga yang dibawakan dengan tekstur kebyar, setelah sebelumnya Wayan Lotring mengaransemen komposisi yang sama untuk ensambel palegongan itu---dituntaskan, penabuh Santhi Budaya menyambutnya dengan Tabuh Suara Bang.
Penabuh Sanggar Seni Santhi Budaya | Foto: Son
Tabuh tersebut diciptakan oleh Wayan Gede Arnawa pada tahun 2005. Suara Bang terinspirasi dari tabuh-tabuh pemungkah, seperti Jaya Semara untuk memberi kesan semangat, berani, singkat, padat, dan tegas dalam mengawali suatu acara. Dalam tabuh ini, ada gerakan-gerakan dan sorakan-sorakan dari penabuh. Sepertinya itu tak sekadar tempelan, tapi penggenap semangat suka-cita yang barangkali menjadi karakter tabuh ini.
Setelah sama-sama memainkan satu tabuh, kini saatnya kedua sanggar menampilkan tari-tarian. Masing-masing sanggar mementaskan dua tarian. Sanggar Wahana Santhi memilih Tari Mregapati (1942) karya Nyoman Kaler dan Tari Wiranjaya karya Ketut Merdana. Sedangkan Santhi Budaya mementaskan Tari Tenun (1957) karya I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes dan Tari Trunajaya karya Gde Manik.
Tari Mregapati | Foto: Jaswanto
Di atas panggung, para penari dan penabuh saling unjuk kebolehan. Fokus dan tak ingin membuat kesalahan. Anak-anak muda itu bersuka-cita memainkan karya-karya yang mereka warisi dari seniman terhahulu.
Ya, tak ada karya baru yang dipentaskan malam itu. Hanya saja komposisi Wiranjaya yang ditampilkan adalah hasil rekonstruksi dari rekaman yang dilakukan oleh seorang etnomusikolog UCLA bernama Ruby Ornstein di Desa Kedis tahun 1964.
Tari Tenun | Foto: Jaswanto
Bebas yang Dibatasi
Karena mementaskan karya “warisan” seniman di masa lalu, para penabuh dan penari itu---pula pembinanya---tentu saja tak benar-benar “berkreasi” kecuali pada tampilan fisik---itu pun masih dalam batas-batas tertentu.
Mereka hanya menampilkan pengulangan-pengulangan dari materi yang sudah ada---atau boleh jadi sudah selesai? Yang tak lagi membutuhkan penggalian untuk mencipta diskursus baru? Bukankah salah satu ketakutan terbesar seniman adalah berhentinya kreativitas dalam menciptakan karya selanjutnya?
Tetapi hal tersebut barangkali tak sungguh benar. Pada sinopsis Tari Wiranjaya, misalnya, Wahana Santhi berusaha mencipta narasi yang mengagetkan dan berani, anggap saja begitu, setelah tegangan antarkelompok kesenian di Singaraja atas bentuk utuh Wiranjaya yang sebenar-benarnya baru saja agak mereda---walaupun tampaknya kata damai jauh panggang dari api karena antarkelompok sama-sama memiliki tafsir.
Tari Wiranjaya | Foto: Jaswanto
Coba simak tiga paragraf di bawah ini:
Perkenalkan, namaku “Wiranjaya”. 77 tahun lalu aku disegani dalam bentuk paripurnaku sebagai Kebyar Buleleng Dauh Enjung, dilahirkan dari rahim seorang ibu yang hanya bertuhan pada waktu, namun selalu diributkan oleh pewarisnya.
Apa daya, ibuku dizalimi waktu, sekadar untuk pulang ke Rumah Abadi. Hari ini, setelah sekian tahun lamanya dari kelahiran baru, ibuku mati lagi untuk kedua kalinya---mati tak kuasa menahan malu. Malu karena tersandra perlakuan saudaraku.
Jika kalian ingin tahu siapa aku, datanglah pada waktu---karena pada dasarnya sikap dan pendirian mereka yang menceritakanku tergantung sepenuhnya oleh waktu.
Dalam hal ini, secara tersurat narasi Wahana Santhi di atas dapat dimaknai sebagai penanda atas penerimaan akan hal baru (artinya penggalian atas Wiranjaya belum sepenuhnya final), tetapi secara tersirat kita dapat melihat bahwa mereka juga tak benar-benar berani mengatakannya, terlebih jika melihat konstum penari mereka malam itu.
Tari Trunajaya | Foto: Jaswanto
Tentu narasi tersebut dapat ditafsir-ganda (multi-interpretation), dengan dimaknai sebagai perjalanan, dan juga dapat dimaknai sebagai petanda akan Wiranjaya yang bergelimang pengaruh hingga berliput paradoks.
Jika kita mengikuti perkembangan wacana Tari Wiranjaya belakangan ini, mudah saja kita mengetahui ke mana arah narasi itu hendak ditujukan. Tetapi itu barangkali juga sebatas kemungkinan. Hanya si pembuat narasi-lah yang benar-benar tahu hendak dibawa ke mana wacana tersebut.
Saya kira, mohon maaf jika saya salah, seniman muda Buleleng hari ini sedang mencari kebenaran atau kebaruan---atau katakanlah menyingkap keutuhan Wiranjaya sebagai salah satu contoh---dalam kondisi yang kontras, antara kungkungan dan kebebasan. Bebas menafsir sekaligus dibatasi “klaim” atas nama gelar akademik, trah keluarga, atau ketokohan seseorang. Perbedaan kondisi tersebut dapat dibaca sebagai konstelasi zaman yang berubah.
Singkat kata, Wiranjaya terasa sangat membingungkan, bercampur baur tanpa kesadaran, hingga pada titik paradoks. Dan naasnya, dengan bangga beberapa orang memetik paradoksal tersebut tanpa daya kritis yang menyertainya.[T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...