TERPILIHNYA Prabowo Subianto menjadi Presiden RI 2024 – 2029 menjadi modal besar bagi Gerindra dalam menghadapi Pilkada Serentak pada 27 November 2024 mendatang. Hasil baik pada Pilpres sebelumnya memberi kepercayaan diri bagi Gerindra. Memenangkan Pilkada adalah salah satu langkah penting bagi Gerindra untuk menyukseskan pelbagai program yang dijanjikan oleh Prabowo – Gibran. Salah satu daerah yang menjadi target bagi Gerindra adalah Bali.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Habiburokhman selaku Wakil Ketua Umum DPP Gerindra. Dirinya menyebutkan bahwa Gerindra mengincar kursi wakil gubernur dan sudah menyiapkan Made Mulyawan Arya (De Gadjah) dalam Pilgub Bali. Target tersebut makin realistis karena Gerindra menorehkan hasil positif di Bali. Bertambahnya 4 kursi di DPRD Bali tentu menjadi nilai tambah bagi Gerindra. Apalagi sang Ketua DPD Gerindra Bali, De Gadjah berhasil menjadi peraih suara terbanyak di Kota Denpasar dengan perolehan 49.091 suara.
Paket Mantra – Mulya
Jelang Pilkada, nama-nama potensial pun bermunculan di ruang-ruang publik. Figur Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra (Rai Mantra) mulai dipasangkan dengan De Gadjah untuk melaju ke Pilgub Bali. Pasangan ini mendapat dukungan oleh partai-partai politik di Bali yang tergabung dalam KIM Plus, yakni Gerindra, Golkar, Demokrat, PSI, Nasdem, PKB, Gelora, Garuda, PKB, PAN, dan Prima.
Rai Mantra merupakan Wali Kota Denpasar 2016 – 2021 yang sebelumnya pernah berkontestasi di Pilgub Bali 2018 berpasangan dengan I Ketut Sudikerta. Meski pada saat itu pasangan Mantra – Kerta kalah dari pasangan Koster – Ace, karir politik Rai Mantra belum sepenuhnya redup. Terbukti pada Pemilu 2024, Rai Mantra berhasil meraih satu kursi DPD RI perwakilan Bali dengan perolehan 494.698 suara.
Kuatnya figur Rai Mantra dan De Gadjah, apalagi mereka cukup populer di sosial media, digadang-gadang akan menjadi penantang tangguh bagi pasangan yang diusung oleh PDIP, selaku partai dominan di Bali. Namun alih-alih semakin kuat dan serius, wacana pasangan Mantra – Mulya justru semakin melempem dan hilang tertiup angin. Tidak adanya sambutan hangat dari Rai Mantra menjadi salah satu faktornya.
Berbeda dengan De Gadjah yang merupakan seorang anggota partai, Rai Mantra adalah figur individu merdeka. Rai Mantra tentu harus mempertimbangkan banyak hal sebelum menerima pinangan KIM Plus sebagai bakal calon gubernur Bali. Taruhannya begitu besar apabila Rai Mantra menerima pinangan ini, apalagi dirinya baru saja terpilih sebagai Senator perwakilan Bali untuk lima tahun ke depan.
Jika pasangan Mantra – Mulya tetap maju dalam kontestasi Pilgub Bali 2024, maka baik Rai Mantra dan De Gadjah harus membuat surat pernyataan bersedia mengundurkan diri jika telah dilantik secara resmi menjadi anggota DPD RI dan anggota DPRD provinsi sesuai amanat Putusan MK Nomor 12/PUU-XXII/2024. Artinya akan ada satu kursi DPD RI perwakilan Bali yang kosong karena ditinggalkan Rai Mantra dan satu kursi DPRD Provinsi Bali dapil Denpasar yang ditinggalkan De Gadjah.
Semua skenario harus disiapkan dalam politik, termasuk skenario terburuk. Apa yang akan terjadi apabila pasangan Mantra – Mulya gagal menjadi pemenang di Pilgub Bali? De Gadjah mungkin saja akan kembali melakukan aktivitas politiknya sebagai Ketua DPD Gerindra Bali, tetapi bagaimana dengan Rai Mantra? Poin inilah yang harus disiapkan oleh KIM Plus apabila serius ingin Rai Mantra kembali berkontestasi di Pilgub Bali.
Belum adanya “garansi” terhadap Rai Mantra dapat menjadi salah satu faktor mandegnya wacana pasangan ini, meski sudah dideklarasikan oleh 11 partai politik. KIM Plus harus menyiapkan tempat berlabuh bagi Rai Mantra apabila pasangan Mantra – Mulya gagal dalam Pilgub Bali. Hal ini tentu realistis, mengingat untuk bersedia maju menjadi calon gubernur, Rai Mantra harus meninggalkan kursi DPD RI yang sudah diraihnya dengan cost politics yang tentu saja tidak sedikit jumlahnya.
Menipisnya potensi terwujudnya pasangan Mantra – Mulya, memunculkan paket pasangan baru, yakni Cantiasa – Mulya. Mantan Danjen Kopassus yang kini duduk di kursi Wakil Kepala Badan Intelejen Nasional (Waka BIN) tersebut belakangan santer dipasangkan dengan De Gadjah. Figur Cantiasa yang berangkat dari kalangan militer dinilai memahami teritorial dan dapat membaca potensi-potensi yang harus digali oleh Bali.
Tidak seperti pasangan Mantra – Mulya yang terlihat digarap secara serius oleh KIM Plus Bali, pasangan Cantiasa – Mulya terkesan hanya sekadar “tes ombak” alias hanya ingin mencari tahu respon publik terhadap pasangan ini. Bahkan kedua belah pihak, baik Cantiasa dan De Gadjah tidak berkomentar banyak dan mengembalikan hal tersebut kepada rakyat dan utamanya pimpinan partai politik yang memiliki kewenangan mengeluarkan surat rekomendasi.
Apapun Dinamika Politik Daerah, Penentunya Tetap Jakarta
Baru-baru ini terjadi peristiwa politik yang patut diperhatikan, yakni pertemuan antara I Wayan Koster dan De Gadjah. Pertemuan dua poros kekuatan politik Bali tersebut setidaknya berhasil memberi warna baru bagi dinamika politik Bali. Komunikasi politik dua kubu ini mengindikasikan satu hal menarik, yakni mulai tidak percaya dirinya PDIP di kandang sendiri. Kekhawatiran ini menjadi masuk akal tatkala mengingat pasangan Ganjar – Mahfud babak belur di Bali yang notabene adalah “kandang banteng”.
Terlalu dini jika menyimpulkan pertemuan dua tokoh politik tersebut adalah tanda akan terbangunnya koalisi “merah putih” seperti yang ramai diperbincangkan publik. Faktor yang menghambat terwujudnya koalisi antara PDIP dan Gerindra adalah soal calon yang diusung. Berbeda dengan Gerindra yang sudah bulan mengusung De Gadjah. Situasi internal PDIP justru menunjukkan hal berbeda. Masih panasnya persaingan antara Koster dan Giri dalam merebut rekomendasi calon gubernur dari DPP PDIP menunjukkan bahwa persoalan di internal PDIP Bali belumlah usai.
Pada akhirnya rakyat Bali harus menunggu keputusan dari para Ketua Umum partai politik di Jakarta. Surat rekomedasi yang dibubuhi tanda tangan ketua umum dan sekretaris jenderal menjadi modal utama untuk melenggang ke dalam perebutan kursi Bali 1 dan 2. Selain itu, seperti kata Gde Sumarjaya Linggih alias Demer, penting untuk mengetahui siapa yang sekiranya siap membiayai pasangan cagub dan cawagub yang akan bertanding nanti? [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...