Malam Minggu bagi “Darah Muda”: Tak Sekadar Pacaran
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
MENDENGAR nama Ken Dedes, kita tahu, ia dijuluki Ardhanariswari, sebuah simbol sempurna atas keseimbangan perempuan dan laki-laki. Dan, perempuan, di Asia Tenggara, sebagai subjek menduduki posisi yang otonom . Inilah yang menjadi diskursus gender yang disepakati oleh sejarawan bernama Anthony Reid, didukung oleh kehadiran buku ‘Kuasa Rahim’ yang ditulis oleh Barbara Watson Andaya.
Kamis 11 Juli 2024, nDalem Hanoman Yogyakarta yang berlokasi tak jauh dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan dipadati oleh para penggila sejarah. Ada yang berbondong-bondong datang dari departemen Sejarah Universitas Indonesia.
Mereka rela datang menempuh perjalanan jauh. Ada pula teman-teman mahasiswa dari kampus Universitas Sanata Dharma, UGM, dan UNY yang antusias ingin mengikuti diskusi.
Kala itu Barbara Watson Andaya dan Leonard Y. Andaya menggelar bedah buku karya mereka yang belum lama diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Buku ‘Kuasa Rahim’ menyorot diskursus gender dalam garis sejarah. Sejauh penggalian Andaya, ada kekosongan kajian dan pendokomentasian sejarah gender dalam wilayah geografis dan kultur Asia Tenggara.
Lantas bagaimana posisi perempuan dalam catatan sejarah kita? Apakah masih menunjukkan keberpihakan pada dunia barat? Diskusi bertajuk ‘Kongkow Sejarah: Otonomi Perempuan dan Akar Kebinekaan di Indonesia’ hadir untuk membicarakannya.

Andaya mencatat bahwa ada kesatuan kultural di Asia Tenggara, yakni tentang kita yang menganut hubungan garis ibu atau maternal line. Rezim gender turut memperlihatkan bahwa perempuan memiliki pengalaman kolektif menyoal reproduksi biologis.
Pengalaman ini menghasilkan ambivalensi atau perasaan mendua yang kadangkala meligitimasi hal-hal tertentu, seperti menstruasi, menikah, melahirkan, hingga menopause.
Dalam perjalanan riset etnografisnya mengkaji sejarah Asia Tenggara, sang penulis menjumpai upacara dan ritual yang merayakan pelepasan status keperawanan. Sementara dalam dimensi religius yang ditelaah, agama di dunia banyak mengajarkan konsep-konsep tentang kesenjangan gender.
Asia Tenggara di sisi lain punya warna dan identitas yang berbeda apabila hendak dibandingkan dengan Asia Selatan dan Asia Timur yang tidak mengalami keterputusan keleluhuran.
Kembali pada persoalan perempuan sebagai subjek yang otonom, ada realitas yang sungguh berbeda dengan dunia barat. Sang penulis mengaku banyak menjumpai kisah perempuan bangsawan yang berani menolak dan menegosiasikan hierarki gender di Asia Tenggara.
Mereka punya posisi kuat bahkan dalam perdagangan, pertanian, dan ritual. Ibu Andaya juga menggunakan terma ‘premodern’ dalam pembabakan sejarah yang dituangkan untuk menghindari wacana kolonial.

Salah seorang audiens sempat bertanya tentang bagaimana posisi dari kecantikan perempuan di Asia Tenggara, apakah itu menjadi persoalan krusial? Tidak panjang lebar, Andaya menjawab bahwa segala hal akan berbeda di kala kamu memiliki wajah yang cantik. Dalam hal karir, dan dalam dunia modern di seluruh dunia, kecantikan selalu bersifat menguntungkan. Konsensus yang secara hegemonik telah menjadi standar kebenaran.
Belum sempat menjelaskan proses menghimpun data riset, seorang audiens bertanya soal tantangan dan kurun waktu yang dihabiskan. Pengumpulan data sejarah memakan waktu yang amat panjang sebagaimana yang dikatakan Andaya.
Sang penulis tidak mendapatkan data dari satu sumber saja. Ia mengakui usia sebagai penentu dari sebuah produktivitas berkarya. Ketika muda, tidak mungkin karya ini bisa selesai. Pergerakan waktu justru membawa dirinya menghimpun informasi dan memori yang kian banyak untuk dituangkan.

Sesi bedah buku belum memberi kepuasan karena dihalangi keterbatasan waktu. Para audiens tidak mau kehilangan kesempatan dan segera membeli buku untuk ditandatangani Andaya. Ia sangat mengapresiasi ketertarikan generasi muda pada sejarah perempuan, terlebih melihat dikotomi antara pusat dan yang tidak di pusat arus utama. Masih ada generasi muda yang berdedikasi untuk menjadi sejarawan yang menakar peristiwa masa lalu dari perspektif minor dan alternatif.
Hari itu langit begitu cerah dan Yogyakarta selaku kota yang melekat dengan filosofinya, semakin membuka diri untuk penyelenggaraan diskusi serupa di masa mendatang. Ada harapan cerah bagi keilmuan sejarah yang kelak bisa membongkar hal-hal yang belum terungkap, bahkan dari akar rumput dan suara-suara kaum yang termarjinalkan. [T]

PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
SEBAGAI mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bergerak dalam bidang keguruan, tentu “kegiatan mengajar” tidak lagi asing di telinga mereka. Bahkan “kegiatan mengajar” ak...
Bapak/Ibu Guru yang kami cintai, pidato ini saya buka dengan kutipan dari penyair Kahlil Gibran… “Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.” BEGITU bijaknya Ka...
GENERASI yang cerdas dan berakhlak mulia terwujud dari adanya guru yang cerdas dan berkompetensi. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha. Dewasa ini, guru...
MELIHAT pendidikan Indonesia memasuki milineum ketiga, ketika teknologi digital melahirkan generasi baru (generasi Y), makin kentara paradoks dunia pendidikan, biang kerok stagnasi...
SEBUAH percakapan mengejutkan di ruang kelas: Saya : Anak-anak, kalian punya cita-cita? Ada yang jawab punya, ada yang menjawab tidak. Saya lontarkan pertanyaan ini kepad...
DUNIA ini adalah panggung sandiwara. Tuhan penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktornya. Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenari...
POLITIK mungkin sesuatu yang asing bagi saya terutama mengenai politik praktis. Memang sedikit paham, secara garis besar politik didefinisikan sebagai “ilmu mempengaruhi”. Sebagai...
HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30. Namun entah mengapa, matahari bersinar begitu terik. Meski begitu, suasana di Lapangan Umum Desa Bebetin, terlihat riuh. Pu...
MEDIA massa baik itu cetak maupun elektronik setahu saya adalah sebagai “tukang lapor” kepada masyarakat luas terhadap apa yang terjadi pada suatu tempat dan suatu waktu di belahan...