Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
DUA malam di Chiang Mai, saya melanjutkan perjalanan ke Pai—sebuah kota kecil di utara Provinsi Mae Hong Son Thailand, dekat perbatasan Myanmar, sekitar 146 km barat laut Chiang Mai di rute utara ke Mae Hong Son.
Perjalanan ke Pai membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam berkendara dari Chiang Mai. Karena itulah, berhubung sudah punya dan membawa SIM internasional, saya memutuskan untuk menyewa sepeda motor. Syaratnya simpel, hanya butuh Passport, SIM internasional, dan bayar sesuai dengan tipe motor yang disewa.

Beberapa hari ini Chiang Mai dan sekitarnya memang agak mendung dan basah. Untuk itu saya memutuskan berangkat ke Pai pada saat pagi hari. Motor sewaan ini membawa saya membelah bukit dan memasuki kawasan taman nasional. Hal ini mengingatkan saya saat berkendara di setengah kawasan Kintamani sampai ke Bali Barat. Suasananya bikin dejavu.
Sebelum melanjutkan perjalanan, saya berhenti di sebuah tempat ngopi sembari mendinginkan motor dan mengisi perut yang sudah lumayan berontak. Kaohsiung, kuliner sejenis soto, menjadi pilihan saya. Perut sudah terisi, mesin motor sudah stabil, saya melaju menuju Pai.

Saya sampai di Pai. Dan saya penasaran seperti apa suasananya dan apa yang membuat desa ini sangat spesial bagi para pelancong?
Dalam banyak artikel di internet, Pai disebut-sebut sebagai sebuah oasis yang tenang dan tersembunyi di lembah-lembah rimbun Thailand Utara. Dikenal dengan pemandangannya yang menakjubkan, suasana yang tenang, dan budaya yang semarak, Pai menjadi tempat peristirahatan yang sempurna bagi para pelancong yang ingin melarikan diri dari kehidupan kota yang ramai.

Perbukitan dan ladang pertanian serta saluran irigasi mengitari semua sudut, kanan-kiri, desa ini. Lanskap tersebut mengingatkan saya akan Bali, Ubud, bahkan desa saya sendiri, Desa Les, dulu, di mana padi dan semua selokan (telabah) masih mengalir dengan deras dan jernih.
Di Pai, saya menginap di penginapan yang berdiri tepat di tepi Sungai Pai. Di sini, semua tempat menginap berada di sisi-sisi ladang pertanian. Mungkin ini konsep yang diinginkan pemangku kebijakan pariwisata di Thailand dalam mengembangkan wisata yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.


Benar. Tempat penginapan rata-rata milik warga lokal, berdampingan dengan tanah pertanian mereka. Ini yang jarang terjadi di Bali. Di Bali, khususnya di daerah pariwisata, tak banyak penginapan yang dimiliki penduduk lokal. Kondisi seperti ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan.
Menutup petang sembari makan malam saya berkunjung ke Pai Walking Street. Tempat di mana para pedagang makanan , minuman, dan cafe bertumpah ruah dengan pengunjung dari berbagai negara.
Di Pai Walking Street inilah saya sadar kenapa desa ini begitu spesial. Saya pikir, itu karena mereka menyambut pengunjung dengan apa adanya—tidak dengan keramah-tamahan palsu yang dibikin-bikin.

Di sini, mau menginap silakan, mau belanja silakan, mau makan silakan, tanpa ada perbedaan dan semua menikmati keindahan alam yang sama. Layaknya desa di masa lalu, di Pai semua orang bersuka cita, bukan lo-lo, gua-gua.[T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...