Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
UNTUK pertama kalinya, seni-budaya Ukraina disuguhkan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB), sejak hajatan seni ini digelar tahun 1979.
Suguhan seni ini berlangsung dalam program Rekasedana (performance) Ukrainan Music, Song and Dance, SLAVA Ukrainian Culture Center, Ukraine, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Selasa (9/7/2024).
Ada sebanyak 30 penari termasuk pengantar yang sangat senang dapat memeriahkan PKB. Pementasan budaya Ukraina ini dirangkaikan dengan Bali World Cultural Celebration (BWCC) yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Pergelaran dimulai pukul 19.00 WITA itu, SLAVA Ukrainian Culture Center menampiljan instrumen musik tradisional Ukraina yang disebut Bandura.
Jenis musik ini dimainkan untuk pertama kali di Bali dan Indonesia. Pengunjung menyaksikan tarian tradisional bangsa Cossack dan tarian modern dalam balutan busana tradisional Ukrainia yang disebut Vyshyvanka.
Pada malam itu, Pusat Kebudayaan Slava Ukraina itu mernampilkan 11 suguhan seni, yaitu Pryvit dance, Ambasador Vasyl Hamianin (spech) (wirless), Larysa Kovalchuk On Bandura.
Ada Tambourine dance, Hopak dance, Bandura, Mavka dance, Kupala fire dance, Larysa Kovalchuk on Bandura play, Vesnianka/kozatskiy dance dan Kolomiyka.
Komunitas Ukraina di Bali yang didorong oleh Konsulat Kehormatan Ukraina di Denpasar dan didukung oleh Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta menyuguhkan pementasan budaya Ukraina ini.
“Para penari, penyanyi dan pemusik itu didaytangkan khusus dari Pusat Kebudayaan Slava Ukraina di Adelaide, Australia Selatan,” kata Konsul Kerhormatan Ukraina Denpasar, Bali, I Nyoman Astama, SE, MM, CHA usai pementasan.
Menurutnya, ini merupakan upaya kontribusi Ukraina kepada seni dan budaya dunia khususnya Bali dengan berpartisipasi melalui pementasan budaya Ukraina di Bali Arts Festival.
Hal ini juga menunjukkan keberadaan budaya Ukraina di tengah situasi yang sangat tidak mudah pada saat ini. Karena Ukraina sedang dalam kondisi perang.
“Harapan kami, melalui seni dan budaya, kita bisa menciptakan perdamaian bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Ini merupakan salah satu bukti nyata dalam implementasinya,” ujarnya.
Dalam situasi yang penuh tantangan, kolaborasi, semangat kebersamaan dan penghargaan kepada seni dan budaya, maka perdamaian dan kemajuan untuk peradaban umat manusia bisa terwujud.
Pementasan budaya Ukraina ini berkat kolaborasi dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Pusat Kebudayaan Slava Ukraina di Adelaide, Australia, Komunitas Warga Ukraina di Indonesia, Konsulat Kehormatan Ukraina di Denpasar Bali, Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta.
Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Provinsi Bali, I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra yang hadir pada peregelaran tersebut mengapresiasi sajian seni dari Ukraina ini.
Tampilan dari negara-negara peserta BWCC ini semakin memperkaya kasana budaya Bali. Masyarakat Bali, khususnya para seniman di Nali juga mendapat tampilan yang baru.
“Tampilan kesenian baru itu sekira nantinya terjadi akulturasi budaya antara budaya Bali khususnya dengan negara Ukraina,” ucapnya.
Ini pertama kali kesenian dari negara Ukraina ikut tampil di ajang PKB. Para penari dan pemusik Ukranina sangat senang bisa tampil di festival seni di Pulau Dewata.
“Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta mengaku sangat senang budaya Ukraina bisa tampil di ajang PKB ini. Mudah-mudahan tahun depan, juga bisa tampil,” harap Kadis Kartika Jaya Seputra.
Walaupun saat ini negara Ukraina ada peperangan, tetapi mereka bisa tetap tampil di Indonesia khususnya di Bali. “Dengan seni budaya ini, semoga negara-negara di dunia bisa bersatu,” harapnya.
Sebab, dalam hajatan ini tidak aga kepentingan lain selain menghomati seni sebagai hasil karya dari budaya manusia itu sendiri. “Kita sepakat negara-negara di dunuia menghargai budaya,” ucapnya. [T][Pan]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...