MUSEUM Le Mayeur di Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu 6 Juli dan Minggu 7 Juli 2024, disulap menjadi ruang kesenian bagi anak-anak dan remaja. Aghumi dengan program Ni Pollok Bercerita: Studi Tur Performatif Museum Le Mayeur telah menghidupkan nilai-nilai yang diwariskan Ni Pollok dan Le Mayeur.
Hari pertama, merupakan pembukaan acara yang dihadiri oleh Plt. Kepala UPTD. Museum Bali, I Made Artana Yasa sekaligus membuka acara. Di hari yang berbahagia ini keluarga dari Le Mayeur juga turut hadir. Martine Pille sebagai perwakilan keluarga Le Mayeur di Belgia mengungkapkan bahwa Uncle Boy (sebutan untuk Le Mayeur di keluarga) adalah sosok yang inspiratif dan nyentrik.
Made Astika selaku perwakilan keluarga Ni Pollok juga turut hadir memberikan sambutan sekaligus momen menyampaikan harapan kepada pemerintah, agar terus dapat bersinergi dan aktif bekerjasama untuk menjaga warisan dari pasangan seniman Le Mayeur dan Ni Pollok.
Penyerahan Cindera Mata kepada Keluarga Le Mayeur
Sambutan dari Plt. Kepala UPTD. Museum Bali, I Made Artana Yasa
Sambutan dari perwakilan keluarga Ni Pollok, Made Astika
Sambutan Keluarga Le Mayeur oleh Martine Pille
Usai pembukaan yang hangat, dilanjutkan dengan lomba tari kontemporer site spesifc dance. Juri terdiri atas Ni Putu Aristadewi, I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, I Wayan Sumahardika. Tak seperti lomba tari kebanyakan, lomba tari kontemporer ini mengajak peserta untuk menggunakan bingkai Site Spesific Dance sebagai metode dan basis penciptaan karya.
Secara umum, Site Spesific Dance diartikan sebagai pertunjukan tari yang dirancang untuk ada di suatu tempat tertentu, di luar panggung teater. Site Spesific Dance berupaya untuk mempertanyakan, membuka dan/atau menolak batasan panggung pertunjukan konvensional umum dengan mengeksplorasi ruang-ruang alternatif seperti trotoar, bandara, hingga jembatan bangunan. Koreografer membentuk kembali gagasan konvensional kita tentang pertunjukan. Dalam konteks ini, material lomba akan menggunakan kawasan Museum Le Mayeur dan sekitarnya sebagai basis penciptaan.
Adapun pemenang Tari Kontemporer Site Spesific Dance yakni:
Juara 1 : Nyoman Pasek Meisa Gunawan
Juara 2 : Ni Made Ari Yanti Putri Negara
Juara 3 : Santi Sukma Melati
Penampilan Peserta Tari Kontemporer Site Spesic Dance
Kegiatan hari kedua pada Minggu, 7 Juli 2024 pukul 09.00 dibuka dengan monolog "Tur Performatif Museum Le Mayeur" yang diperankan Santi Dewi. Tak hanya memerankan sosok Ni Pollok dalam monolognya, Santi Dewi juga yang membuat naskah monolognya.
Pementasan dimulai saat Gek Santi memulai monolognya dari pantai dengan melakukan gerakan sederhana yang biasa dilakukan oleh Ni Pollok saat dulu. Lalu perlahan berjalan menuju pintu masuk dan berdialog kepada para pengunjung, memperkenalkan Museum Le Mayeur dan membagikan tiket masuk berupa kartu dan beberapa stiker dengan gambar wajah Ni Pollok, Le Mayeur, dan logo Aghumi.
Para pengunjung sangat antusias menerima kartu dan stiker yang dibagikan oleh panitia. Lalu pentonton dibawa masuk untuk melihat koleksi lukisan dari Le Mayeur sambil menceriyakan latar belakang kehidupannya.
Penampilan Tur Performatif
Penampilan Tur Performatif
Karirnya sebagai penari, model, tentang bagaimana pertemuannya dengan Le Meyeur, bagaimana kehidupan rumah tangga bersama suaminya, hingga pergolakan batin Ni Pollok sebagai seorang istri dan perempuan. Pementasan ini memberi dedikasi yang kuat terhadap seni. pengunjung dibuat terpukau dengan dialog:
"Apakah tubuh wanita ini hanya untuk seni?
manakah yang lebih penting, seni atau anak?
atau anak dari seni?”
Tak hanya itu pengunjung juga terpukau oleh ornamen - ornamen didalam museum. Anak- anak peserta lomba menggambar juga ikut serta dalam tur performatif museum juga sangat memperhatian detail di dalam museum.
Usai terlibat dalam tur performatif, para peserta menggambar langsung mengambil posisi untuk berkarya. Lomba Menggambar dengan tema “Mengenal Bahari melalui Impresionisme Le Mayeur”, telah didampingi oleh 3 dewan juri yakni Ni Nyoman Sani, Ni Wayan Penawati, dan Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan. Ada pun pemenang-pemenang lomba menggambar Tingkat SD ini yakni:
Juara 1 : I Made Bagus Ananta Tristan Darma
Juara 2 : Kadek Bayu Pradana Adinata
Juara 3 : Ni Putu Taniya Melika Putri
Melihat ruang museum Le Mayeur yang begitu sarat dengan narasi sejarah dan visual museum yang sangat indah, diharapkan berpartisipasi dalam kegiatan sebagai peserta lomba untuk bersama-sama mengaktivasi Museum Le Mayeur.
Sebelum acara penutupan, para pengunjung di suguhkan pementasan drama musikal oleh aghumi yang bertajuk "Rahim Bahari", karya dan penyair perempuan yang dijadikan sumber musikalisasi yakni: (1) “Di Depan Gerbang Pulau Serangan” Reina Caesilia (1965), (2) “Stateless” Nur Wahida Idris (1976), (3) “Majene” Mira MM Astra (1978), (4) “Melankolia Senja Hari” Putu Vivi Lestari lahir tahun (1981), (5) “Gadis-gadis Tanjung Benoa” Saras Dewi (1983), (6) “Baruna” Pranita Dewi lahir tahun (1987), (7) “Sanur” Ni Made Purnamasari lahir tahun (1989), (8) “Kota dalam Ingatan” Ni Wayan Idayati (1990).
Pementasan drama musikal rahim bahari
Pertunjukan ini digagas oleh Wulan Dewi Saraswati dengan Akmal dan Manipuspaka sebagai penata musik, kemudian ditampilkan oleh Ingga, Bintang, Pritha, Lia, Ayuka, Cemi, dan Keisa. Para pemain begitu menikmati musik dan setiap gerakannya begitupun dengan pengunjung yang menyaksikan pementasan tersebut.
Dengan pendekatan partisipatoris dalam pementasan ini, para pemain juga mengajak para penonton untuk ikut menari diakhir pementasan. Di pengujung acara Aghumi memberikan award kepada Bunda Ratih selalu pendiri narwastu autism learning. "Aduh bunda ga nyangka dikasih award gini, terharu bunda, acaranya keren sekali," ucap Bunda Ratih saat menerima award dari Aghumi.
Penyerahan Aghumi Award 2024
Tak hanya itu Aghumi juga memberikan beasiswa pendidikan kepada Amelia Niscahaya Ningrum salah satu murid berkebuthan khusus yang dengan gigih ingin melanjutkan pendidikan. Aghumi memang sangat membuka ruang untuk anak spektrum autism karena berfokus pada kesehatan mental khususnya mengasah daya cipta seni anak spektrum autisme.
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...