Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
“Desa Bengkala itu desa yang punya komunitas warga tuli dan bisu, di sana ada warga yang belum bisa membaca. Jadi aku ingin mengajarkan mereka membaca, kamu mau ikut?” kata temanku.
Kala itu hanya perbincangan kecil yang membuat rasa penasaran menggebu. Meskipun aku berasal dari Buleleng, namun pengetahuan tentang daerah ini tidak begitu banyak. Akhirnya aku memutuskan untuk menelusuri lebih jauh sebelum menerima tawaran temanku.
Mencatat setiap bagian yang perlu diperbaiki, dari sistem pendidikan hingga sosial. Mencari tahu dari mereka yang lebih lama berada disini, hampir semua mengenal desa Bengkala sebagai tempat yang unik.
“Aku akan pikirkan,” kataku setelah beberapa hari. Aku tahu kegiatan ini berpengaruh baik untuk kehidupan mereka, namun ada tugas yang harus lebih dahulu diselesaikan. Hanya dengan pilihan menerima atau menolak, tapi ini sulit.
Temanku, Desy Antari yang menjadi penggagas pengabdian meyakinkan bahwa kegiatan ini bukan perihal pandai tapi harapan. “Sudah aku susun tim ini, hanya saja dari Pendidikan Bahasa Indonesia belum ada,” begitu ia membujukku.
Jika aku menolak maka ada kesempatan yang hilang, bahkan kesempatan untuk belajar bahasa isyarat pun tidak akan terpenuhi. Kalian tahu? Aku tertarik belajar bahasa isyarat sejak menonton film “Widya Jemari Jiwaku Menari” dari KKKS Kota Denpasar. Maka tentu saja setelah beberapa hari merenungkan pilihan, aku menerima tawaran temanku. Kalau kata pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Pertemuan pun terjadi. Sebagai orang terakhir yang bergabung dalam kegiatan ini, aku merasa canggung dan ragu untuk menyapa mereka di online grup. Sejenak terlintas hanya aku yang berbeda fakultas dari mereka. Tentu mereka menyambutku dengan baik.
Beberapa hari kemudian, kami pun mulai berdiskusi terkait pengajuan proposal pengabdian. Setiap Universitas pasti tidak asing dengan keberadaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), begitu juga dengan Universitas Pendidikan Ganesha. Ya, kami berniat untuk mengajukan ide ini pada Simbelmawa untuk memperoleh pendanaan.
Dalam kegiatan ini, kami akan berupaya untuk menurunkan angka tuna aksara pada warga kolok (tuli dan bisu) di Desa Bengkala. Melalui diskusi dengan Ibu Dr. Putu Nanci Riastini, S.Pd., M.Pd sebagai dosen pendamping, kami menyelesaikan proposal dengan baik.
Meskipun beberapa perbaikan terjadi karena tulisan belum fokus pada permasalahan. Bertemu dari hari ke hari hingga pagi berganti petang, dan sampai pada penyusunan terakhir. Kami memutuskan menggunakan judul “Pelatihan Kartu Aksara (Aksi Saling Rangkul) Berbasis 3D dalam Menurunkan Angka Tuna Aksara Warga Kolok Sekaa Teruna-teruni Desa Bengkala” dengan ini proposal dinyatakan selesai dan dapat diajukan. Kami yakin perjalanan ini bagian dari proses.
Bulan pun berganti, rasa ragu mulai tercipta kembali. Namun kabar dari Desy Antari selaku ketua PKM-PM ini menggetarkan hati. Bersyukur dengan rasa lelah yang telah mendapat balasan. Kami lolos pendanaan dan memiliki kesempatan untuk mengimplementasikan ide secara nyata dalam bentuk proyek pengabdian masyarakat.
Dalam pengumuman itu tertera nama-nama kami, Luh Desy Antari, Ni Putu Sri Wahyu Dewi, dan Gede Oditya Aresta dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Ni Kadek Putri Santiadi dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Ida Bagus Kade Sudika Puja dari Teknologi Pendidikan.
Perjalanan belum selesai, kami datang ke Desa Bengkala dan mengajak sekaa teruna-teruni untuk bergerak dalam pengentasan tuna aksara pada warga kolok (tuli dan bisu). Terdapat 35 warga kolok dari rentang 15-50 Tahun yang belum mengenal aksara, tentu bukan hal yang wajar.
“Yang ada di Desa Bengkala ini warga kolok yang tidak bisa baca, padahal kita tahu kan kalau Singaraja kota pendidikan,” kata Desy Antari sejak pelatihan berjalan.


Momen pelatihan sekaa teruna-teruni dan warga kolok | Foto oleh: Oditya Aresta
Program ini mendapatkan respon positif dari perangkat desa setempat, sekaa teruna-teruni, dan warga kolok (tuli-bisu) di Desa Bengkala. Mereka antusias memberikan pelatihan membaca permulaan kepada warga kolok, dengan sedikit canda tawa membuat situasi terasa hangat. Bagi kami lolos proposal PKM-PM menjadi semangat tersendiri dan ajang untuk bergerak membantu pemerintah desa. Tentu harapannya kedatangan kami membawa pengaruh positif untuk mereka.
Kami melaksanakan pengabdian selama 4 bulan di Desa Bengkala dengan tiga tahap, yaitu pelatihan, pendampingan, dan SiBaLok (Kompetensi Baca Kolok). Selain itu, kami juga membuat media berupa kartu baca Aksara (Aksi saling rangkul) yang membantu sekaa teruna-teruni di Desa Bengkala dalam pengentasan tuna aksara.
Mengapa kartu Aksara? Sesuai dengan singkatannya, yaitu Aksara (Aksi saling rangkul). Kami ingin semua warga di Desa Bengkala saling merangkul dan bertumbuh bersama membangun desa yang lebih baik, dari sistem pendidikan hingga sosial. Kartu Aksara akan membantu warga kolok dalam proses mengenal huruf, mengeja, menggabungkan, dan membaca kalimat utuh.
Langkah selanjutnya, kami akan melahirkan komunitas aksara dengan beranggotakan sekaa teruna-teruni Desa Bengkala. Kami yakin adanya kelompok ini membawa pengaruh positif untuk warga kolok yang tuna aksara. Mari bersama tim Sahara (Sahabat Aksara) Undiksha dan sekaa teruna-teruni bergerak untuk pengentasan Tuna Aksara di Desa Bengkala!
Segala informasi dan kegiatan bisa dilihat pada instagram @sahara.undiksha. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...