BAGI setiap organisasi, arsip atau dokumentasi seperti foto, surat, dan benda-benda sejarah adalah salah satu bukti—yang dapat menceritakan dan mencitrakan bagaimana kondisi sosial, dan atau bagaimana orang-orang terdahulu mengalami peristiwa penting di jamannya.
Kesan itulah yang ditemukan pada Pameran Arsip dan Benda-benda Bersejarah Muslim Bali Utara yang diadakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang dibuka Minggu, 30 Juni 2024 di Jl. Anggrek No. 27 Kaliuntu, Singaraja, dalam rangka hari lahir PCNU yang ke-70. Pameran itu akan berlangsung sampai 2 Juli 2024,
Tempat pameran, yakni Gedung Sekretariat PCNU, tampak seperti miniatur museum masa lalu. Di luar, sebelum masuk ke ruangan utama, di beranda para pengunjung disuguhkan dengan foto-foto kegiatan orang-orang Nahdliyin di jaman dulu. Berikut dengan tahunnya, foto-foto itu tertempel dengan apik di dinding pameran.
Pameran Poto Jadul (jaman dulu) NU Buleleng | Foto:Hizkia
Ibu Halimah Marwi (53), ketika melihat gambar dirinya pada foto tahun 1987—saat menjadi pengurus IPPNU waktu itu—tampak wajahnya penuh haru, takjub setelah melihat foto itu.
Tak disangka seseorang telah mengabadikannya dahulu, dan mengingatkannya sekarang dalam bentuk pameran, bersejarah.
“Di tahun itu saya sedang menyiapkan konsumsi pada acara Pelatihan Administrasi PCNU Buleleng,” kata Halimah mengingat. “Saya di bagian konsumsi waktu itu. Lebih jauhnya saya gak inget lagi,” sambung perempuan paruh baya itu, yang sekarang menjadi pengurus Muslimat NU.
Kemudian di ruang utama, arsip-arsip tua bermacam jenis dan warnanya yang sudah kumuh itu, pun berderet panjang bergantungan di dalam ruangan menyambut pengunjung. Arsip-arsip itu tak lain adalah berkas-berkas kegiatan PCNU sekitar tahun 1954 hingga tahun 2000-an.
Benda Pusaka | Foto: Hizkia
“Kami mengapresiasi banget acara pameran foto dan dokumen bersejarah semacam ini. Untung segera ditemukan, arsip-arsip itu bersejarah, kan, sehingga penting untuk dirawat,” ucap Putu Dewi Puspitawati, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng ang hadir dalam pembukaan pameran itu.
Kegiatan pameran arsip dan dokumen penting yang bernilai historis itu ternyata menjadi perhatian penuh bagi DAPD Buleleng. Bagaimana pengarsiapan secara digital setelah pameran ini, Putu Dewi Puspitawati dan pihaknya sangat siap memfasilitasi untuk menyimpannya secara digital, untuk menjaga arsip-arsip yang berhasil ditemukan itu agar tetap terjaga.
Sejarah adalah Peristiwa Penting, dan Arsip Penguatnya
Peristiwa, dalam bentuk gambar atau cerita dan surat, tambahan benda-benda pusaka seperti tongkat, pedang, trisula dan badik yang berkarat di luar ruangan pameran itu, menambah suasana kunjungan seperti kunjungan betulan pada sebuah museum benda-benda sejarah.
Pemotongan pita pembukaan pameran oleh Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng Putu Dewi Puspitawati | Foto: Hizkia
Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng Putu Dewi Puspitawatimelihat foto-foto | Foto: Hizkia
Pedang, Trisula dan badik, adalah benda pusaka bersejarah. Sekitar abad ke-17, benda-benda tersebut disinyalir milik prajurit kerajaan Mataram Islam yang kemudian diberikan kepada Laskar Islam Kerajaan Buleleng sebagai hadiah.
“Secara tetap, pedang itu dirawat oleh keluarga Syamsul Hadi di Desa Tegalinggah, Buleleng” ucap Karim Abraham selaku Ketua Pelaksana saat menjelaskan benda sejarah di ruang pameran.
Kemudian, benda bersejarah lainnya seperti Al Quran kuno, dan puluhan koleksi kitab kuning berusia lebih 1 abad milik Almarhum KH Muhammad Murtadlo, pendiri PCNU Kabupaten Buleleng masih dalam kondisi layak membersamai pameran.
Ibu Halimah saat menunjukan dirinya di poto Tahun 1987 | Foto: Son
Setelah menjelaskan itu, Karim bercerita yang lain terkait bagaimana berdirinya NU di Buleleng—bermula setelah kedatangan salah seorang tokoh nasional pendiri NU KH. Abdul Wahab Chasbullah ke Singaraja sekitar tahun 1953.
Cerita itu didapatnya dari Surat Keputusan (SK) PBNU bernomor 5989/Tnf/V/’54 tertanggal 15 Mei 1954 tentang pengesahan berdirinya “Tjabang Nahdlatul Ulama Singaradja”, yang dalam SK tersebut menetapkan KH. Muhammad Murtadlo sebagai Rois Syuriah, seorang ulama terkemuka di Buleleng saat itu.
Dalam mengumpulkan foto dan dokumen penting semacam itu—terutama bagaimana sejarah berdirinya NU di Buleleng, Karim Abraham mengaku tak mudah. Namun semua itu dilakukan dengan penuh dedikasi sampai berani mengadakan Pameran “Foto-Dokumen NU Buleleng dan Benda Sejarah Muslim Bali Utara”.
Pameran itu adalah hasil usaha kerasnya dalam menyambung fragmen sejarah yang terpotong-potong dengan banyaknya dokumen yang berhasil ditemukan. “Kita coba rangkai sehingga menjadi cerita perjalanan NU Buleleng secara umum,” lanjutnya.
Sebelum pameran, di jauh-jauh hari, katanya, memang telah dilakukan pemburuan cerita dan benda-benda sejarah terkait NU dan Muslim di Bali Utara ke tiap-tiap desa (plosok), hingga ke ibu kota semacam Jakarta ke Dinas Pengarsipan Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk mengetahui secara pasti cerita dan sejarahnya dalam bentuk dokumen. Di sanalah ia menemukan arsip SK yang bernomor 5989/Tnf/V/’54 itu.
“Ini tidak mudah, mesti ke desa-desa dulu, ke para sepuh. Terus saya juga sempatkan diri ke Jakarta untuk melihat arsip SK berdirinya PCNU Buleleng,” lanjut Karim.
Pameran buku-buku tua | Foto: Hizkia
Dan ternyata hasil blusukannya itu membuahkan hasil sangat baik. Sekitar 100 koleksi foto dari lintas generasi, termasuk beberapa foto tokoh nasional yang menghadiri kegiatan NU di Buleleng berhasil dipamerkannya.
Bahkan dokumen yang dipajang juga tidak kalah banyaknya dari itu, sekitar 100 lebih arsip dengan kondisinya masih cukup baik ikut serta memperkaya pameran itu sebagai miniatur museum.
Bahkan, Karim menganggap itu hanya sebagian saja yang tampak, karena masih banyak yang belum diketahui atau ditemukan dokumen-dokumen penting lainnya.
Apalagi terdapat beberapa fase tahun dalam kepengurusan yang sama sekali hilang (belum ditemukan arsipnya). “Ini bisa jadi karena sekretariat dulu yang berpindah-pindah, dimungkinkan masih banyak tercecer di berbagai tempat,” tuturnya. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...