17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
BAGI setiap organisasi, arsip atau dokumentasi seperti foto, surat, dan benda-benda sejarah adalah salah satu bukti—yang dapat menceritakan dan mencitrakan bagaimana kondisi sosial, dan atau bagaimana orang-orang terdahulu mengalami peristiwa penting di jamannya.
Kesan itulah yang ditemukan pada Pameran Arsip dan Benda-benda Bersejarah Muslim Bali Utara yang diadakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang dibuka Minggu, 30 Juni 2024 di Jl. Anggrek No. 27 Kaliuntu, Singaraja, dalam rangka hari lahir PCNU yang ke-70. Pameran itu akan berlangsung sampai 2 Juli 2024,
Tempat pameran, yakni Gedung Sekretariat PCNU, tampak seperti miniatur museum masa lalu. Di luar, sebelum masuk ke ruangan utama, di beranda para pengunjung disuguhkan dengan foto-foto kegiatan orang-orang Nahdliyin di jaman dulu. Berikut dengan tahunnya, foto-foto itu tertempel dengan apik di dinding pameran.

Pameran Poto Jadul (jaman dulu) NU Buleleng | Foto:Hizkia
Ibu Halimah Marwi (53), ketika melihat gambar dirinya pada foto tahun 1987—saat menjadi pengurus IPPNU waktu itu—tampak wajahnya penuh haru, takjub setelah melihat foto itu.
Tak disangka seseorang telah mengabadikannya dahulu, dan mengingatkannya sekarang dalam bentuk pameran, bersejarah.
“Di tahun itu saya sedang menyiapkan konsumsi pada acara Pelatihan Administrasi PCNU Buleleng,” kata Halimah mengingat. “Saya di bagian konsumsi waktu itu. Lebih jauhnya saya gak inget lagi,” sambung perempuan paruh baya itu, yang sekarang menjadi pengurus Muslimat NU.
Kemudian di ruang utama, arsip-arsip tua bermacam jenis dan warnanya yang sudah kumuh itu, pun berderet panjang bergantungan di dalam ruangan menyambut pengunjung. Arsip-arsip itu tak lain adalah berkas-berkas kegiatan PCNU sekitar tahun 1954 hingga tahun 2000-an.

Benda Pusaka | Foto: Hizkia
“Kami mengapresiasi banget acara pameran foto dan dokumen bersejarah semacam ini. Untung segera ditemukan, arsip-arsip itu bersejarah, kan, sehingga penting untuk dirawat,” ucap Putu Dewi Puspitawati, Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng ang hadir dalam pembukaan pameran itu.
Kegiatan pameran arsip dan dokumen penting yang bernilai historis itu ternyata menjadi perhatian penuh bagi DAPD Buleleng. Bagaimana pengarsiapan secara digital setelah pameran ini, Putu Dewi Puspitawati dan pihaknya sangat siap memfasilitasi untuk menyimpannya secara digital, untuk menjaga arsip-arsip yang berhasil ditemukan itu agar tetap terjaga.
Sejarah adalah Peristiwa Penting, dan Arsip Penguatnya
Peristiwa, dalam bentuk gambar atau cerita dan surat, tambahan benda-benda pusaka seperti tongkat, pedang, trisula dan badik yang berkarat di luar ruangan pameran itu, menambah suasana kunjungan seperti kunjungan betulan pada sebuah museum benda-benda sejarah.

Pemotongan pita pembukaan pameran oleh Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng Putu Dewi Puspitawati | Foto: Hizkia

Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng Putu Dewi Puspitawati melihat foto-foto | Foto: Hizkia
Pedang, Trisula dan badik, adalah benda pusaka bersejarah. Sekitar abad ke-17, benda-benda tersebut disinyalir milik prajurit kerajaan Mataram Islam yang kemudian diberikan kepada Laskar Islam Kerajaan Buleleng sebagai hadiah.
“Secara tetap, pedang itu dirawat oleh keluarga Syamsul Hadi di Desa Tegalinggah, Buleleng” ucap Karim Abraham selaku Ketua Pelaksana saat menjelaskan benda sejarah di ruang pameran.
Kemudian, benda bersejarah lainnya seperti Al Quran kuno, dan puluhan koleksi kitab kuning berusia lebih 1 abad milik Almarhum KH Muhammad Murtadlo, pendiri PCNU Kabupaten Buleleng masih dalam kondisi layak membersamai pameran.

Ibu Halimah saat menunjukan dirinya di poto Tahun 1987 | Foto: Son
Setelah menjelaskan itu, Karim bercerita yang lain terkait bagaimana berdirinya NU di Buleleng—bermula setelah kedatangan salah seorang tokoh nasional pendiri NU KH. Abdul Wahab Chasbullah ke Singaraja sekitar tahun 1953.
Cerita itu didapatnya dari Surat Keputusan (SK) PBNU bernomor 5989/Tnf/V/’54 tertanggal 15 Mei 1954 tentang pengesahan berdirinya “Tjabang Nahdlatul Ulama Singaradja”, yang dalam SK tersebut menetapkan KH. Muhammad Murtadlo sebagai Rois Syuriah, seorang ulama terkemuka di Buleleng saat itu.
Dalam mengumpulkan foto dan dokumen penting semacam itu—terutama bagaimana sejarah berdirinya NU di Buleleng, Karim Abraham mengaku tak mudah. Namun semua itu dilakukan dengan penuh dedikasi sampai berani mengadakan Pameran “Foto-Dokumen NU Buleleng dan Benda Sejarah Muslim Bali Utara”.
Pameran itu adalah hasil usaha kerasnya dalam menyambung fragmen sejarah yang terpotong-potong dengan banyaknya dokumen yang berhasil ditemukan. “Kita coba rangkai sehingga menjadi cerita perjalanan NU Buleleng secara umum,” lanjutnya.
Sebelum pameran, di jauh-jauh hari, katanya, memang telah dilakukan pemburuan cerita dan benda-benda sejarah terkait NU dan Muslim di Bali Utara ke tiap-tiap desa (plosok), hingga ke ibu kota semacam Jakarta ke Dinas Pengarsipan Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk mengetahui secara pasti cerita dan sejarahnya dalam bentuk dokumen. Di sanalah ia menemukan arsip SK yang bernomor 5989/Tnf/V/’54 itu.
“Ini tidak mudah, mesti ke desa-desa dulu, ke para sepuh. Terus saya juga sempatkan diri ke Jakarta untuk melihat arsip SK berdirinya PCNU Buleleng,” lanjut Karim.


Pameran buku-buku tua | Foto: Hizkia
Dan ternyata hasil blusukannya itu membuahkan hasil sangat baik. Sekitar 100 koleksi foto dari lintas generasi, termasuk beberapa foto tokoh nasional yang menghadiri kegiatan NU di Buleleng berhasil dipamerkannya.
Bahkan dokumen yang dipajang juga tidak kalah banyaknya dari itu, sekitar 100 lebih arsip dengan kondisinya masih cukup baik ikut serta memperkaya pameran itu sebagai miniatur museum.
Bahkan, Karim menganggap itu hanya sebagian saja yang tampak, karena masih banyak yang belum diketahui atau ditemukan dokumen-dokumen penting lainnya.
Apalagi terdapat beberapa fase tahun dalam kepengurusan yang sama sekali hilang (belum ditemukan arsipnya). “Ini bisa jadi karena sekretariat dulu yang berpindah-pindah, dimungkinkan masih banyak tercecer di berbagai tempat,” tuturnya. [T]

Pameran surat-surat di masa lalu | Foto: Hizkia

Pemotongan Tumpeng Harlah NU Ke-70 | Foto: Hizkia
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...