SUATU hari saya memasuki sebuah ruangan khusus untuk meditasi pelatihan sāmaṇera dan sāmaṇerī (calon bhikkhu-dan bhikkhuni). Ruang khusus yang berisi tengkorak manusia utuh: Dari kepala sampai ujung kaki.
Tengkorak diletakkan di atas meja seperti altar. Terhampar. Di ruang sunyi di kaki pegunungan indah tanpa penghuni.
Sang bhikkhu senior yang menjadi membimbing pelatihan sāmaṇera dan sāmaṇerī memberikan penjelasan:
"Di sini para pelatihan sāmaṇera dan sāmaṇerī yang bertekad memasuki kehidupan menjadi bhikkhu-bhikkhuni duduk saya arahkan untuk merenungi bahwa tubuh kita fana. Tubuh tak kekal, pikiran pun tak kekal, semua tak kekal".
"Sāmaṇera yang kadang masih sesekali memikirkan kecantikan tubuh perempuan, atau sāmaṇerī yang masih tertawan pikirannya dengan imaji lelaki, saya anjurkan merenung di ruangan ini. Bisa beberapa hari atau seminggu atau dua minggu, untuk merenungi bahwa elok tubuh, kecantikan, ketampanan, elegan indrawi dan badani, pesona cerdasan, serta kemasyuran yang menyertainya, pada akhirnya akan berakhir seonggok tengkorak”.
Saya duduk bersila, tak bergerak, di depan tengkorak. Ruang dingin dan sunyi, angin malam bertiup, di kaki gunung sepi: Apa sebenarnya yang abadi?
Beberapa tahun kemudian saya menjumpai sang bhikkhu senior dalam suasana lain. Beliau sedang mempersiapkan 'keberangkatan'. Tubuhnya mulai renta. Menua digelayuti usia. Sedang dirawat jalan di sebuah vihara. Senyumnya tenang. Kata-katanya tenang. Menutup pertemuan dengan sebuah cerita tentang perjumpaannya dengan seseorang yang memberikanya kitab Sutasoma.
Tak lama kemudian sang bhikkhu senior berpulang. Iba karena kepulangannya, saya tidak tahan untuk menitikan air mata, tapi: Apa sebenarnya yang abadi?
Sang bhikkhu senior sempat mengantar saya ke beberapa situs candi dan permandian kuno peninggalan abad 11. Di sana tiba-tiba beliau nyeletuk: "Jika kita bisa teringat semua masa kelahiran sebelumnya, kita tidak perlu belajar ulang lagi".
Orang-orang sekitarnya tahu bahwa beliau adalah lulusan fakultas kedokteran dari kampus ternama. Setelah diwisuda menjadi dokter, beliau langsung pamitan dari kedua orang tuanya. Pamit untuk menjadi bhikkhu.
Kenapa setelah menyelesaikan kuliah kedokteran langsung pamitan?
Jawabnya singkat: "Waktu kecil saya diminta untuk kuliah kedokeran oleh ibu saya. Saya mengiyakan. Saya menyelesaikan kuliah kedokteran untuk membayar janji saya."
Saya berpikir nakal: Bukankah kampus kedokteran tempat yang tepat untuk 'meditasi tengkorak'? Kuliahnya paling banyak bergelut dengan sakit, derita manusia, tubuh tak abadi, tubuh rentan, dan kematian. Di jurusan ini anak didik diajak memahani tubuh fana yang pada akhirnya menua, membusuk dan berujung menjadi tengkorak. Sang bhikkhu senior pastilah belajar banyak dari kuliahnya di fakultas kedokteran, terutama di ruang mayat.
Minggu lalu, pukul tengah malam, saya masuk kuburan, membawa sesaji 'piuning' di petunon, titik pembakaran jenasah, untuk mempersiapkan pembakaran mayat paman saya. Memohon dan memberitahukan pada pertiwi, tanah, semua penjaga yang tak tampak, bahwa esok hari kami akan melangsungkan pembakaran jenazah paman saya di titik itu.
Esoknya, dari dekat saya melihat bagaimana tubuh terpanggang, tengkorak paman saya dijamah api, tulang belulangnya menjadi abu. Setelah api pembakaran dimatikan, kami duduk mengitari jenazah yang tinggal abu. Abu kami kumpulkan , didoakan, dan selanjutnya dihanyut ke laut.
Di depan jenazah paman saya, di hari yang terik bercampur jilatan api pembakaran jenazah, saya kembali teringat ruang meditasi tengkorak di kaki gunung itu.
Kita semua adalah sāmaṇera dan sāmaṇerī di ruang sunyi diri sendiri. Berkawan tengkorak dalam tubuh kita masing-masing: Apa sebenarnya yang abadi? [T]
ADA hal-hal penting dalam hidup yang bekerja dalam diam, sehingga orang cenderung jadi abai terhadapnya. Meski demikian ia tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh ketika diabaika...
ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika menonton film "Sore: Istri Dari Masa Depan"....
LANTAI bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, seakan disulap sebagai banjar adat yang sedang melakukan upacara yadnya. Ibu-ibu yang hadir tampil cantik mengenakan bu...
INI masalah serius. Jumlah penutur Bahasa Bali makin sedikit, terutama di kalangan generasi muda. Bulan Bahasa Bali merupakan salah satu upaya positif mencegah hal itu, namun perl...
ORANG memanggilnya Mery. Parasnya masih tampak cantik di usianya yang telah 65 tahun. Meski sebagian kulitnya sudah mulai tampak keriput, namun Mery masih memiliki pesona di mata...
SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam dunia sastra. Kepergiannya memang...
PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok itu Nyoman Santosa tertidur. Sementara di t...
DARI zaman protes terhadap sampul novel Supernova; Akar karya Dewi “Dee” Lestari yang memuat simbol “OM” hingga sampul kaset Iwan Fals bergambar Garuda yang ditafsirkan sebagai De...
Festival (Utsawa) Konsérvasi lontar serangkaian dengan Bulan Bahasa bali VIII berlangsung di Geria Kutuh Kawanan, Banjar Dinas Sangging, Desa Kamasan, Kecamatan Klungkung, Kabupat...
DUA bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) #10. Kegiatan ini diadakan...