‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
PENGANUGERAHAN karya jurnalis warga di Indonesia kembali dihelat pada Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2024 oleh BaleBengong, pada Minggu (29/06/2024) malam.
Tak hanya pemberian penghargaan, juga dihelat sejumlah diskusi dari beberapa topik yang diangkat untuk mengkritisi berbagai permasalahan lingkungan serta mencari solusinya. Tahun ini AJW ada yang baru, yakni menggunakan pendekatan citizen science, kombinasi liputan dan penelitian menggunakan sudut pandang warga. Para penerima beasiswa AJW mendapat pendampingan dari para peneliti dan aktivis LSM yang berpengalaman.
Dalam sebuah diskusi mengenai politik dan krisis air di Bali dalam AJW 2024 kali, terungkap sejumlah masalah yang membuat akses atas air warga memburuk, dibandingkan akses air oleh industri pariwisata.
I Wayan Juniartha dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBL) mengatakan ada perebutan hak atas air. Industri pariwisata memicu ketidakadilan distribusi air, misalnya forum World Water Forum tak kekurangan air sementara di lokasi lain di Badung Selatan ada warga yang tak bisa mengakses air.
Menurutnya, menurunnya suplai air juga memicu konflik horisontal, saat jumlah air berkurang pun, air yang tersisa masih dikuasai yang memiliki power. Korbannya masyarakat. Ia mendorong para pihak melakukan konservasi, misalnya melalui bambu. “Satu rumpun 35 lonjor tiap menampung bisa menampung 1300 liter di rimpang, batang, daun setara 189 galon air kemasan yang dikeluarkan perlahan saat kemarau,” paparnya. Program YBL di Bali adalah konservasi sepanjang Yeh Penet berhulu di Batukaru, hilir di Tanah Lot sambil memetakan jenis bambu. “Bali sudah impor 5 juta lonjor untuk kepentingan upakara,” tambahnya.
Made Suarbawa, tim penerima hibah AJW membuat film dokumenter Air, Hutan, dan Kita. Ia refleksi masa kecil di Desa Tukadaya, Jembarana. “Kakek saya punya sawah berbatasan hutan, petani merasa air di gentong aman tapi pulu, gentong tempat menampung beras kosong. Dulu sungai dibendung untuk sawah, tapi sekarang dipasangi banyak pipa untuk air minum,” kisahnya. Dilema terjadi antar warga sendiri, kambing hitamnya adalah peningkatan hutan produksi. Karena hutan kini sudah tidak seperti hutan karena lebih homogen. “Mereka kini sudah menyadari itu hutan, bukan untuk disertifikatkan. Karena tiap Pilkada selalu jadi isu dijanjikan sertifikat lahan hutan. Setelah ada LPHD cukup mendorong kesadaran untuk menanam kembali,” ceritanya tentang upaya perbaikan.
Fenny Sulistya, tim peliput krisis air mengangkat topik ini karena rasa ingin tahu dan jengah karena kuliah di Kuta Selatan dan selalu susah air. Bahkan warga membuat sumur bor dengan harga di atas Rp 100 juta untuk pemenuhan rumah tangga. “Kenapa pemerintah seolah diam, krisis air kan bukan cerita baru terutama Pecatu, Ungasan, Jimbaran. Mungkin karena geografis dan kondisi tanah. Tapi harus memenuhi hak atas air,” tuntutnya.
Ia menambahkan ada narasumber mengatakan sudah 3 minggu susah air, katanya ada gangguan pasokan air diprioritaskan ke Nusa Dua untuk WWF. “Kami coba mewawancarai pekerja hotel tapi pasokan air tak pernah mati, tapi tagihan airnya tinggi. Betapa tingginya kebutuhan untuk pariwisata sementara warganya kesulitan,” tambahnya.
I Putu Bawa, aktivis konservasi air dari Yayasan IDEP Selaras Alam mengingatkan di Bali konflik air sudah lama terjadi. Tapi krisis air meningkat karena permintaan tidak sesuai dengan kebutuhan. “Ketika pemerintah proyeksi turis meningkat 4-5 kali lipat, airnya dari mana? Kalau tidak antisipasi dari sekarang yang terdampak warga miskin,” ingatnya. Solusinya ada, misal Nusa Penida yang tidak punya air permukaan, bisa memanfaatkan air hujan. Tapi industri pariwisata dengan modal besar menuurtnya tidak mengambil hak air warga. Ia menambahkan, setelah WWF tidak ada hal konkrit, terutama akses air, hak paling dasar.
Kategori beasiswa liputan menerima lebih dari 30 proposal ide. “Ini partisipasi luar biasa dari anak-anak muda Bali yang makin tertarik mendalami masalah sosial lingkungan,” sebut I Ketut Juniantari, Ketua Panitia AJW 2024.
Para penerima AJW 2024 adalah anak-anak muda Bali yang melakukan penelusuran sejumlah masalah. Tim Dampak Pelanggaran Tata Ruang: Bardha Gemilang, Ni Kadek Putri Santiadi, Wiranto Prasetyo, I Gusti Ayu Putri Indrawati. Mentor: Warmadewa Research Center dan Kota Kita
Tim Pertanian dan Energi Terbarukan: Teja Wijaya Made Krisna Mahendra. Mentor: Yayasan IDEP Selaras Alam.
Tim Krisis Air: Ni Gusti Putu Dinda Mahadewi, Ufiya Amirah, Fenny Sulistya. Mentor: Yayasan Bambu Lingkungan Lestari.
Tim Kerusakan Hutan: Desak Gde Yurika Kurnia Dewi, I Komang Sutirta Yasa. Made Suarbawa. Mentor: Yayasan IDEP Selaras Alam.
Tim Akses Pejalan Kaki dan Transportasi Publik: Lily Darmayanti, Desimawaty Natalia Hutabarat. Mentor: World Resources Institute Indonesia.
Kontributor paling produktif
Ada juga penerima AJW untuk kategori kontributor paling produktif yakni Harun Arrashyid, pada 2024 menulis 22 artikel berbagai isu seperti lingkungan, review film, musik, dan isu sosial lainnya.
Media Warga di Indonesia dengan program unggulan
Media warga sejumlah daerah di Indonesia mendafarkan diri, penerimanya adalah PerempuanLeuser.com (Aceh) yang membuat pelatihan penulisan jurnalisme warga isu lingkungan, pelatihan bisnis hijau, dan profil perempuan berdaya. Berikutnya dan Konsentris.id (Lampung) membuat kelas jurnalistik dan liputan investigasi kejahatan lingkungan.
Tahun ini BaleBengong menandai 17 tahun bekerja untuk layanan informasi publik di Bali. Media jurnalisme warga ini tahun ini mendapat sejumlah penghargaan yakni nominasi Wartawan Terbaik dari Dewan Pers bersama pimpinan redaksi Konde.co dan Jubi-Papua. Terakhir mendapat penghargaan wartawan berpengaruh bersama pimpinan Konde.co, KataData, dan WatchDoc dari MAW Talk. [T]
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...