Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
KETAKUTAN manusia akan kematian dapat dijabarkan dengan pandangan sains mengenai dorongan insting dasar makhluk hidup. Sains mengatakan bahwa salah satu kepentingan dasar makhluk hidup, selain mempertahankan informasi melalui genetik yang diturunkan, adalah memperpanjang usia selama mungkin. Dorongan ini juga yang membuat berbagai makhluk hidup–dari sekian banyak yang pernah ada di muka bumi–bisa lolos dari seleksi alam dan tetap lestari hingga saat ini.
Jika menilik ke belakang, upaya menghindari kematian sudah terjadi sejak awal manusia ada. Upaya penghindaran terhadap maut pada akhirnya tetap berujung pada realita bahwa segala sesuatu yang pernah lahir pada akhirnya akan mati.
Harapan yang tidak sesuai dengan realita membuat kecemasan dan ketakutan. Hal tersebut membuat kematian menjadi objek diskursus yang serius sejak zaman awal serta menimbulkan berbagai kepercayaan akan kematian yang menentramkan.
Pada perkembangan peradaban, usaha manusia tidak hanya dilakukan secara psikologis untuk menguatkan diri dalam menghadapi kematian yang pasti tapi tak jelas waktunya. Usaha-usaha rasional, logis, dan saintifik juga terus dilakukan untuk menjawab akar masalah utama: hidup sepanjang mungkin. Kalau bisa, abadi!
Usaha tersebut mencangkup penelitian-penelitian terapi terbaru pada segala jenis penyakit, teknologi anti penuaan sel, rekayasa pengganti organ-organ manusia, dan masih banyak lagi.
Walaupun masih dalam perjalanan dan memiliki ujung yang belum terlihat, sains dan teknologi yang percepatannya makin berlipat sangat mungkin menghadirkan jawaban yang tidak dapat dicerna logika kita di masa kini: masa depan manusia yang bebas dari kematian.
Jika boleh berimajinasi, seperti di film Chappie, saat tubuh organik ini memang tidak bisa bertahan permanen, kesadaran manusia yang terletak di otak bisa saja dapat dipindahkan ke tubuh buatan yang baru. Seperti menganti baju lama tak layak pakai dengan baju baru yang masih bagus. Siapa yang tahu?
Mari berandai-andai. Jika seandainya kehidupan abadi tercapai, apakah jawaban akan pertanyaan besar manusia terhadap kematian dapat selesai? Jika masih belum terbayang, bagaimana kalau kita menggunakan film Bicentinneal Man sebagai objek metafora untuk membahas ini?
Pada film Bicentinneal Man, tokoh utama bukanlah manusia. Bahkan, tokoh utama dan berputarnya semesta utama pada film ini adalah robot yang tidak bisa mati dan berada di titik paradoks dari kekurangan manusia.
Andrew Martin, sebagai tokoh utama dalam film Bicentinneal Man, adalah robot rumah tangga dengan artificial intelligence yang mampu belajar menyerupai manusia dari sisi pengembangan emosi dan kesadaran diri. Kemampuan mengembangkan kesadaran diri ini yang membuat ia lebih menyerupai manusia dibandingkan robot-robot lainnya.
Kemampuan mengembangkan kesadaran diri pada akhirnya membuat Andrew dapat memiliki perasaan serta pikiran yang subjektif, unik, dan otentik yang menyerupai manusia sebagai individu. Tetapi, Andrew tidak puas dengan sampai menyerupai manusia saja. Ia masih ingin menjadi manusia seutuhnya.
Andrew mengawali usahanya dengan memperbaharui tubuh robotnya agar bisa hidup lebih lama–di cerita ini, robot juga bisa mati jika suku cadangnya rusak dan menyebabkan kesadaran hilang–agar memiliki waktu yang lama untuk mencari identitas “manusia sejati”. Pada usianya yang cukup lama jika dibandingkan ukuran usia manusia, Andrew sudah mengalami semua tahapan manusia, dari kanak – kanak, dewasa, hingga merasakan cinta.
Andrew melewati beberapa kali jatuh cinta pada manusia. Kebetulan, perempuan yang dicintai adalah keturunan dari majikannya dahulu. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Andrew berhasil menjalin hubungan percintaan dan hendak mendaftarkan pernikahan ke pemerintah. Usulan tersebut pada awalnya tidak disetujui oleh pemerintah akibat pernikahan harus dilakukan oleh dua orang manusia. Dan syarat dari menjadi manusia adalah: hidup!
Lalu apakah Andrew tidak hidup? Bukankah ia memiliki kesadaran dan berfungsi seperti layaknya manusia biasa? Sanggahan yang muncul adalah: bagaimana sesuatu dikatakan “hidup” jika ia tidak akan mati?
Pesan filosofis pada film ini sejalan dengan pandangan “hidup menjadi nyata dengan hadirnya kematian” oleh Heidegger yang dipaparkan kembali oleh Budi Hardiman pada buku yang berjudul Filsafat Maut. Akar dari pandangan ini adalah kematian yang merupakan pengalaman yang sangat subjektif dan tidak bisa digantikan oleh orang lain.
Seseorang bisa saja meraba-merasakan adanya kematian saat maut datang pada orang lain. Tetapi, orang tersebut hanya mengasumsikan pengalaman kematian karena ia sendiri belum mengalaminya secara langsung.
Perabaan akan kematian saat seseorang masih hidup pada akhirnya membuat seseorang memahami bahwa hidup memiliki batas waktu yang pasti tapi entah di mana. Batasan inilah yang akan membuat kehidupan menjadi nyata; kehidupan menjadi ada saat kematian merupakan sebuah kepastian.
Cara pandang serupa juga dilakukan oleh kaum samurai. Mengutip buku yang sama dan dijabarkan oleh Lili Tjahjadi, para samurai mendapatkan makna dalam menjalani kehidupannya saat mereka sadar penuh bahwa setiap detik kehidupan selalu beririsan dengan kematian.
Seperti yang disampaikan oleh Yamamoto Tsunemoto dalam Hagakure: “Jalan sang bushi ditemukan dalam kematian.” Pandangan ini membuat keberanian dan suka-cita samurai untuk mati dalam tugas adalah hal yang tidak dapat dinego.
Bahkan, saat periode tenang dan minim konflik di jaman dinasti Tokugawa, samurai yang meninggalkan pedang dan berganti profesi keseharian menjadi pegawai serta mengurusi administrasi harus tetap merenungi kematian setiap pagi. Hal tersebut bertujuan sama: untuk merasakan makna hidup.
Makna hidup yang muncul dengan adanya kematian setidaknya dapat memberikan pandangan baru mengenai maut yang ditakuti. Akan tetapi, cobalah untuk hati-hati dalam mencerna pandangan tersebut, terutama pada sikap samurai terhadap kematian. Apalagi, jika didalami lebih lanjut, jalan pedang yang diambil samurai akan membuat mereka dengan mudah melakukan seppuku untuk mengakhiri hidup dengan tangan sendiri demi memperbaiki martabat yang ternoda. Karena hilangnya martabat sama artinya dengan hilangnya makna hidup.
Tetap bernapas tanpa memiliki makna hidup sama seperti mayat hidup. Dengan kematian, berhenti menjadi mayat hidup serta meraih kembali makna hidup yang hilang akan dapat tercapai. Dari sini saja dapat dilihat bahwa pandangan tersebut akan sangat fatal jika tidak dipahami dengan bijak. Jadi, jangan telan mentah – mentah.
Padangan tersebut sama sekali tidak mendukung pembaca untuk melegalkan bunuh diri akibat frustrasi dengan kehidupan. Kehidupan yang berantakan tidak dapat diubah menjadi bermakna dengan cara mati.
Saat kematian adalah hal yang pasti dan akhirnya membuat hidup menjadi utuh, kehidupan yang selalu berjalan mengarah ke garis akhir tetap perlu diisi dengan perjuangan dan suka cita. Suka cita inilah yang akan membuat manusia mendapatkan makna di setiap detik hidupnya.
Menikmati dan merayakan hidup sepenuhnya sampai senyuman maut datang dengan sendirinya. Seperti sysipus yang merayakan takdirnya untuk mendorong batu ke atas bukit seumur hidup, walau ia tahu bahwa batu tersebut akan selalu kembali menggelinding ke bawah.
Fatum Brutum Amor fati![T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...