Gema Pelangi di Ambara Tabanan – Nostalgia Radio pada HUT PRSSNI
17 Desember adalah Hari Ulang Tahun (HUT) PRSSNI. Awalnya memiliki kepanjangan Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia. Namun kemudian diubah menjadi Persatuan Radio Siaran S...
KETAKUTAN manusia akan kematian dapat dijabarkan dengan pandangan sains mengenai dorongan insting dasar makhluk hidup. Sains mengatakan bahwa salah satu kepentingan dasar makhluk hidup, selain mempertahankan informasi melalui genetik yang diturunkan, adalah memperpanjang usia selama mungkin. Dorongan ini juga yang membuat berbagai makhluk hidup–dari sekian banyak yang pernah ada di muka bumi–bisa lolos dari seleksi alam dan tetap lestari hingga saat ini.
Jika menilik ke belakang, upaya menghindari kematian sudah terjadi sejak awal manusia ada. Upaya penghindaran terhadap maut pada akhirnya tetap berujung pada realita bahwa segala sesuatu yang pernah lahir pada akhirnya akan mati.
Harapan yang tidak sesuai dengan realita membuat kecemasan dan ketakutan. Hal tersebut membuat kematian menjadi objek diskursus yang serius sejak zaman awal serta menimbulkan berbagai kepercayaan akan kematian yang menentramkan.
Pada perkembangan peradaban, usaha manusia tidak hanya dilakukan secara psikologis untuk menguatkan diri dalam menghadapi kematian yang pasti tapi tak jelas waktunya. Usaha-usaha rasional, logis, dan saintifik juga terus dilakukan untuk menjawab akar masalah utama: hidup sepanjang mungkin. Kalau bisa, abadi!
Usaha tersebut mencangkup penelitian-penelitian terapi terbaru pada segala jenis penyakit, teknologi anti penuaan sel, rekayasa pengganti organ-organ manusia, dan masih banyak lagi.
Walaupun masih dalam perjalanan dan memiliki ujung yang belum terlihat, sains dan teknologi yang percepatannya makin berlipat sangat mungkin menghadirkan jawaban yang tidak dapat dicerna logika kita di masa kini: masa depan manusia yang bebas dari kematian.
Jika boleh berimajinasi, seperti di film Chappie, saat tubuh organik ini memang tidak bisa bertahan permanen, kesadaran manusia yang terletak di otak bisa saja dapat dipindahkan ke tubuh buatan yang baru. Seperti menganti baju lama tak layak pakai dengan baju baru yang masih bagus. Siapa yang tahu?
Mari berandai-andai. Jika seandainya kehidupan abadi tercapai, apakah jawaban akan pertanyaan besar manusia terhadap kematian dapat selesai? Jika masih belum terbayang, bagaimana kalau kita menggunakan film Bicentinneal Man sebagai objek metafora untuk membahas ini?
Pada film Bicentinneal Man, tokoh utama bukanlah manusia. Bahkan, tokoh utama dan berputarnya semesta utama pada film ini adalah robot yang tidak bisa mati dan berada di titik paradoks dari kekurangan manusia.
Andrew Martin, sebagai tokoh utama dalam film Bicentinneal Man, adalah robot rumah tangga dengan artificial intelligence yang mampu belajar menyerupai manusia dari sisi pengembangan emosi dan kesadaran diri. Kemampuan mengembangkan kesadaran diri ini yang membuat ia lebih menyerupai manusia dibandingkan robot-robot lainnya.
Kemampuan mengembangkan kesadaran diri pada akhirnya membuat Andrew dapat memiliki perasaan serta pikiran yang subjektif, unik, dan otentik yang menyerupai manusia sebagai individu. Tetapi, Andrew tidak puas dengan sampai menyerupai manusia saja. Ia masih ingin menjadi manusia seutuhnya.
Andrew mengawali usahanya dengan memperbaharui tubuh robotnya agar bisa hidup lebih lama–di cerita ini, robot juga bisa mati jika suku cadangnya rusak dan menyebabkan kesadaran hilang–agar memiliki waktu yang lama untuk mencari identitas “manusia sejati”. Pada usianya yang cukup lama jika dibandingkan ukuran usia manusia, Andrew sudah mengalami semua tahapan manusia, dari kanak – kanak, dewasa, hingga merasakan cinta.
Andrew melewati beberapa kali jatuh cinta pada manusia. Kebetulan, perempuan yang dicintai adalah keturunan dari majikannya dahulu. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Andrew berhasil menjalin hubungan percintaan dan hendak mendaftarkan pernikahan ke pemerintah. Usulan tersebut pada awalnya tidak disetujui oleh pemerintah akibat pernikahan harus dilakukan oleh dua orang manusia. Dan syarat dari menjadi manusia adalah: hidup!
Lalu apakah Andrew tidak hidup? Bukankah ia memiliki kesadaran dan berfungsi seperti layaknya manusia biasa? Sanggahan yang muncul adalah: bagaimana sesuatu dikatakan “hidup” jika ia tidak akan mati?
Pesan filosofis pada film ini sejalan dengan pandangan “hidup menjadi nyata dengan hadirnya kematian” oleh Heidegger yang dipaparkan kembali oleh Budi Hardiman pada buku yang berjudul Filsafat Maut. Akar dari pandangan ini adalah kematian yang merupakan pengalaman yang sangat subjektif dan tidak bisa digantikan oleh orang lain.
Seseorang bisa saja meraba-merasakan adanya kematian saat maut datang pada orang lain. Tetapi, orang tersebut hanya mengasumsikan pengalaman kematian karena ia sendiri belum mengalaminya secara langsung.
Perabaan akan kematian saat seseorang masih hidup pada akhirnya membuat seseorang memahami bahwa hidup memiliki batas waktu yang pasti tapi entah di mana. Batasan inilah yang akan membuat kehidupan menjadi nyata; kehidupan menjadi ada saat kematian merupakan sebuah kepastian.
Cara pandang serupa juga dilakukan oleh kaum samurai. Mengutip buku yang sama dan dijabarkan oleh Lili Tjahjadi, para samurai mendapatkan makna dalam menjalani kehidupannya saat mereka sadar penuh bahwa setiap detik kehidupan selalu beririsan dengan kematian.
Seperti yang disampaikan oleh Yamamoto Tsunemoto dalam Hagakure: “Jalan sang bushi ditemukan dalam kematian.” Pandangan ini membuat keberanian dan suka-cita samurai untuk mati dalam tugas adalah hal yang tidak dapat dinego.
Bahkan, saat periode tenang dan minim konflik di jaman dinasti Tokugawa, samurai yang meninggalkan pedang dan berganti profesi keseharian menjadi pegawai serta mengurusi administrasi harus tetap merenungi kematian setiap pagi. Hal tersebut bertujuan sama: untuk merasakan makna hidup.
Makna hidup yang muncul dengan adanya kematian setidaknya dapat memberikan pandangan baru mengenai maut yang ditakuti. Akan tetapi, cobalah untuk hati-hati dalam mencerna pandangan tersebut, terutama pada sikap samurai terhadap kematian. Apalagi, jika didalami lebih lanjut, jalan pedang yang diambil samurai akan membuat mereka dengan mudah melakukan seppuku untuk mengakhiri hidup dengan tangan sendiri demi memperbaiki martabat yang ternoda. Karena hilangnya martabat sama artinya dengan hilangnya makna hidup.
Tetap bernapas tanpa memiliki makna hidup sama seperti mayat hidup. Dengan kematian, berhenti menjadi mayat hidup serta meraih kembali makna hidup yang hilang akan dapat tercapai. Dari sini saja dapat dilihat bahwa pandangan tersebut akan sangat fatal jika tidak dipahami dengan bijak. Jadi, jangan telan mentah – mentah.
Padangan tersebut sama sekali tidak mendukung pembaca untuk melegalkan bunuh diri akibat frustrasi dengan kehidupan. Kehidupan yang berantakan tidak dapat diubah menjadi bermakna dengan cara mati.
Saat kematian adalah hal yang pasti dan akhirnya membuat hidup menjadi utuh, kehidupan yang selalu berjalan mengarah ke garis akhir tetap perlu diisi dengan perjuangan dan suka cita. Suka cita inilah yang akan membuat manusia mendapatkan makna di setiap detik hidupnya.
Menikmati dan merayakan hidup sepenuhnya sampai senyuman maut datang dengan sendirinya. Seperti sysipus yang merayakan takdirnya untuk mendorong batu ke atas bukit seumur hidup, walau ia tahu bahwa batu tersebut akan selalu kembali menggelinding ke bawah.
Fatum Brutum Amor fati![T]
17 Desember adalah Hari Ulang Tahun (HUT) PRSSNI. Awalnya memiliki kepanjangan Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia. Namun kemudian diubah menjadi Persatuan Radio Siaran S...
HIDUP seperti bermain bola. Kita kejar beramai-ramai. Kita perebutkan. Kita tendang. Lalu, kembali kita kejar, dan seterusnya. Demikian sebuah pengandaian hidup dalam Geguritan Dar...
MENANTI MUSNAH Aku hampir musnah terlempar api yang memercikku dengan riciknya pijar nyala. Kujalani Titian ilahi Menelungkupkan pelaku dosa tak berdaya di hadapan tuhann...
TAK tahukah kau bahwa aku sangat mencintaimu? Ya, aku mencintamu. Sangat mencintaimu. Dan apa kau tahu yang selama ini aku inginkan? Ya, aku ingin memiliki hatimu selamanya. Aku in...
SALAH satu bangunan bersejarah di Klungkung, Bali, yang terkenal adalah Taman Kertha Gosa, terletak di jantung Kota Semarapura. Bangunan yang didirikan Kerajaan Klungkung sekitar a...
TEKHNOLOGI pengilingan padi telah muncul di kepulauan Solomon 26.000 ( dua puluh enam ribu ) tahun lalu. Walaupun bukti pembudidayaan pertanian padi yang lebih maju baru ditemukan...
DENPASAR era sebelum kemerdekaan setidaknya terdapat 2 pasar besar: Pasar Payuk dan Pasar Kreneng. Pasar Payuk adalah tempat penjualan segala macam peralatan payuk dan peralatan...
#Judul Buku: Penulis Mantra #Penulis: Dewa Putu Sahadewa #Penerbit: Dedari Foundation dan Penerbit HW Project #ISBN: 978-602-14750-4-1 Tanpa pintu, aku memasuki kenangan...
STADION Pakansari, Cibinong merah merekah. Tibalah sudah teater klimaks harapan publik Indonesia pada tim nasional sepakbola kesayangan. Musuh kuat di pelupuk mata. Tim Gajah Putih...
PASANGAN calon kepala daerah dalam event Pilkada boleh ngomong apa saja ketika mendapatkan nomor urut tertentu saat pengundian nomor urut di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Yang dapa...