Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
MUSEUM sampai saat ini masih dipersepsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah atau benda purbakala. Museum dianggap gudang benda kuno yang tidak menarik untuk jaman modern seperti sekarang.
Museum hingga kini belum memberi kontribusi berarti dalam pembangunan manusia, kebudayaan, maupun ekonomi. Apalagi bila dikaitkan dengan pengembangan pariwisata di Tanah Air, baik dalam hal pengelolaan, angka kunjungan, maupun visi misi yang mendukung program pariwisata nasional. Hal itu dikarenakan museum masih mendapat stigma sebagai tempat yang menyeramkan.
Paket wisata museum belum banyak ditawarkan di pasar wisata. Penyebabnya, museum saat ini belum menjadi motif penting bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan wisatanya. Wisatawan cenderung mengunjungi objek dan daya tarik wisata yang telah populer atau tempat-tempat yang menyuguhkan keindahan alam.
Penampilan museum di Indonesia masih belum mampu menjadi daya tarik wisata. Kesan itu muncul saat orang pertama kali melihat bangunan museum. Tak terawat dan kuno. Sementara museum di beberapa negara justru menjadi salah satu daya tarik yang banyak dikunjungi wisatawan.
Museum di beberapa negara memiliki jumlah kunjungan yang sangat tinggi. Sebut saja Museum Louvre di Paris, British Museum, National Galery of Art di Washington DC, Tate Modern London, Metropolitan Museum of Art New York, Museum Vatikan, dan National Art Centre Museum Tokyo.
Musée du Louvre atau Louvre Museum di Paris, Prancis dikunjungi wisatawan sebanyak 7,7 juta pada tahun 2022. Pengunjung di Vatican Museum yang berlokasi di Vatikan dikunjungi oleh 5,08 juta wisatawan. Selanjutnya, ada British Museum di London, Inggris yang dikunjungi wisatawan dengan jumlah 4,09 juta kunjungan.
Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) jumlah museum di Indonesia sebanyak 439 pada tahun 2020. Angka kunjungan masing-masing museum masih rendah, berkisar puluhan hingga ratusan ribu pengunjung per tahun.
Sangat disayangkan, museum yang memiliki potensi sebagai objek wisata belum mendapat tempat sewajarnya.Hal tersebut disebabkan museum di Indonesia sering hanya ditempatkan dalam posisi sama dengan art shop ataugaleri yang indah, tapi kurang informatif.
Fungsi Museum
KEBERADAAN museum di daerah bila dikaitkan dengan pembangunan nasional berfungsi untuk memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa nasionalisme, dan memperkokoh jati diri bangsa. Bahkan museum dapat menjadi media komunikasi lintas budaya yang dapat memberi informasi tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia kepada bangsa lain.
Dalam perspektif pariwisata, museum tidak hanya berfungsi sebagai objek penelitian dan pendidikan, namun juga berperan sebagai tujuan dan penyelenggaraan rekreasi. Oleh sebab itu museum perlu dikelola untuk dapat memenuhi kebutuhan berwisata, seperti kesenangan, rekreasi, hiburan, dan pendidikan.
Sesungguhnya pemerintah melalui Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2010 pernah berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke museum melalui program Visit Museum Years 2010. Beberapa gagasan dicanangkan, diantaranya membangun museum baru, seperti Museum Kuliner, Museum Bambu, dan Museum Penyu.
Program kunjungan ke museum perlu terus dicanangkan agar museum bukan hanya untuk memamerkan koleksi, namun dapat menjadi bagian dari produk wisata. Sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas kaum melineal dan Generasi Z perlu dirangkul untuk mengunjungi museum sebagai destinasi wisata edukasi, sejarah, dan budaya.
Keterbatasan
Sebagai produk wisata, museum harus mampu menarik perhatian pengunjung, baik wisatawan lokal, nusantara, maupun mancanegara. Upaya menghidupkan museum di daerah dapat dilakukan dengan mengubah penampilan fisik museum, seperti koleksi benda bersejarah, penataan ruang, petunjuk arah, display informasi, dan sebagainya.
Museum di Indonesia memiliki beberapa keterbatasan sehingga belum menarik bagi wisatawan. Keterbatasan pertama adalah amenitas museum. Saat ini fasilitas dan amenitas masih menjadi masalah utama dalam pengelolaan museum. . Faktor amenitas museum sangat penting, seperti tempat parkir, ATM, kafe, mushola, toilet, kios cinderamata, serta tempat istirahat.
Kedua, keterbatasan pada penampilan museum. penampilan bisa menjadi gerbang utama masyarakat umum untuk memiliki keinginan berkunjung. Stigma museum yang menyeramkan, kuno, dan tak ubahnya hanya sebagai tempat memajang benda-benda bersejarah itu harus ditepis dengan penampilan yang menyenangkan. Penampilan berkaitan dengan tata letak, koleksi, ornamen, hingga desain interior museum
Keterbatasan ketiga adalah eventdi museum. Banyak museum yang kurang inovatif dalam menyajikan event. Museum dapat dihidupkan dengan cara membuat berbagai atraksi seni budaya, olah raga, atau kegiatan lain yang berkaitan dengan koleksi museum. Karena itu, museum bukan hanya menyajikan some thing to see, tetapi juga some thing to do serta some thing to buy.
Pengelola museum dapat membuat agenda-agenda seni budaya dengan memanfaatkan area museum. Selain sebagai saran hiburan dan edukasi, langkah ini juga berperan dalam peningkatan kunjungan museum. Misalnya, melakukan kegiatan belajar siswa melalui tur sekolah ke museum, membuat lonba-lomba khusus di museum, pameran tematik, hingga konser.
Bahkan konser musik bisa dilakukan selama berkaitan dengan koleksi suatu museum, memperhatian tempat, dan tentunya tidak menganggu area instalasi. Konser musik pernah dilakukan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Museum Nasional juga pernah menggelar panggung musik jazz.
Keempat, faktor sumber daya manusia (SDM) pengelola museum. Menghidupkan museum diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan inovatif. Dibutuhkan SDM yang paham tentang permuseuman dan kepariwisataan. Termasuk bagaimana mengelola dan memasarkan museum di era digital seperti saat ini.
Keterbatasan SDM sering menjadi kendala dalam pengelolaan museum di daerah. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah daerah dapat menggandeng komunitas pecinta sejarah di berbagai daerah. Mereka difasilitasi untuk membuat kegiatan serta kajian untuk mendukung dinamika museum.
Keterbatan kelima adalah promosi museum. Promosi museum juga masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dalam pengelolaan museum. Promosi wisata museum masih kurang masif apabila dibandingkan dengan promosi destinasi wisata alam.
Selayaknya wisata museum juga dipromosikan sama seperti destinasi wisata lain dengan cara-cara kreatif. Misalnya, menggandeng komunitas pencinta sejarah, komunitas wisata, dan merangkul lembaga pendidikan pemerintah dan swasta.
Saatnya mengubah stigma yang menyeramkan tentang museum. Jadikan museum sebagai media komunikasi, sumber informasi dan inspirasi, sarana edukasi, dan pusat kegembiraan serta rekreasi. [T]
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...