Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik
BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indo...
PADA saat Dewa-Dewi yang diikuti para Apsara-Apsari ditugaskan turun ke bumi, Dewa yang paling bersemangat ikut adalah Dewa Rudra.
Dewa yang memiliki kemampuan di bumi serupa Siwa itu, sangat tak sabar untuk ikut mengambil peran. Sebenarnya Mahadewa ragu mengijinkan Rudra untuk menjelma menjadi manusia, karena kesaktiannya bisa membuat Rudra melupakan kedewataannya.
"Sebagai Panglima Perang Sorga, kesaktianmu tanpa tanding. Bali hanya pulau kecil yang disorgakan, kehadiranmu memang bisa memberi kebaikan, tetapi juga keburukan. Hanya kamu Dewa yang bisa beralih menjadi Kala, " Mahadewa berusaha membendung hasrat Rudra yang berapi-api.
"Panglima Perang Sorga, hanya simbol, bukankah sudah ada Mahadewa yang maha tahu dan maha segala, perkenankan hamba turun ke bumi. Jika tuanku khawatir dengan kesaktian hamba yang bisa menghancurkan Bali, hamba akan menjelma menjadi tiga orang manusia yang berbeda, sebagai brahmana/pendeta, ksatria /raja dan wesya/sudra, " jelas Rudra, langsung menciptakan dirinya sendiri, mengambil peran sebagai Brahma.
Pada arah mata angin Bali, Dewa Rudra ditempatkan di arah Barat Daya, tempat pertemuan pertiwi (material) dan teja (panas). Beliau bersenjatakan mosala, senjata yang berasal dari perpaduan esensi material yang dipanaskan, tajam di kedua ujungnya berwarna jingga.
Sebagai jelmaan Dewa Rudra Tiga itu sama-sama memiliki wajah dan tubuh yang nyaris sempurna. Gagah, berwibawa dan tampan. Rudra satu menjadi petani dan pengusaha yang sukses kaya raya, yang mengantarnya menjadi penguasa. Rudra Dua, menjadi raja dan Rudra Tiga menjadi pendeta.
Kehadiran Rudra Tiga yang terpisah sangat dipuja dan disanjung. Benar-benar dipuja bak Dewa di dunia, karena bisa memberi cahaya penerang, memelira dan menghancurkan keangkaraanmurkaan.
Rudra satu suka memberi materi, sehingga banyak dipuji. Rudra dua mengandalkan sakti sehingga tak ada yang berani. Rudra tiga menampakkan suci, sehingga dihormati.
Tetapi secara sendiri-sendiri Para Rudra itu gelisah, tak percaya diri, sehingga sibuk mencari-cari lawan untuk diajak berkelahi.
"Akulah Rudra, penguasa dunia, semua harus tunduk padaku. Sebagai Rudra aku bisa mencipta, memelihara juga melebur, " Para Rudra mulai lupa kedewaannya.
Yang raja merasa suci, yang pendeta merasa sakti, yang wesya merasa menguasai.
Hentah kenapa yang suci dan sakti, pecah kongsi, saling caci, saling maki, paling mau menang sendiri. Merasa diri paling mumpuni.
Saat raja dan pendeta berkelahi, yang jadi korban keluarga sendiri. Kesucian dan kesaktian dipakai membohongi. Tinggal Rudra Satu bermain sendiri, sesuka hati. Sebagai penguasa, dengan memberi materi Rudra Satu merasa sakti dan suci.
Niatnya menguasai Bali, bersama para sakti dan yang berlagak suci. Seperti penjudi, mengira semua bisa dibeli.
Bali, Bali duh Bali, Mahadewa tersungging, , sesungging senyumnya memberi cinta kasih, Padma yang menjelma trisula, menikam pikiran, kata-kata dan perbuatan.
Kala Rudra meraung, memohon pengharmonisan, pahyangan (sistem peyakinan), pawongan (kemanusiaan) dan palemahan (alam lingkungan). Saatnya manusia Bali beritual juga dengan darma laksana selain darma wacana. [T]
[][][]
BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indo...
PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka kesalahp...
PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan melemparkannya ke arah depan, seolah men...
APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era reformasi bukan pada keamanan akan tetapi tidak adanya kepastian hukum. Ada tiga&...
Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih menggema dalam kesadaran kolektif mas...
PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis berdiri di Bali sebelum periode kemerdeka...
“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan, atau perilaku yang dianggap lumrah dalam perg...
JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni adalah bulan kelahiran dan kewafatan Bung...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk jenjang S1, S2, S3, profesi,...
“Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya, Made Jembar sedang men...