Proses Kreatif Kurnia Effendi 2# Curah Kisah
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PADA saat Dewa-Dewi yang diikuti para Apsara-Apsari ditugaskan turun ke bumi, Dewa yang paling bersemangat ikut adalah Dewa Rudra.
Dewa yang memiliki kemampuan di bumi serupa Siwa itu, sangat tak sabar untuk ikut mengambil peran. Sebenarnya Mahadewa ragu mengijinkan Rudra untuk menjelma menjadi manusia, karena kesaktiannya bisa membuat Rudra melupakan kedewataannya.
"Sebagai Panglima Perang Sorga, kesaktianmu tanpa tanding. Bali hanya pulau kecil yang disorgakan, kehadiranmu memang bisa memberi kebaikan, tetapi juga keburukan. Hanya kamu Dewa yang bisa beralih menjadi Kala, " Mahadewa berusaha membendung hasrat Rudra yang berapi-api.
"Panglima Perang Sorga, hanya simbol, bukankah sudah ada Mahadewa yang maha tahu dan maha segala, perkenankan hamba turun ke bumi. Jika tuanku khawatir dengan kesaktian hamba yang bisa menghancurkan Bali, hamba akan menjelma menjadi tiga orang manusia yang berbeda, sebagai brahmana/pendeta, ksatria /raja dan wesya/sudra, " jelas Rudra, langsung menciptakan dirinya sendiri, mengambil peran sebagai Brahma.
Pada arah mata angin Bali, Dewa Rudra ditempatkan di arah Barat Daya, tempat pertemuan pertiwi (material) dan teja (panas). Beliau bersenjatakan mosala, senjata yang berasal dari perpaduan esensi material yang dipanaskan, tajam di kedua ujungnya berwarna jingga.
Sebagai jelmaan Dewa Rudra Tiga itu sama-sama memiliki wajah dan tubuh yang nyaris sempurna. Gagah, berwibawa dan tampan. Rudra satu menjadi petani dan pengusaha yang sukses kaya raya, yang mengantarnya menjadi penguasa. Rudra Dua, menjadi raja dan Rudra Tiga menjadi pendeta.
Kehadiran Rudra Tiga yang terpisah sangat dipuja dan disanjung. Benar-benar dipuja bak Dewa di dunia, karena bisa memberi cahaya penerang, memelira dan menghancurkan keangkaraanmurkaan.
Rudra satu suka memberi materi, sehingga banyak dipuji. Rudra dua mengandalkan sakti sehingga tak ada yang berani. Rudra tiga menampakkan suci, sehingga dihormati.
Tetapi secara sendiri-sendiri Para Rudra itu gelisah, tak percaya diri, sehingga sibuk mencari-cari lawan untuk diajak berkelahi.
"Akulah Rudra, penguasa dunia, semua harus tunduk padaku. Sebagai Rudra aku bisa mencipta, memelihara juga melebur, " Para Rudra mulai lupa kedewaannya.
Yang raja merasa suci, yang pendeta merasa sakti, yang wesya merasa menguasai.
Hentah kenapa yang suci dan sakti, pecah kongsi, saling caci, saling maki, paling mau menang sendiri. Merasa diri paling mumpuni.
Saat raja dan pendeta berkelahi, yang jadi korban keluarga sendiri. Kesucian dan kesaktian dipakai membohongi. Tinggal Rudra Satu bermain sendiri, sesuka hati. Sebagai penguasa, dengan memberi materi Rudra Satu merasa sakti dan suci.
Niatnya menguasai Bali, bersama para sakti dan yang berlagak suci. Seperti penjudi, mengira semua bisa dibeli.
Bali, Bali duh Bali, Mahadewa tersungging, , sesungging senyumnya memberi cinta kasih, Padma yang menjelma trisula, menikam pikiran, kata-kata dan perbuatan.
Kala Rudra meraung, memohon pengharmonisan, pahyangan (sistem peyakinan), pawongan (kemanusiaan) dan palemahan (alam lingkungan). Saatnya manusia Bali beritual juga dengan darma laksana selain darma wacana. [T]
[][][]
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PERNAH nunu urutan setiap pagi menjelang sekolah, pada masa-masa usai libur Hari Raya Galungan dan Kuningan? Jika pernah, masa kecil Anda dipastikan sederhana namun bahagia. Nunu...
"PANJEKAN" mungkin asal muasal kata "panjak". Biasanya prekanggo atau wong kuasa duduk didampingi anak buahnya yang dijadikan "injakan kaki" (panjekan). Lihatlah, foto yang dipasa...
GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tra...
SEBAIKNYA di sini kita tidak membahas sloka, lontar, mantra atau Veda. Di zaman informasi yang demikian derasnya, ketidakpedulian hanyalah sebuah pilihan. Hal-hal yang bersifat pen...
HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR. Meski tetap tampak bahag...
BAGI umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan tentu menjadi hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali...
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati momen KKN, meski saya tidak mengetahui detail kisah KKN kalian satu per satu tapi saya berusaha mewakili rasa rindu k...
GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak...
Cerpen: Fatah Anshori "Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tah...