Anak SD dan Motor “Keren”-nya
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
PADA saat Dewa-Dewi yang diikuti para Apsara-Apsari ditugaskan turun ke bumi, Dewa yang paling bersemangat ikut adalah Dewa Rudra.
Dewa yang memiliki kemampuan di bumi serupa Siwa itu, sangat tak sabar untuk ikut mengambil peran. Sebenarnya Mahadewa ragu mengijinkan Rudra untuk menjelma menjadi manusia, karena kesaktiannya bisa membuat Rudra melupakan kedewataannya.
"Sebagai Panglima Perang Sorga, kesaktianmu tanpa tanding. Bali hanya pulau kecil yang disorgakan, kehadiranmu memang bisa memberi kebaikan, tetapi juga keburukan. Hanya kamu Dewa yang bisa beralih menjadi Kala, " Mahadewa berusaha membendung hasrat Rudra yang berapi-api.
"Panglima Perang Sorga, hanya simbol, bukankah sudah ada Mahadewa yang maha tahu dan maha segala, perkenankan hamba turun ke bumi. Jika tuanku khawatir dengan kesaktian hamba yang bisa menghancurkan Bali, hamba akan menjelma menjadi tiga orang manusia yang berbeda, sebagai brahmana/pendeta, ksatria /raja dan wesya/sudra, " jelas Rudra, langsung menciptakan dirinya sendiri, mengambil peran sebagai Brahma.
Pada arah mata angin Bali, Dewa Rudra ditempatkan di arah Barat Daya, tempat pertemuan pertiwi (material) dan teja (panas). Beliau bersenjatakan mosala, senjata yang berasal dari perpaduan esensi material yang dipanaskan, tajam di kedua ujungnya berwarna jingga.
Sebagai jelmaan Dewa Rudra Tiga itu sama-sama memiliki wajah dan tubuh yang nyaris sempurna. Gagah, berwibawa dan tampan. Rudra satu menjadi petani dan pengusaha yang sukses kaya raya, yang mengantarnya menjadi penguasa. Rudra Dua, menjadi raja dan Rudra Tiga menjadi pendeta.
Kehadiran Rudra Tiga yang terpisah sangat dipuja dan disanjung. Benar-benar dipuja bak Dewa di dunia, karena bisa memberi cahaya penerang, memelira dan menghancurkan keangkaraanmurkaan.
Rudra satu suka memberi materi, sehingga banyak dipuji. Rudra dua mengandalkan sakti sehingga tak ada yang berani. Rudra tiga menampakkan suci, sehingga dihormati.
Tetapi secara sendiri-sendiri Para Rudra itu gelisah, tak percaya diri, sehingga sibuk mencari-cari lawan untuk diajak berkelahi.
"Akulah Rudra, penguasa dunia, semua harus tunduk padaku. Sebagai Rudra aku bisa mencipta, memelihara juga melebur, " Para Rudra mulai lupa kedewaannya.
Yang raja merasa suci, yang pendeta merasa sakti, yang wesya merasa menguasai.
Hentah kenapa yang suci dan sakti, pecah kongsi, saling caci, saling maki, paling mau menang sendiri. Merasa diri paling mumpuni.
Saat raja dan pendeta berkelahi, yang jadi korban keluarga sendiri. Kesucian dan kesaktian dipakai membohongi. Tinggal Rudra Satu bermain sendiri, sesuka hati. Sebagai penguasa, dengan memberi materi Rudra Satu merasa sakti dan suci.
Niatnya menguasai Bali, bersama para sakti dan yang berlagak suci. Seperti penjudi, mengira semua bisa dibeli.
Bali, Bali duh Bali, Mahadewa tersungging, , sesungging senyumnya memberi cinta kasih, Padma yang menjelma trisula, menikam pikiran, kata-kata dan perbuatan.
Kala Rudra meraung, memohon pengharmonisan, pahyangan (sistem peyakinan), pawongan (kemanusiaan) dan palemahan (alam lingkungan). Saatnya manusia Bali beritual juga dengan darma laksana selain darma wacana. [T]
[][][]
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
KASAR itu kebebasan yang indah dan menghibur. Tak percaya? Dengarlah ungkapan-ungkapan kasar tak terduga dari karakter-karakter Bondres Dwi Mekar, Buleleng, (terkenal juga dengan n...
“Kenapa kita di sini?” SEBUAH pertanyaan klasik yang telah tergerus zaman dan tak dihiraukan lagi. Sebagian besar orang akan menertawakan pertanyaan itu. Tapi tak akan ada yang bi...
BRAD PIT dan Angelina Jolie mungkin bisa berpisah. Naruto dan Sasuke juga masih bisa berpisah, namun yang namanya mahasiswa itu tidak bisa dipisahkan dengan tugas kuliah. Akan sela...
Diriku Adalah Sekarung Kata-Kata Kau suka warna biru karena warna biru adalah alas bagi puisi-puisi yang kau tulis setiap pagi. Katamu sudah lama kau tidak membuka pintu...
WANGSA, trah, soroh, atau apa pun namanya, adalah identitas yang meringkas individu ke dalam rumusan-rumusan yang berdimensi genetis, latar sejarah, profesi, kadang wilayah geograf...
JANGANKAN sebagai budak, jadi babu pun sesungguhnya tak seorang pun sudi. Tetapi, Bali punya sejarah perbudakan yang sangat mengenaskan, ketika manusia diperdagangkan, dipertukarka...
BEBERAPA hari ke belakang situasi politik Indonesia menghangat. Ditambah lagi media yang memberitakannya setiap hari. Kemarin, Saya mencoba untuk mengikuti isu ini lebih dalam. Mom...
OKTOBER sudah lewat. Oktober yang katanya Bulan Bahasa. Ya. Bulan yang baik untuk berbicara dengan serius perihal literasi, bulan yang seharusnya menjadi perayaan yang besar bagi p...
HEBAT betul saya, karena baru-baru ini menolak tawaran untuk mengelola media kampanye pendukung Ahok. Dari banyak hal yang terlewat dalam hidup saya, mungkin penolakan itulah satu-...