PAGI itu di hari kedua bulan Juni tahun 2024, sebuah ruangan yang megah dengan bentuk menyerupai lingkaran tersebut telah dipenuhi oleh lebih dari seribu orang. Sebagian besar di antaranya menggunakan jubah hitam bak Harry Potter, sebuah topi hitam dengan tali kuncir menjuntai dari atas telah terpakai di kepala, serta sebuah medali dengan lambang kampus di bagian ujung telah menggantung di leher. Sebagian lagi mengenakan batik, kebaya, dan pakaian terbaik yang ada di lemarinya masing-masing
Mereka adalah peserta wisuda Universitas Nasional, Jakarta, beserta sanak keluarga yang terus saja memancarkan senyum di wajahnya. Senyum yang rasa-rasanya enggan untuk pergi walau hanya untuk sedetik. Perjuangan bertahun-tahun dalam rangka menyelesaikan studi pada akhirnya bertemu pada muaranya. Sebentar lagi seluruh perjuangan akan paripurna. Ijazah yang akan menjadi modal utama dalam bersaing di dunia profesional segera berada dalam genggaman.
Wisuda periode pertama di tahun ini diikuti oleh lebih dari 1.500 wisudawan dan wisudawati. Mengingat banyaknya peserta wisuda, panitia pun harus membagi prosesi wisuda ke dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung mulai pukul 07.00 s.d 11.00 WIB, sedangkan sesi kedua dilangsungkan pada pukul 13.00 s.d 16.00 WIB.
Saya adalah salah satu bagian dari 819 peserta yang akan melalui prosesi wisuda pagi ini. Sedangkan sejumlah peserta lainnya akan diwisuda pada sesi kedua. Wisuda bukanlah hal baru bagi saya. Pada tahun 2018, saya melakoni prosesi wisuda di Universitas Udayana dan secara resmi menyandang gelar sarjana. Sehingga bagi saya sendiri, antusiasme menyambut wisuda tidak lagi sebesar pengalaman pertama.
Seperti halnya dalam prosesi wisuda lainnya, pada wisuda Universitas Nasional pagi ini terdapat beberapa acara, seperti sambutan-sambutan, pidato, hingga pelantikan wisudawan dan wisudawati. Tetapi ada salah satu yang mata acara yang bagi saya patut dinanti, selain pelantikan wisudawan dan wisudawati tentu saja.
Acara tersebut adalah pembekalan bagi wisudawan yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H yang merupakan Ketua Mahkamah Konstitusi RI periode 2003-2008 dan saat ini sedang menjabat sebagai Anggota DPD RI periode 2019-2024.
Agility Learning
Prof. Jimly memulai pembekalannya dengan menerangkan bahwa hari ini adalah sebuah era yang dapat dimanfaatkan oleh setiap orang dan kelompok dalam mengejar ketertinggalannya dengan cepat. Kecepatan tersebut dapat dicapai melalui keinginan belajar dan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi. Dalam rangka memudahkan pemahaman wisudawan dan wisudawati pagi itu, Prof. Jimly menjadikan China dan Korea Selatan sebagai contoh dalam pemaparannya.
Perlu dicatat bersama, bahwa sekitar lima puluh tahun yang lalu, dua negara tersebut adalah negara yang kondisinya berada di bawah Indonesia—hampir di segala aspek. Namun realitas hari ini berkata lain, dua negara tersebut menjadi negara yang berhasil lolos dari middle trap income, sedangkan Indonesia masih berada di fase berjuang lolos dari perangkap yang kerap kali dihadapi negara berkembang di seluruh dunia.
Korea Selatan adalah sebuah negara yang mendeklarasikan kemerdekaannya pada 15 Agustus 1948—tiga tahun setelah Indonesia merdeka. Meski demikian, hari ini mereka mampu menjadi salah satu negara dengan pendapatan tertinggi di Asia. Bahkan Korea Selatan mampu mengungguli Jepang yang notabene pernah menjajah mereka. Melalui berbagai produk elektronik, makanan dan minuman, hingga produk kebudayaannya, Korea Selatan mampu mendominasi pasar dunia, termasuk di dalamnya Indonesia.
Tidak jauh berbeda dengan Korea Selatan, China juga kini berhasil menjelma menjadi negara yang memiliki kekuatan dan ekonomi terbesar di dunia. Kehadiran China sebagai negara superpower tentu menjadi ancaman bagi pemilik status quo. Banyak orang menyebutnya sebagai negara adikuasa.
Pemaparan kemudian beranjak pada istilah agility learning. Menurutnya, agility learning adalah kombinasi dari tiga hal, yakni aspek afektif, psikomotorik, dan kognitif. Ia menyebutkan kemajuan yang diperoleh Korea Selatan dan China dikarenakan mereka mampu mengkombinasikan tiga aspek tersebut dalam proses belajarnya. Belajar untuk menjadi negara maju dan berorientasi mensejahterakan warga negaranya. Dirinya juga menegaskan bahwa kemampuan tersebut harus dimiliki oleh mahasiswa hari ini.
Kemajuan teknologi hari ini, seperti artificial intelligence (AI) telah memberi kemudahan bagi generasi muda untuk mempelajari berbagai hal secara mendalam. Pergeseran-pergeseran yang cukup berarti pun banyak terjadi di segala lini. Kebenaran-kebenaran di masa lalu kini tidak relevan lagi, dan oleh Dahlan Iskan, fenomena tersebut diistilahkan sebagai post truth. Kebenaran baru mampu mematahkan norma-norma yang telah cukup lama dipercaya kebenarannya, dan menurut Prof. Jimly, menyesuaikan diri dengan kebenaran baru adalah langkah penting untuk tetap menjadi relevan di tengah ketidakpastian zaman.
Big Bang Change
Big bang change juga dikenal sebagai sebuah ledakan besar. Fenomena yang dapat memberi dampak perubahan signifikan. Prof. Jimly menyebutkan bahwa di setiap abad, umat manusia selalu menghadapi peristiwa besar. Misalnya di pertengahan abad XX, rakyat Indonesia dihadapkan pada peristiwa Gerakan 30 September yang kemudian merubah landskap sosial politik Indonesia. Dan menjadi menarik untuk menganalisa peristiwa apa yang akan terjadi di pertengahan abad XXI, mengingat Indonesia hari ini telah mencanangkan target besar di pertengahan abad mendatang, pemerintah menyebutnya “Indonesia Emas 2045”.
Dalam rangka menghadapi ledakan besar selanjutnya, teramat penting bagi generasi muda Indonesia untuk menyiapkan diri. Menurutnya, masa bagi generasinya tidak akan lama lagi. Saat Indonesia berusia 100 tahun, generasi milenial hingga Z adalah pemilik sah estafet kepemimpinan bangsa. Perasaan inferior yang kerap kali menghinggapi anak-anak muda yang berasal dari kampus-kampus swasta harus dihilangkan. Kualitas tidaklah dinilai dari asal kampus, tetapi dari kompetensi.
Kampus hanyalah wadah bagi mahasiswa berproses. Kemampuan mahasiswa dalam menyerap segala ilmu pengetahuan yang telah tersedia di kampus, dan berserakan di “Mbah Google” menjadi pemegang peran penting dalam mempertajam kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia profesional. Lantas, sudah siapkah generasi hari ini menerima estafet kepemimpinan bangsa? [T]
SAAT ini siapa yang butuh membaca. Siapa yang butuh makna. Siapa yang butuh ruang ketiga.
Pada saat saya kecil, di tahun 1990an saya membayangkan kota ini sebagai Kota Singa ya...
BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata yang hidup di ingatan, bercampur antara pengalaman...
Catatan Harian Sugi Lanus, 19 Januari 2026
Bagaimana pelaksanaan Tawur dan Nyepi menurut Parhyangan Besakih dan Desa Adat Besakih?
Awig-awig Desa Adat Besakih secara jel...
HUJAN tak kunjung turun, tapi langit tampak malas untuk bersinar sejak sore tadi. Warnanya abu-abu serupa kaus kaki yang sudah seminggu tak dicuci, digulung-gulung begitu saja lal...
JALAN BARU
sebilah pintusudah kubaringkan di situkeluarlah, seperti kebanyakanangin lewat, atau para sahabatyang menyeberangmenjadi orang asing barutak terkecuali juga aku
J...
Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti program pertukaran klinis...
NEGARA memegang mandat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di ranah digital, tanggung jawab ini harus diterjemahkan ke dalam langkah konkret.
Membangun karakter...
BERTEPATAN dengan tanggal 25 Januari 2026 merupakan Hari Gizi Nasional. Sebuah momentum penting yang patut digunakan sebagai ajang refleksi kondisi gizi anak-anak Indonesia. Di te...
WAJAHNYA tidak terlalu ganteng, tetapi juga tidak jelek. Namun pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan ternama membuat Rudi Setiarto banyak dilirik gadis. Apalagi di usianya yang...
Refleksi Awal: Menemukan Kembali Posisi Produser
Lima hari intensif di Hotel Grandkemang, Jakarta, telah lama berlalu, namun percakapan masih berseliweran dalam pikiran....