JANGAN cemas. Seni budaya Bali, semisal tabuh-tabuh dan tarian kuno, tak akan hilang. Selalu lahir anak muda yang punya kecintaan serius pada seni budaya, termasuk dengan serius pula memperkenalkan kepada anak-anak muda yang lain.
Salah satu yang lahir di Bali Utara adalah Kadek Angga Wahyu Pradana. Usianya tergolong muda, tapi sudah menjadi pengabdi masyarakat di bidang seni budaya dengan membangun yayasan di perbatasan antara Desa Tukadmungga, Buleleng, dan Desa Tegallinggah, Sukasada, Buleleng.
Mengurus yayasan, mengajar tari dan tabuh bagi anak-anak muda, adalah satu pekerjaan yang hampir setiap hari ia lakukan, selain juga mengajar dan menjadi dosen di STAHN Mpu Kuturan Singaraja.
Karena kesetiaan dan kegigihannya mengembangkan seni budaya di kalangan kaum milineal, Angga terpilih menjadi Pemuda Pelopor bidang seni budaya tahun 2024, wakil dari Provinsi Bali, yang siap berkompetisi di tingkat nasional.
Saat seleksi Pemuda Pelopor itu ia menyampaikan presentasi tentang revitalisasi tabuh lelonggoran untuk bisa diakses oleh penabuh-penabuh muda di Buleleng.
Bagaimana prosesnya hingga ia terpilih jadi Pemuda Pelopor?
“Sederhananya, proses diawali dari seleksi tingkat kabupaten lalu seleksi tingkat provinsi, iya, begitu,” kata Angga.
Seleksi tingkat kabupaten dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng, Jumat, 3 Mei 2024. “Dalam seleksi tingkat kabupaten saya bisa memperoleh juara satu dan mengikuti tahap selanjutnya yakni seleksi Pemuda Pelopor tingkat Provinsi,” ujarnya.
Seleksi tingkat Provinsi dilakukan dari tanggal 15 hingga 17 Mei 2024 yang diikuti pemuda dari kabupaten/kota di Provinsi Bali. Seleksi yang berlangsung 3 hari, dilanjutkan ke tahap selanjutnya, yakni tahap fact finding atau verifikasi lapangan oleh Tim Juri Provinsi Bali.
Pada saat fact finding, Tim Juri datang ke Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti yang dikelola Angga, yang beralamat di Banjar Dinas Lebah Pupuan, Desa Tegallinggah, Sukasada. Tim juri datang tanggal 23 Mei 2024.
Saat itu Kadek Angga mempersiapkan penyambutan tim juri dengan sangat matang beserta 400 anggota yayasan.
Singkat cerita, setelah dilakukan fact finding ke semua peserta di semua kabupaten di Bali, maka dalam bidang seni budaya sesuai hasil pleno diputuskan Kadek Angga Wahyu Pradana terpilih menjadi Juara 1 Provinsi Bali.
“Setelah ini akan dilanjutkan fact finding tingkat nasional dan setelah itu akan berlomba di tingkat nasional pada kisaran bulan juli mendatang,” kata Angga.
***
Angga bernama lengkap Kadek Angga Wahyu Pradana, S.Sn., M.Sn. Titel sarjana seni ia peroleh di ISI Denpasar pada jurusan seni karawitan, dan magister seni ia dapatnya di kampus yang sama pada program pascasarjana pengkajian seni karawitan.
Masa kecilnya dihabiskan di Desa Tukadmungga, di desa kelahirannya. Ia sekolah di SDN 3 Tukadmungga tahun 2010, lalu SMPN 4 Singaraja, kemudian di KOKAR Bali jurusan seni karawitan sebelum ia menempuh pendidikan S1 dan S2 di ISI Denpasar.
Karena kecintaannya yang begitu besar terhadap seni karawitan, ia membangun yayasan untuk menampung dan mengajari anak-anak muda di Buleleng dalam hal seni karawitan. “Seni karawitan harus diperkenalkan terus menerus kepada anak muda,” ujarnya.
Bisa dikata, Kadek Angga adalah seniman, leadership, akademisi, dan pelopor dalam bidang seni budaya.
Ia telah mengabdikan diri dan karirnya untuk memastikan bahwa setiap individu mempunyai ketrampilan dan basic yang mumpuni serta berkualitas dalam bidang seni budaya. Dengan gelar magister yang disandangnya, ia telah memperdalam pemahaman tentang berbagai kebutuhan pendidikan yang beragam dan merancang para generasi muda untuk menekuni warisan leluhur yang sudah diwariskan sejak dahulu, yakni berbagai jenis kesenian yang luar biasa.
Sebagai seorang pemuda pelopor, Kadek Angga telah menerbitkan buku tentang gamelan Gong Kebyar Mepacek khas Bali Utara Buleleng sekaligus menjadi pengabdi di ranah masyarakat.
“Di yayasan saya mengabdikan diri setiap hari. Saat hari libur, saya di yayasan dari pagi hingga malam,” ujar Kadek Angga yang biasa juga disapa dengan nama singkat Dek Angga.
Dek Angga memiliki berbagai pengalaman di ranah seni budaya dan mengimplementasikan strategi untuk mengembangkan dan menumbuhkan semangat para generasi muda yang berada di ranah seni.
Dek Angga juga telah menjadi narasumber dalam berbagai workshop maupun seminar, berbagi wawasan tentang praktik, dan telah menjadi berbagai juri dalam lomba-lomba tingkat kecamatan, hingga kabupaten.
***
Dek Angga punya perhatian dan kecintaan yang sangat besar pada seni tabuh atau karawitan lelonggoran yang dianggap sebagai tabuh khas Bali Utara. Untuk itulah, dalam seleksi Pemuda Pelopor tahun 2024 ini ia mengajukan presentasi revitalisasi tabuh lelonggoran khas Bali Utara agar bisa diakses oleh anak-anak muda, terutama penabuh-penabuh muda di Buleleng.
Apa itu lelonggoran?
Kadek Angga mengatakan, lelonggoran atau gending lelonggoran merupakan gending ciri khas dari Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Gending lelonggoran ini setiap daerah di Buleleng dikemas dengan gaya atau stil yang berbeda-beda namun tidak mengurangi esensi serta struktur yang sudah diwariskan sejak dahulu.
Kadek Angga sempat mewawancari I Made Ranten pada tanggal 1 Februari 2024 untuk mengetahuis ecara lebih jelas gending lelonggoran itu. Dan menurut Ranten, gending lelonggoran merupakan gending yang dilonggarkan dan dikembangkan.
Musikalitas atau jenis gending-gending yang disajikan akhir-akhir ini, kata Dek Angga, sudah jarang menyentuh atau minim menggemari gending-gending gending lelonggoran.
Selain sebagai gending khas Bali Utara, gending lelonggoran memiliki fungsi tersendiri yang harus dan wajib disajikan atau ditabuhkan pada saat ritual keagamaan khususnya dewa yadnya.
“Inilah yang saya lakukan di Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti untuk tetap melestarikan kesenian apa yang sudah di wariskan, terutama gending lelonggoran,” kata Dek Angga.
Dek Angga | Foto: Dok
Menurut Dek Angga, rasa enggan para generasi muda untuk tertarik dengan keberadaan gending lelonggoran khas Bali Utara membuat gending lelonggoran lambat laun termakan jaman. “Untuk itulah perlu dilakukan revitalisasi,” kata Dek Angga.
Revitasisasi yang dilakukan adalah memaksimalnya suatu bagian gending atau komponen tertentu sesuai dengan perkembangan anak muda jaman sekarang,
“Misalnya ada pepayasan dalam gending atau tabuh itu yang tidak mengurangi ranah dan pakem yang sudah ada. Ini merupakan salah satu niatan untuk melakukan sebuah revitalisasi gending lelonggoran,” kata Dek Angga.
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...