PEMBERANGKATAN haji merupakan momen tahunan yang besar bagi masyarakat Jembrana, karena hampir seluruh umat Muslim di sana ikut mengantar jamaah sampai ke Pelabuhan Gilimanuk untuk bertolak ke Surabaya. Tradisi ini sering disebut dengan “Ninjo Haji”.
Saya tidak tahu kapan tradisi ini dimulai, yang jelas, sejak saya masih kecil, Ninjo Haji sudah ada---bahkan mungkin jauh sebelum saya dilahirkan.
Yang unik dari Ninjo Haji adalah, setelah jamaah haji Kabupaten Jembrana dilepas untuk diberangkatkan menuju Asrama Haji Sukolilo di Surabaya, masyarakat yang ikut Ninjo Haji pun melanjutkan perjalannannya ke tempat-tempat rekreasi bersama sanak keluarga secara rombongan.
Menurut informasi yang saya dapat, dulu, pengantar jama’ah haji bisa sampai ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, setelah itu pengantar akan berekreasi di kota tersebut. Namun, sekarang, hampir semua jama’ah mengantar, paling jauh, hanya sampai di Ketapang, Kabupaten Banyuwangi.
Tapi sebagaian besar hanya mengantar sampai di Pelabuhan Gilimanuk atau di Masjid Besar Al-Mubarok saja. Meski jarak mengantar bergeser cukup jauh---yang awalnya sampai Surabaya sekarang hanya sampai Gilimanuk, tapi kebiasaan lama tidak berubah, yakni mengunjungi tempat wisata secara beramai-ramai.
Karena tradisi ini sudah mendarah daging, yang terasa wajib diikuti setiap tahunnya, biasanya para anak-anak yang bersekolah justru memilih untuk meliburkan diri, termasuk juga pekerja non formal seperti buruh, anak buah perahu di Desa Airkuning, Pengambengan, maupun sekitarnya.
Kalau sudah tiba hari untuk Ninjo Haji, kebanyakan murid sekolah atau madrasah di desa tersebut banyak yang tidak masuk, mereka lebih memilih untuk dimarahi gurunya karena membolos ketimbang tidak dapat ikut Ninjo Haji yang hanya berlangsung satu kali setiap tahunnya.
Menurut sejarah, tradisi Ninjo Haji ini dimulai berkaitan dengan tradisi sebelum keberangkatan yang sering disebut dengan Ziarah Haji. Di mana masyarakat terlebih dahulu berziarah haji di rumah masing-masing calon jama’ah haji yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekah, baik secara perorangan maupun secara berjama’ah.
Tradisi Ninjo Haji---meninjau haji---sudah berlangsung sejak lama dan masih berlanjut setiap tahun di musim haji. Tradisi ini dilakukan oleh keluarga, sanak famili dari calon jama’ah haji, dan juga masyarakat Muslim Jembrana.
Pada zaman dulu, rombongan calon jama’ah haji Jembrana menunaikan ibadah haji melalui jalur laut. Mereka pergi dengan naik kapal laut, sehingga rombongan diantar menuju pesisir selatan Kota Negara, tepatnya di Dusun Muara, Desa Pengambengan.
Setelah adanya pesawat udara yang berembarkasi di Bandara Juanda Surabaya, sejak saat itu para keluarga dan sanak famili mulai mengantarkan rombongan jama’ah haji melalui jalur darat menuju Surabaya melalui Pelabuhan Gilimanuk. Jama’ah haji dan rombongan peninjau bersama-sama menyeberang menaiki kapal laut ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Di masa sekarang, apabila sudah ada penetapan haji untuk tanggal keberangkatan haji, maka pada umumnya seluruh calon haji se-Kabupaten Jembrana itu berkumpul di suatu tempat yang telah ditetapkan oleh pihak Panitia Haji Kementerian Agama Kabupaten Jembrana. Di tempat yang telah ditentukan itulah, biasanya para rombongan jama’ah haji akan diberikan kata pelepasan oleh Bupati Jembrana selaku kepala daerah.
Di sisi lain, Tradisi Ninjo Haji juga ditunggu-tunggu oleh para pedagang, baik para pedagang di kawasan rekreasi Gilimanuk, maupun pedagang di pesisir pantai lainnya seperti lesehan ikan bakar di Desa Candikusuma, Pebuahan, dll.
Karena sudah menjadi kebiasaan turun temurun, para jamaah peninjo haji akan menjajakan makanan sekitar di tempat rekreasi atau saat perjalanan pulang ke rumah masing-masing secara rombongan, sehingga mendatangkan berkah bagi para pedagang.[T]
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...