Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
PEMBERANGKATAN haji merupakan momen tahunan yang besar bagi masyarakat Jembrana, karena hampir seluruh umat Muslim di sana ikut mengantar jamaah sampai ke Pelabuhan Gilimanuk untuk bertolak ke Surabaya. Tradisi ini sering disebut dengan “Ninjo Haji”.
Saya tidak tahu kapan tradisi ini dimulai, yang jelas, sejak saya masih kecil, Ninjo Haji sudah ada---bahkan mungkin jauh sebelum saya dilahirkan.
Yang unik dari Ninjo Haji adalah, setelah jamaah haji Kabupaten Jembrana dilepas untuk diberangkatkan menuju Asrama Haji Sukolilo di Surabaya, masyarakat yang ikut Ninjo Haji pun melanjutkan perjalannannya ke tempat-tempat rekreasi bersama sanak keluarga secara rombongan.
Menurut informasi yang saya dapat, dulu, pengantar jama’ah haji bisa sampai ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, setelah itu pengantar akan berekreasi di kota tersebut. Namun, sekarang, hampir semua jama’ah mengantar, paling jauh, hanya sampai di Ketapang, Kabupaten Banyuwangi.
Tapi sebagaian besar hanya mengantar sampai di Pelabuhan Gilimanuk atau di Masjid Besar Al-Mubarok saja. Meski jarak mengantar bergeser cukup jauh---yang awalnya sampai Surabaya sekarang hanya sampai Gilimanuk, tapi kebiasaan lama tidak berubah, yakni mengunjungi tempat wisata secara beramai-ramai.
Karena tradisi ini sudah mendarah daging, yang terasa wajib diikuti setiap tahunnya, biasanya para anak-anak yang bersekolah justru memilih untuk meliburkan diri, termasuk juga pekerja non formal seperti buruh, anak buah perahu di Desa Airkuning, Pengambengan, maupun sekitarnya.
Kalau sudah tiba hari untuk Ninjo Haji, kebanyakan murid sekolah atau madrasah di desa tersebut banyak yang tidak masuk, mereka lebih memilih untuk dimarahi gurunya karena membolos ketimbang tidak dapat ikut Ninjo Haji yang hanya berlangsung satu kali setiap tahunnya.

Menurut sejarah, tradisi Ninjo Haji ini dimulai berkaitan dengan tradisi sebelum keberangkatan yang sering disebut dengan Ziarah Haji. Di mana masyarakat terlebih dahulu berziarah haji di rumah masing-masing calon jama’ah haji yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekah, baik secara perorangan maupun secara berjama’ah.
Tradisi Ninjo Haji---meninjau haji---sudah berlangsung sejak lama dan masih berlanjut setiap tahun di musim haji. Tradisi ini dilakukan oleh keluarga, sanak famili dari calon jama’ah haji, dan juga masyarakat Muslim Jembrana.
Pada zaman dulu, rombongan calon jama’ah haji Jembrana menunaikan ibadah haji melalui jalur laut. Mereka pergi dengan naik kapal laut, sehingga rombongan diantar menuju pesisir selatan Kota Negara, tepatnya di Dusun Muara, Desa Pengambengan.
Setelah adanya pesawat udara yang berembarkasi di Bandara Juanda Surabaya, sejak saat itu para keluarga dan sanak famili mulai mengantarkan rombongan jama’ah haji melalui jalur darat menuju Surabaya melalui Pelabuhan Gilimanuk. Jama’ah haji dan rombongan peninjau bersama-sama menyeberang menaiki kapal laut ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Di masa sekarang, apabila sudah ada penetapan haji untuk tanggal keberangkatan haji, maka pada umumnya seluruh calon haji se-Kabupaten Jembrana itu berkumpul di suatu tempat yang telah ditetapkan oleh pihak Panitia Haji Kementerian Agama Kabupaten Jembrana. Di tempat yang telah ditentukan itulah, biasanya para rombongan jama’ah haji akan diberikan kata pelepasan oleh Bupati Jembrana selaku kepala daerah.
Di sisi lain, Tradisi Ninjo Haji juga ditunggu-tunggu oleh para pedagang, baik para pedagang di kawasan rekreasi Gilimanuk, maupun pedagang di pesisir pantai lainnya seperti lesehan ikan bakar di Desa Candikusuma, Pebuahan, dll.
Karena sudah menjadi kebiasaan turun temurun, para jamaah peninjo haji akan menjajakan makanan sekitar di tempat rekreasi atau saat perjalanan pulang ke rumah masing-masing secara rombongan, sehingga mendatangkan berkah bagi para pedagang.[T]
Reporter: Ananta Kurnia
Penulis: Ananta Kurnia
Editor: Jaswanto
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...