Puisi-puisi Angga Wijaya | Di Canggu, Sajak-Sajak ini Untukmu

Angga Wijaya
by Angga Wijaya — Mei 25, 2024 in Puisi

Tatkala.co

Pengantar penyair: tahun-tahun belakangan, setiap hari saya melewati rute Denpasar-Badung untuk mengantar kekasih saya yang bekerja di Canggu, “kota” baru yang ramai dan semarak. Puisi-puisi berikut memotret apa yang saya lihat dan rasakan dalam perjalanan di atas sepeda motor; lalu lintas padat, langit senja, iklan anjing hilang, peluk erat kekasih dan cinta yang menyala di antara kami. Selamat menikmati dan mengapresiasi puisi-puisi ini. Terima Kasih.

Senja di Canggu

Langit yang memerah
Atau matahari pasrah

Ditelan malam kelam
Sisakan warna kelana

Berapa lama lagi sampai
Jalanan penuh kendaraan

Sehabis hujan semua cemas
Memaki hari yang kian keras

Senyummu menyambut aku
Bersama lidah menjulur lucu

Begitu cantik kau senja ini
Di Canggu menunggu gagu

Hari kasih sayang akan tiba
Hadiah apa yang akan kuberi

Selain cinta membara lama
Di api asmara tak padam jua

Cintakah ini jalan tak bernama
Bersama waktu merajut hasrat

O, tubuh yang terbakar cinta!
Merah bibirmu pagut bibirku

2019

Tibubeneng

Awan tenggara pergi berarak
Tutupi matahari tenggelam

Kita menunggu entah apa
Dua manusia dikutuk sepi

Kau lihat perempuan di jok
Memeluk erat kekasihnya

Seperti tak hendak berpisah
Walau kematian makin dekat

Tak tahu maut bisa datang
Pelukan keabadian hakiki

Jangan bicara kematian
Begitu kau menasihatiku

Aku hanya tersenyum pilu
Kupeluk kau di sudut rindu

2019

Instrumentalia

Di hotel ini, siapa yang pergi lebih dulu
Meninggalkan kenangan juga bayangan

Ketiadaan yang abadi. "Siapa kamu?",
Seseorang bertanya padaku tiba-tiba

"Aku musafir di gersang padang kota ini
Pejalan sunyi yang terjebak kesunyian”

Dia hanya tersenyum seolah mengerti
Mungkin ia malaikat yang menyamar

Kulihat rambutnya panjang menjuntai
Menyentuh lantai berkilau matahari

Kami terdiam tak banyak bicara
Hanya suara hati tak henti terasa

"Di hotel ini angin lembut terasa.
Hujan sebentar lagi basahi bumi"

Malaikat itu pergi dalam sepi
Kini hanya aku duduk sendiri

2019

Biarkan Puisi Menggenang, Terngiang
Saat Kau Melihatku di Remang Petang

Tak ada di peta mana pun, datanglah ke diriku: di situ
kau temukan palung dalam masa lalu, duka air mata
kering oleh derita hidup penuh misteri di mata sendu

Hidupku adalah puisi. Kau beli di toko online dengan
harga diskon, ilusi besar penyair kerap lapar dan haus,
di kamar penuh coretan kertas dan buku kusam:
waktu seperti mati di sini.

Kopi mengering di gelas, rokok tergeletak di lantai
putih, sesekali batuk terdengar: beban di dada dan
mata menyala oleh imaji, delusi membuat aku terjaga
hingga dini hari menjelang.

Kekasih belum pulang, kukenang suara merdu telepon
siang hari, kabarkan rindu dan semangat bersama
cinta bebal yang kekal, pelabuhan akhir bagi setiap
pecinta sejati.

Petang segera tiba, kita akan berjumpa di tepi jalan
padat oleh kendaraan melaju lambat, kerinduan pada
wajah bocah menyambut mesra di beranda kenangan
belum datang.

Kenang ini, saat kau melihatku di layar ponsel pintar,
bersama kucing kesayangan kau pungut di jalan tiap
hari kita lalui: kenangan petang terngiang di batin
puisi, remang bahagia hati!

2019

Lampu Merah Terlama di Kota

Menuju entah, aku pergi kemana motorku
melaju. Tak ada kompas, hanya intuisi
sebagai penunjuk jalan di kota yang ramai

Berhenti di persimpangan saat lampu
menyala merah, begitu lama bagai waktu
tunggu saat berobat di rumah sakit jiwa

Mataku tertuju pada pemulung sedang
makan di depan toko yang belum buka.
Ia begitu menikmati nasi di bising jalanan

Jendela kaca toko sepatu sisakan mimpi
bagi pemulung itu. Terbayang betapa
senang anaknya jika punya sepatu baru

Di depanku perempuan memeluk lelaki
yang memboncengnya, seakan berkata
mereka pasangan bahagia tanpa air mata

Lampu masih saja berwarna merah,
seperti mataku yang memerah sebab
kurang tidur di malam penuh halusinasi

Perjalanan ini seperti mengajariku kesabaran
Meditasi di tengah hiruk-pikuk kendaraan,
tak sabar tiba di tujuan entah untuk apa.

2020

Anjing Kami Belum Pulang

Dia sudah jadi bagian keluarga kami
Anjing jenis mini pom warna cokelat

Hilang sejak seminggu lalu di rumah
Sudah sepuluh tahun kami pelihara

Dia sudah tua, ada tato di telinga
kanannya. Bulu sangat pendek dan

tumbuh tidak rata. Ada bekas luka
di bagian pantat. Dulu kami rescue.

Banyak kenangan tentangnya di hati
Kami benar-benar sedih dia hilang

Bagi yang menemukan anjing kami
Harap menghubungi nomor di iklan

Hadiah akan kami siapkan untuk itu
Anakku menangis merindukan Kuki

Imbalan sebesar satu juta kami beri
Akan diberikan tanpa ada pertanyaan

2020

Di Canggu, Sajak ini Untukmu

Senja tampak berbeda, langit berwarna jingga,
seperti cinta kita, merekah di hati.

Aku menjemputmu. Kita pulang, bersama mimpi
terwujud. Derai daun bergoyang dicium angin,
bunyi-sunyi wujud misteri semesta.

Suara malam hening. Di beranda aku pandangi
langit. Bulan tertutup awan, kucing tertidur lelap.

Hati kita dipenuhi kasih. Memberi semangat,
jalani hidup dengan riang. Adakah kau rasakan itu,
kekasih? Kita pecinta sejati, di jalan penuh bahagia

Harapan datang, bersyukur atas waktu yang
tuhan selalu berikan pada kita yang pasrah,
berserah pada kehendak-Nya.

2020

https://tatkala.co/2024/05/19/puisi-puisi-rusdy-ulu-sihir-pagi
https://tatkala.co/2024/05/05/puisi-raudal-tanjung-banua-nyanyian-panjang-talang-sungai-parit/embed/#?secret=4bfaxcRvGM#?secret=FGa76MzvyM
https://tatkala.co/2024/03/30/puisi-puisi-sonhaji-abdullah-ingatanku-kepada-kematian/embed/#?secret=IaPBLtVQk7#?secret=6igJErmVXx
Tag: Puisi
Avatar

Angga Wijaya

Related Posts