TIGA Mei 2024 dalam suasana Hari Pendidikan Nasional, dunia pendidikan Indonesia berduka cita. Seorang taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Putu Satria Ananta Rustika (19) mahasiswa Tingkat I asal Klungkung meninggal dunia. Berdasar berita di media Putu Satria diduga jadi korban kekerasan dari seniornya, Tegar Rafi Sanjaya. Menurut catatan media, kekerasan di STIP sudah berlangsung sejak 2008 dengan korban Agung Bastian Gultom, pada 2014 dengan korban Dimas Dikita Handoko, dan pada 2017 dengan korban Amirullah Adityas Putra.
Dari informasi media, Putu Satria Ananta Rustika adalah taruna berprestasi yang dikabarkan lolos seleksi beasiswa ke Cina sebagai mayoret. Jika informasi itu benar, ada dugaan persaingan yang tidak sehat antara senior dan yunior. Senior tidak terima yuniornya berprestasi dan merasa kalah saing. Kecemburuan yang membabi buta telah membutakan mata hati para senior. Hal yang amat bertentangan dengan hakikat pendidikan, yang menekankan kesadaran diri dan ketulusan perhatian dengan cinta kasih. Berulangnya kasus kekerasan di kampus kedinasan berasrama itu dalam 10 tahun terakhir, menandakan kampus tidak aman dan tidak nyaman, bertentangan dengan semangat Merdeka Kampus yang menyenangkan dan menenangkan.
STIP Jakarta berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan dengan kampus berasrama. Dalam banyak kasus, kekerasan lebih sering terjadi di sekolah berasrama padahal mereka diawasi oleh pamong belajar selama 24 jam. Ada apa dengan sekolah berasrama?
Pertama, kasus kekerasan yang terjadi STIP ini makin meyakinkan pendapat bahwa kekerasan di lingkungan mana pun tak terkecuali di dunia pendidikan dilakukan oleh orang dekat. Mereka yang seharusnya mengampu, mengasuh, mengamong, dan melindungi malah menghabisi. Hal demikian justru terjadi di sekolah berasrama yang secara institusional berada di dalam pantauan selama 24 jam. Penyelenggara sekolah berasrama perlu merefleksikan diri sebagaimana disyaratkan dalam Kurikulum Merdeka yang dilaksanakan oleh sekolah reguler setiap akhir kegiatan.
Kedua,perlu dipastikan pola asuh pamong yang humanis berbasis teknologi (teknohumanis) memperhatikan karakteristik peserta didik yang unik dan hebat. Disiplin perlu ditegakkan dengan penyadaran dari dalam, bukan dengan gaya militer , “pukul dulu urusan belakang”. Jika di ujung urusannya penjara karena menghilangkan nyawa sesama anggota perguruan, penyesalanlah muaranya. Reputasi sekolah tercoreng, orang tua merasa gagal, ketakutan menghantui. Dunia pendidikan dalam kegelapan. Padahal, hakikat sekolah adalah menerangi kegelapan. Kata Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Ketiga, tata tertib dan struktur organisasi di sekolah perlu dibedah tuntas melibatkan stakeholder terkait (pejabat kampus dengan dosen,orang tua, tokoh pendidikan, dan para taruna) yang diasuh. Struktur organisasi yang membangun relasi kuasa taruna senior-yunior ditiadakan, karena mereka berstatus sama : sama-sama peserta didik. Jangan sampai ada kecemburuan sosial bila prestasi yunior melampaui seniornya karena kehebatan itu beragam adanya. Itulah sebabnya pembelajaran berdiferensiasi diperlukan.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyesalkan kejadian itu, bahkan menonaktifkan Direktur STIP Ahmad Wahid dan beberapa pejabat di kampus tersebut. Selanjutnya tidak akan menerima calon taruna tahun 2024 untuk memutus mata rantai senior-yunior yang merugikan. Selain itu, asrama hanya diperuntukkan bagi taruna tingkat I sedangkan taruna senior mengontrak di seputar kampus dan berbaur dengan masyarakat. Hal itu disampaikan saat melayat ke rumah duka bertemu orang tua Putu Satria Ananta Rustika di Klungkung. Rasa empati pun ditunjukkan Budi Karya Sumadi seraya berjanji akan memberikan beasiswa kepada adik korban. Janji ini harus ada yang mengawal untuk memastikan keterlaksanaannya.
Janji Menteri Perhubungan itu dapat menghibur sesaat untuk mengobati luka batin keluarga korban. Dalam jangka panjang, sekolah kedinasan tampaknya perlu diintegrasikan ke Perguruan Tinggi pada umumnya (Universitas) dengan membuka sekolah vokasi sehingga penerimaan mahasiswanya pun melalui jalur sebagai mana mahasiswa pada umumnya. Selain tidak diskriminatif, pembiayaannya pun lebih hemat, inklusif, dan demokratis. Rekrutmen juga dapat melalui jalur prestasi sesuai dengan kekhususan yang dikembangkan. Saat ini ada likuran sekolah kedinasan yang tampak gagah dan ekskusif dengan pembiayaan pendidikan melalui APBN dan berada di luar Kemendikbud Ristek. Jangan-jangan 20% APBN untuk pendidikan tersedot lebih banyak ke sekolah kedinasan daripada Universitas Negeri Reguler yang biaya UKT-nya kian melambung.
Rumitnya dunia pendidikan Indonesia tidak berada dalam satu kementerian memerlukan sinkronisasi dan koordinasi dengan tetap berpegang teguh pada tujuan fundamentalnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas tidak melaksanakan pendidikan dengan membangun ketakutan dan trauma berkepanjangan. Janji kemerdekaan harus dilunasi dengan pendidikan yang humanis, bijaksana dan berdaya saing. ‘’Menang tanpa ngasorake’’, kata bijak Jawa. Peran terpenting pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran di tengah perbedaan untuk saling menguatkan dalam mencapai puncak segitiga emas. Puncak itu tidak dapat dicapai dengan santai tetapi harus diperjuangkan dengan berakhlak mulia sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
Kekerasan yang menewaskan taruna beberapa kali di STIP Jakarta pada bulan Merdeka Belajar menunjukkan dirampasnya kemerdekaan para taruna muda yang berjuang untuk keluar dari kegelapan. Kekerasan ini melengkapi tragedi pendidikan yang sudah lama berlangsung dengan berbagai varian yang disebut tiga dosa pendidikan. Bahkan kata Mochtar Buchari kini telah terjadi arogansi intelektual di lingkungan pendidikan. Bersamaan dengan itu, kepalsuan demi kepalsuan dipertontonkan : plagiarisme dan wisuda abal-abal dengan ijazah palsu. Tiba-tiba saya, teringat “Sajak Palsu” karya Agus R. Sarjono.
Mendung gelap dunia pendidikan mudah-mudahan tidak menimbulkan fobia sekolah bagi anak muda meraih cita-cita dan harapan. Renungan di Bulan Merdeka Belajar di tengah tragedi pendidikan. [T]
GELAK tawa penonton tak pernah berselang di arena drama gong, waktu itu. Seni pentas yang begitu akrab, guyub dan populer. Kemunculan punakawan Dolar dan Petruk dan disusul datangn...
Cerpen: Diah Naraswari & I Putu Agus Phebi Rosadi
/1/
Pukul tujuh malam aku sampai di Bandar Udara Internasional Cointrin Jenewa. Aku bergegas menuju terminal kedatang...
MENARIK untuk menelisik debat kandidat calon gubernur DKI Jakarta 2017-2022 lebih dalam. Yang mereka katakan sesungguhnya menggambarkan isi kepala, rekam jejak, dan mungkin juga pe...
#Judul buku: Energi Bangun Pagi Bahagia #Penulis: Andy Sri Wahyudi #Penerbit: Garudhawaca Yogyakarta #Tahun Terbit: Juni 2016
TERUS terang, membaca puisi-puisi Andy Sri Wahyudi di...
HALO agan-agan mahasiswa di seluruh pelosok negeri ini. Bagaimana kabar agan-agan semua? Apakah sudah ikut demo 121? Atau mungkin agan-agan sekalian sedang sibuk dengan skripsi? Te...
KEDATANGAN Irfan Haarys Bachdim (28) disambut pecinta sepak bola Bali. Fans suporter Bali United tersenyum lega, penonton pun bercakap-cakap tentang sosok Irfan Bachdim. Kepiawian...
BEGITU menerima kiriman buku “100 Monolog karya Putu Wijaya” yang diberikan langsung oleh Putu Wijaya, dramawan Putu Satria Kusuma langsung gelisah. Ia bersama teman-temannya langs...
NAMA grup band ini Ake Buleleng. Dari namanya tahulah di mana mukim band itu. Dari nama “apa adanya” itu tahu juga kita “apa maunya” band itu. Ya, band itu ingin menunjukkan “ini l...
HILANGNYA penyair Wiji Thukul tidak membuat hal-ihwal menyangkut dirinya ikut lenyap. Justru ia makin mengendap di memori kolektif kita. Fisik-wadag-nya boleh saja sudah tak terlih...
KOTA Denpasar kini memiliki Badan Kreatif (Bekraf), sebuah lembaga resmi yang dikukuhkan Walikota IB Rai Dharma Wijaya Mantra, di Pendopo Inna Bali Hotel, Denpasar, Jumat, 30 Desem...