“Saya hanya ingin mengenal diri dengan berbagai percobaan,” ucap Agus Fn (Lalu Agus Fathurrahman) ketika berada di forum diskusi pamerannya yang diadakan di Galeri Taman Budaya NTB, 27 April hingga 2 Mei 2024. Ini adalah pameran tunggalnya yang ketiga, lelaki kurus itu mengakui bahwa pameran ini adalah rangkaian acara Pentas Seni Religi yang diadakan oleh Dikbud Provinsi NTB. Oleh karena itu tak mengherankan jika di dalam galeri pengunjung menemukan beberapa lukisan kaligrafi.
Ucapan di atas memang benar adanya. Agus Fn banyak mencoba, melukis kaligrafi, wayang, simbol, dan puisi. Tak hanya lukisan, di bagian belakang terdapat beberapa karya tulisannya, buku-buku yang dipajang, dipigura, dikawat. Teks sinopsis sebagai penggambaran isi buku tersebut berada di bawah buku. Ada juga sebuah bingkai khusus memajang naskah lontar yang ditulis dengan bahasa daerah sasak.
Kidung 1, karya Agus Fn
Puisi "Suatu Siang" karya Agus Fn
Tidak ada kata-kata terpampang yang menjelaskan siapa dan bagaimana Agus Fn itu, pengunjung pameran seolah dibiarkan bentanya-tanya. Bahkan, jika biasanya saat sebelum memasuki pameran, pengunjung dipersilakan untuk mengisi tabel kehadiran, maka sebelum memasuki pameran ini pengunjung diperlihatkan daftar harga buku-buku yang ditulis Agus Fn. Bisa dibilang hanya puisi dan buku terpajanglah kata-kata yang mungkin dapat membuat pengunjung mencari benang merah dalam lukisan-lukisannya.
Banyak pelukis pemula yang mencoba berbagai hal sampai menemukan gaya lukisannya, sebagaimana penulis pemula yang mencoba berbagai genre dan sampai menemukan gaya khas tulisannya. Lukisan-lukisan Agus Fn tak perlu ditanyakan lagi soal gaya. Entah dia sadar atau tidak, dia telah menemukan gayanya sendiri. Ada unsur bentuk dan kata-kata dalam kanvasnya.
Percampuran kata-kata ditemukan dalam lukisan kaligrafi juga tulisan daerah sasak dan 12 lukisan yang berisi puisinya. Semantara percampuran figuratif dan non figuratif pada Lampan Lahat, Pohon Sidrah, Batas Layar 1, Batas Layar 2, dan Wayang. Wayang-wayang dan bentuk digambarkan dengan jelas, tapi latar dibuat tidak jelas, beberapa bahkan samar-samar.
Tidak ada lukisan realis di pameran ini, menikmati lukisan-lukisan Agus Fn seperti menikmati lukisan gaya lama yang tradisional, retro. Seniman memilih warna yang kontras; merah darah dalam kaligrafi Kidung 1 dan Annur-35, biru dongker dan kuning stabilo yang mencolok pada kaligrafi Misteri Ba-Nun, coklat muda yang dilingkupi hitam pada Iqraq.
Gelap-terang dari lukisan-lukisannya sangat jelas, namun hal itu tak dibatasi dengan kontras namun penyatuan dengan gradasi yang super halus dan lembut. Itulah yang menarik dari gaya khas lukisannya.
Batas Layar 1 dan batas Layar 2 karya Agus Fn
Sebagai penulis, Agus Fn belum menemukan gaya. Lukisan-lukisan yang berisi puisinya cenderung bersuara klise, melankolis, galau dan romantisasi. Puisi-puisi seperti itu bahkan dapat dibuat oleh remaja yang sedang gelisah atau dimabuk cinta, tak jelas mengarah ke mana, seperti terlihat hanya curahan hati atau sebagaimana yang kutipan ucapan paling atas, bisa jadi hanya percobaan saja, berusaha menggabungkan kata-kata dan lukisan. Beberapa puisi ditulis latin, beberapa tidak, beberapa lukisan bahkan berlatarkan warna dan bentuk yang kurang sinkron dengan puisi yang ditulisnya.
Buku-buku yang ditulisnya ada yang bersifat akademis dan non akademis, buku akademis Pengantar Bahasa Kawi, Tembang Suluk Tapel Adam, Cupak Gerantang, Babad Metaram, Kajian Manuskrip Takepan Labangkara, Kajian Manuskrip Takepan Purwadaksina, Direktori Masjid Adat di Lombok, Risalah Rinjani, Membaca Arsitektur Sasak, Menuju Masa Depan Peradaban, Kosmologi Sasak, dan Karakter Orang Sasak. Dari judul-judul buku ini tentu pengunjung dapat menyimpulkan Agus Fn fokus pada tema kebudayaan lokal. Buku non akademisnya, dua novel berjudul Sanggarguri dan Jatiswara, dua buku puisinya berjudul Semua adalah Hari Jum’at dan Suluk Tradisi. Agus Fn memang banyak membuat percobaan khususnya pada tulisan-tulisannya.
Beberapa karya buku Agus Fn
Karya Agus Fn matang dan “menyala”, namun hal yang paling disayangkan adalah manajemen pamerannya yang kurang baik. Beberapa lukisannya ada yang miring, miringnya bukan karena disengaja tapi memang pemasangannya tak seimbang. Terlihat pula pemasangan paku yang belum dicopot bekas pameran LAC lalu, juga dinding putih yang mulai mengelupas. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...