“Customer” dan Tukang Perintah – Karikatural Politik
BICARA politik Indonesia pasti tak akan pernah habis. Selalu saja ada yang baru, bahkan lebih sering muncul lucunya ketimbang seriusnya. Terkadang zaman sekarang kita kebingungan....
DELAPAN penari laki-laki memposisikan badannya dalam keadaan duduk bersimpuh di hamparan panggung beralaskan sekam padi. Dalam keadaan duduk itu, pertunjukan dibuka dengan masing-masing empat penari bergerak dari kanan kiri sisi panggung menuju ke tengah berkumpul pada satu titik, kemudian membentuk formasi acak-organik yang menyebar. Satu diantara delapan penari itu bergerak dengan posisi duduk dan merayap dari satu titik ke titik lainnya dengan nanar wajah yang gelisah.
Beberapa sorot lampu yang diposisikan sejar dengan tanah selain memberikan efek dramatis kepada para penampil juga memperjelas efek tekstur pada hamparan sekam yang menjadi alas panggung. Sekam padi itu menjadi representasi kultur agraris yang dibicarakan dalam pertunjukan ini.
Sejak Padi Mengakar, karya koreografer I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra atau akrab dipanggil Gus Bang yang tampil pada program kuratorial pertunjukan The (Famous) Squatting Dance : Membaca Marya (Minggu, 28/04/2024) ini memang berangkat dari kegelisahannya sebagai pemuda Bali. Usai melakukan pengembaraan studi Koreografi selama 7 tahun di Yogyakarta, telah membawa keberjarakan pada tanah kelahirannya. Keadaan berjarak itulah yang membawanya pada sudut pandang yang kritis dan objektif melihat Bali. Koreografi Sejak Padi Mengakar menjadi karya perdana yang menurutnya mewakili idealismenya pasca pulang dari Jogja.
***
Masifnya industri pariwisata di Bali semakin hari menampakkan dampaknya yang cukup serius dewasa ini. Di satu sisi menjadi tumpuan ekonomi, namun di sisi lain telah menimbulkan perubahan lansekap alam dan budaya agraris - komunal menuju masyarakat industri yang individual. Bali Selatan yang menjadi episentrum industri pariwisata sedang menghadapi perubahan tata guna lahan secara signifikan. Data Kementerian Pertanian tahun 2021 mengungkap Bali kehilangan sawah rata-tata 1.568 Hektar setiap tahun. Sawah-sawah subur beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan untuk menunjang industri pariwisata seperti hotel, villa dan resort yang mengabaikan peraturan tata ruang kawasan.

Repertoar Tari Sejak Padi Mengakar | Foto : Amrita Dharma
Fenomena tersebut dirasakan oleh Gus Bang Sada yang tinggal di Banjar Mukti, Desa Singapadu, Gianyar. Sebagai desa yang lekat dengan aktifitas agraris dan kesenian, desa ini telah menjadi jalur perlintasan pariwisata menuju kawasan Ubud. Keadaan ini menyebabkan Singapadu menghadapi dampak perubahan spasial maupun sosial yang cukup signifikan.
Kultur agraris yang telah menubuh pada peradaban Bali selama berabad-abad itu kini mulai bergeser menuju masyarakat industri yang menekankan pada aspek material dan individual. Masyarakat agraris yang mulanya sangat menggantungkan keterhubungannya dengan tanah yang memiliki nilai spiritual sekaligus alat produksi, kini perlahan terputus.
Merespon fenomena ini, Gus Bang menggunakan pendekatan koreografi duduk sebagai pilihan artistic pada repertoar tari Sejak Padi Mengakar. Menurutnya, sikap duduk menyatakan sikap kepemilikan atas lahan sekaligus bentuk adaptasi tubuh atas kondisi ruang yang berubah. Lebih dari itu, sikap duduk juga memiliki korelasi yang erat dengan bumi sebagai sumber kehidupan kebudayaan agraris. Pada masyarakat agraris di Nusantara dan Bali pada khususnya, memandang bumi atau tanah tak hanya bernilai material semata namun juga spiritual.
Pilihan koreografi duduk itu juga terinspirasi dari koreografi tari Kebyar Duduk yang diciptakan oleh Marya. Di awal proses kreatif penciptaan koreografi Sejak Padi Mengakar ini, Gus Bang melatakkan gerakan Kebyar Duduk sebagai pijakan utama koreografinya. Kemudian ia bersama para penampil mengembangkannya menjadi gerakan yang baru. Kebaruan gerakan koreografi itu lahir dari koreografer maupun penampil. Keduanya memiliki independesi masing-masing dalam merespon koreografi duduk disamping kompromi gerakan-gerakan yang telah disepakati bersama.
Duduk Membumi
Jika kita mengamati kekayaan tari di Nusantara, terdapat bahasa tubuh yang cukup mudah kita amati yaitu bentuk-bentuk sikap tubuh yang cenderung mengikuti arah gravitasi bumi alih-alih melawannya. Sehingga banyak dijumpai kosa gerak seperti sikap tubuh yang tidak tegak sempurna. Kosa gerak semacam itu seakan menjadi bahasa universal dalam gerak tari Nusantara.

Repertoar Tari Sejak Padi Mengakar | Foto : Amrita Dharma
Lebih jauh lagi, penulis teringat dengan sebuah obrolan pada lingkar diskusi kecil bersama para performer di Baliseperti Agus Wiratama dkk mengenai metode Suzuki. Metode Suzuki adalah sebuah metode keaktoran yang dikembangkan oleh Tadashi Suzuki dari Jepang dengan prinsip dasar: Energi, pernapasan dan pusat gravitasi. Salah satu prinsip yang cukup menarik perhatian penulis adalah prinsip pusat gravitasi karena memiliki korelasi dengan sikap duduk yang menjadi pilihan artistik yang digunakan Gus Bang pada pertunjukan Sejak Padi Mengakar.
Keterhubungan gravitasi dengan sikap duduk sangat kontras dengan tari barat seperti balet misalnya. Pada tari Balet yang berkembang di Barat gerakannya cenderung melawan arah gravitasi dengan memposisikan sikap tubuh dengan kaki menukik dan mengangkat tubuh keatas seperti melayang diatas lantai. Sedangkan di Nusantara, tari-tarian yang berkembang memiliki kedekatan prinspi dengan metode yang dikembangkan Suzuki. Misalnya, kaki yang menapak sempurna di bumi bahkan sikap duduk seperti yang tarian Kebyar Duduk menjadi bentuk bahasa koreografi yang memposisikan tubuh mendekat dan menyatu dengan bumi atau tanah.
Budaya agraris yang memuliakan tanah sebagai sumber kehidupan direspon melalui sikap duduk sebagai interpretasi kedekatan manusia Bali dengan alamnya. Tanah bukan lagi menjadi entitas atau material diperlakukan seperti halnya benda-benda yang bebas nilai. Sehingga berbagai ekspresi ritus budaya yang berkembang selalu memiliki korelasi yang lekat dengan tanah. Kondisi ini tentu sangat kontradiktif dengan kondisi hari ini, ketika tanah dipandang hanya sebatas entitas material yang tercerabut dari aspek-aspek sejarah dan spiritual yang melekat padanya.

Repertoar Tari Sejak Padi Mengakar | Foto : Amrita Dharma
Pandangan atas tanah yang menjadi ruang hidup manusia dan kebudayaannya beserta ekosistemnya dikikis dengan pandangan materialistik. Akibatnya, tanah hanya sebatas komoditas bernilai ekonomi semata. Keadaan inilah yang menyebabkan perubahan alih fungsi lahan pertanian di Bali masif terjadi. Hegemoni sistem suprastruktur kapitalisme telah menjadi kenyataan yang menjadi tantangan kehidupan masa depan Bali.
Repertoar koreografi Sejak Padi Mengakar ini menjadi bentuk sikap kegelisahan sekaligus protes terhadap keadaan Bali hari ini. Gagasan Gus Bang atas karya ini cukup jelas menyatakan keberpihakannya atas krisis yang dihadapi oleh tanah kelahirannya. Alih-alih terjebak pada romantisme dan kebanggaan semu atas wacana dominan kebudayaan Bali, ia berusaha membangun dan menemukan jalan mengembangkan koreografi Bali dengan pendekatan estetika kontemporer. [T]
BACA artikel ULAS PENTAS atau artikel lain dari ARIF WIBOWO
BICARA politik Indonesia pasti tak akan pernah habis. Selalu saja ada yang baru, bahkan lebih sering muncul lucunya ketimbang seriusnya. Terkadang zaman sekarang kita kebingungan....
KISAH-KISAH ini saya tulis berdasarkan ingatan ketika bertugas menjadi wartawan di sejumlah kabupaten di Bali. Mungkin kisah aslinya tidak persis sama dengan tulisan ini, tapi dija...
HASIL penelitian dan pemetaan DNA orang Bali yang dilakukan tim gabungan ahli-ahli dari berbagai universitas di Amerika: Tatiana M. Karafet (University of Arizona), J S. Lansing (U...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Dongeng-dongeng akhirnya pulang ke tutur kompyang. sesaat sebelum pagi menunjukkan diri. Lalu hari-hari memulai cerita-cerita baru lagi. Segala ya...
UNDANGAN KARYA PUISI FESTIVAL PUISI BANGKALAN 2 FESTIVAL Puisi Bangkalan 2 akan kembali digelar pada April 2017 mendatang. Acara bertajuk “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Ma...
DULU, bagi warga desa-desa di Bali kebiasaan “ngidu di bungut paon”, jadi rutinitas tak resmi setiap pagi, sebelum sarapan, sebelum ke sawah-ladang. Kini kegiatan itu semakin jar...
DALAM sejarah budaya kita, kadang-kadang semangat cinta tanah air dibangun dengan imajinasi premanisme. Artinya masyarakat memproduksi tokoh-tokoh fiktif berlatar belakang preman (...
MASKOT sekolah di Bali Dewi Saraswati. Patung megah dewi ilmu-pengetahuan dibangun di hampir setiap sekolah. Warga sekolah memuja dewi ilmu. Ironisnya, Saraswati seakan dibuat mat...
MENELISIK apa yang telah disampaikan oleh kawan saya, Santiasa Putu Putra dalam tulisannya di tatkala.co, 3 Januari 2017 dengan judul “Teater di Denpasar – Lagi Hibernasi, Lagi Me...
BAGI masyarakat adat atau pakraman di Bali, tanah (baca: pertiwi atau wewidangan) itu “berjiwa”. Karena “berjiwa”, maka tanah diyakini memiliki “energi”. Tentu saja energi yang dap...