JIKA di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya---yang tingkat polusi udaranya lebih tinggi daripada kebutuhan oksigennya---sedang menyambut hajatan internasional dengan cara aksi demo; maka, di Singaraja, Buleleng, Bali, meski tidak demo, para buruh tetap merayakan Hari Buruh, meski dengan cara yang berbeda.
Benar. Setiap tanggal 1 Mei dalam setahun, seluruh buruh dari penjuru dunia sedang memperjuangkan hak-haknya untuk mencapai upah kerja yang adil dan kerja yang manusiawi. Dan, biasanya, dalam merayakan Hari Buruh, para buruh akan menyuarakan aspirasinya dengan cara demonstrasi guna menuntut hak-haknya dalam bekerja.
Sejak pukul 8 pagi, Rabu, 1 Mei 2024, ratusan orang sudah berkumpul di depan Rumah Cantik Kanaya di Jl. Udayana Timur No.2, Singaraja. Mereka berkumpul setelah mendapat kabar akan diadakan “Tenda Makan Gratis” dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional 2024.
“Wah, ramai sekali,” ujar salah satu pengunjung Tenda Makan Gratis, pagi itu. “Iya, padahal belum dibuka,” sahut yang lainnya.
Terhitung hanya sehari penyebaran poster tenda makan gratis tersebut, tapi antusiasme masyarakat dalam menyambut kegiatan pagi itu benar-benar meriah. Antrean terlihat mengular dari halaman depan Rumah Cantik Kanaya sampai di depan lapangan Singaraja Futsal.
Meski harus berdesak-desakan, di bawah terik matahari yang mulai menghangat, para pengunjung yang terdiri dari Ibu-ibu, anak-anak, mahasiswa, hingga tukang ojek itu, bertumpah-ruah dalam harmonisnya Hari Buruh di Singaraja.
Panitia sedang menyiapkan bahan-bahan makanan | Foto: Yudi Setiawan
Seperti Bima, misalnya. Mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, itu mengaku bahwa kegiatan tersebut adalah kegiatan yang sangat membantu masyarakat di Singaraja.
“Ini beda, tak seperti peringatan hari buruh di kota-kota lainnya. Kalau di sana demo, di sini malah bagi-bagi makanan,” jelasnya.
Ia mengaku sudah berada di tempat antrean sejak pukul 8 pagi. “Saya di sini sudah sekitar satu jam, rame sekali, jadi antrenya lumayan lama,” katanya.
Namun nahas. Ia bercerita, di sela-sela antrean, karena berdesak-desakan, tangan kanan mahasiswa asal Nusa Tenggara Barat itu terluka akibat tersenyuh alat penggorengan yang masih panah. “Karena asyik berdesak-desakan, sampai tangan saya melepuh terkena penggorengan,” jelasnya.
Sesaat setelah memberi jeda, ia menambahkan, “Tapi tak apa, lumayan, dapat sarapan gratis,” ujarnya sembari menunjukan dua bungkus nasi goreng dengan senyum sumringah dari wajahnya.
Jika para pengunjung disibukan dengan antrean yang semakin memadat, di sisi lain, para panitia yang berpakaian ala chef restoran berbintang itu---tentu dengan pakaian serba putih lengkap dengan hat cook-nya— tampak kewalahan menyiapkan kudapan untuk disiapkan diatas meja.
Meski begitu, tak ada satu pun raut wajah muram yang terpancar dari mereka. Pagi itu, mereka terlihat sangat bahagia—meski, sekali lagi, napas dan degup jantungnya tak bisa menutupi rasa lelahnya.
Menurut Made Surya Regita, selaku Koordinator Oprasional Govinda’s Kitchen, kegiatan tersebut merupakan sebuah bentuk partisipasi dalam merayakan Hari Buruh Internasional. Dan, sebuah upaya kepeduliannya terhadap kebutuhan makanan sehat bagi masyarakat.
Pantia sedang menyiapkan makanan | Foto: Yudi Setiawan
“Kami dari Komunitas Govinda’s Kitchen, merasa prihatin dengan maraknya makanan fast food yang dikonsumsi masyarakat. Maka, bentuk kepedulian kami adalah dengan cara berbagi karunia Tuhan dalam bentuk makanan sehat yang berbahan sayur-sayuran dan rempah-rempah,” jelasnya, saat ditemui di sela-sela kesibukannya.
Dalam perayaan Hari Buruh Internasional tahun 2024, Komunitas Govinda’s Kitchen mengajak anak-anak muda yang tergabung di dalam komunitas tersebut untuk turut berpartisipasi dalam keegiatan pagi itu.
“Panitianya dari kami sendiri, dan kebanyakan para anak-anak di usia muda. Tentu ini sebuah upaya untuk membuat para generasi muda agar memiliki jiwa kepedulian sosial,” kata Regita.
Total sebanyak 2000 porsi makanan yang dibagikan pada kegiatan tersebut. Seperti penuturan Made Surya, 2000 porsi makanan tersebut terbagi dalam berbagai macam menu. Antara lain, nasi goreng rempah Bali, geprek tahu tempe terong, dan berbagai minuman berbahan rempah-rempah lainnya.
“Karena ada keterbatasan waktu, jadinya kami hanya membagikan sebanyak dua ribu porsi makanan saja. Kalau ada waktu lebih, pasti porsinya akan kami tambah,” jelasnya.
Mengenai komunitas ini, menurut penjelasan Ratna Kanaya, selaku sponsor dari kegiatan tersebut, Komunitas Govinda’s Kitchen merupakan sebuah wadah pecinta makanan yang berbasis tumbuh-tumbuhan dan sayur-sayuran.
“Prinsipnya adalah, kami memiliki konsen terhadap bagaimana menjaga lingkungan dari pemanasan global. Meski yang kami lakukan ini diibaratkan hanya setetes air dari apa yang sudah orang lain lakukan, tapi melalui cara kami dalam memopulerkan gaya hidup plant based food, saya yakin, suatu saat, kesehatan masyarakat akan menjadi lebih baik,” jelas perempuan yang sekilas mirip artis nasional, Ayu Laksmi itu.
Usaha memopulerkan gaya hidup sehat tersebut mereka lakukan dengan beragam cara. Salah satunya dengan cara meramu berbagai macam rempah-rempah ke berbagai makanan yang mereka konsumsi.
Olahan yang sangat mencerminkan nuansa tradisional—yang Ratna sebut sebagai bumbu kampung—adalah sebuah upaya, selain mengenalkan kekayaan olahan tradisional Indonesia, juga merupakan upaya memopulerkan makanan sehat yang berbasis olahan tradisional.
Made Surya Regita, Ratna Kanaya, dan panitia | Foto : Yudi Setiawan
Menurut Ratna, Komunitas Govinda’s Kitchen sering mengadakan kegiatan berbagi makanan setiap satu minggu sekali. “Setiap minggu kami selalu berbagi makanan. Tentunya makanan sehat,” jelasnya dengan bangga.
Masih dengan semangat rasa bangganya, Ratna menambahkan, “Untuk live cooking, kami sering berkeliling. Pernah di Kintamani, di Ubud beberapa kali, dan kami sering bekerja sama dengan komunitas-komunitas yang bergerak di bidang sosial, dengan cara suport konsumsinya.”
Seperti tagline yang sering mereka gaungkan, “Makan Vegetariant itu enak, loh”, Komunitas Govinda’s Kitchen berharap masyarakat lebih mencintai makanan yang berbasis sayur-sayuran dan kacang-kacangan di masa yang akan datang.
“Harapan kami, agar nantinya masyarakat lebih suka mengonsumsi makanan sehat. Tentunya itu baik dilakukan untuk memutus budaya memakan makanan instan,” ujar Ratna.
Ia merasa prihatin dengan hal tersebut. Menurutnya, industri yang mengomersialkan makanan-makanan instan di Indonesia pertumbuhannya sangat masif. Padahal, menurutnya, di saat yang sama, jumlah anak-anak muda yang menderita penyakit degeneratif juga semakin meningkat.
Atas dasar rasa kepedulian dan rasa cintanya terhadap makanan sehat, yang mereka populerkan, membuat Komunitas Govinda’s Kitchen akan terus mengampanyekan makanan vegetarian supaya di masa mendatang banyak generasi yang mencintai makanan berbasis sayur-sayuran—yang menurut mereka lebih sehat daripada daging.[T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...