HARI itu, 28 April, Gede Wijaya duduk mematung di pinggiran Catuspata Semarapura. Di Catuspata, berdiri kokoh patung nyama catur, Anggapati, Mrajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Empat kekuatan alam yang seakan menjaga kota Semarapura itu dari timur, selatan, barat, dan utara.
Kebetulan, hari itu tidaklah terlalu ramai. Hanya beberapa mobil dan sepeda motor menuju pasar Semarapura membawa dagangan. Satu dokar masih setia menemani kota Semarapura dengan irama gemerincingnya. Transportasi tanpa polusi ini telah terberangus oleh kemajuan tekanologi. Satu dokkar itu sebagai pencatat bahwa di kota Semarapura pernah ada transportasi yang mencintai lingkungan.
Mata Gede Wijaya seakan tak pernah diam. Ia perhatikan taman Kertagosa yang sudah menjadi objek wisata. Taman itu tepat berada di samping Catuspata seakan sebagai penguat bahwa Catuspata itu sakral. Ia merasakan Catuspata itu membagi kota Semarapura menjadi empat, yang membangun keseimbangan semesta.
Ia alihkan matanya ke utara. Ia lihat bangunan berbentuk lingga. Ia pernah memasuki bangunan itu di dalamnya ada relief perjalanan Semarapura. Di sebelah timur, bangunan pertokoan, ada yang masih menyisakan ukiran khas Bali, ada juga yang tak terlihat lagi nuansa kebaliannya.
Tiba-tiba, Gede Wijaya merasa merinding. Ketakutan merasuki jiwanya. Ia melihat lautan darah di Catuspata itu. Matanya dikucek-kuceknya. Hatinya terseret dalam ketakutan teramat sangat. Ia mau menjerit, tapi takut. Takut karena hanya ia saja yang melihatnya.
Orang-orang lain masih terlihat nyaman lalu lalang di sana. Tubuhnya berkeringat. Ia mengelap tubuhnya. “Ini darah siapa?” tanyanya. “Apa darah ini, darah kesatria yang gugur saat Puputan Klungkung? Atau ini hanya ilusi saja?”
Istrinya yang berada tidak terlalu jauh dipanggilnya. “Tu, apa yang kau lihat di Catuspata itu?”
“Bli ini gimana? Memangnya saya ini tidak waras. Ia jelas empat patung nyama catur yang menjaga keseimbangan Semarapura. Memangnya kenapa?”
“Oh, ndak. Bli juga melihatnya seperti itu.” Gede Wijaya menyembunyikan mata hatinya. “Ayo kita pergi dari sini. Kita ke sana saja ke lapangan Puputan. Kita olahraga ringan saja di sana.”
Istrinya semakin tidak mengerti dengan perubahan suaminya. “Katanya mau menikmati Catuspata. Kenapa tiba-tiba berubah?”
“Ya, sudah cukup. Nanti Bli lanjutkan.”
Selama dalam perjalanan, ia mendengar teriakan, “Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaan!” Irama kekawin Bharatayuddha tergiang-ngiang di telinganya, Sang Shura mrihayadnya ring samara mahyun manghilangaken ikang parang mukha....” Suara tembakan terasa menembak jantungnya. Ia dekap jantungnya. Getarannya masih ada.
Jeritan dan bau amis darah seperti mengikuti langkahnya. Peluhnya semakin merembes saja. Istrinya mengira bahwa itu sebagai dampak dari jalan kaki dari Catuspata ke lapangan Puputan. Ia bersama istrinya mengitari lapangan Puputan beberapa kali.
“Gimana Bli, apa lagi ke Catuspata?”
Ia pegang tangan istrinya. Ia susuri trotoar. Ia lihat di samping Kertagosa, Pemedal Agung sebagai saksi sejarah Puri Semarapura. Hatinya semakin bergetar melihat bangunan tua itu menyimpan sejarah Semarapura. Kembali, ia menatap Catuspata. Kembali matanya melihat lautan darah.
Ia bertanya-tanya dalam hati,”Ada apa sebenarnya hari ini?” Ia berusaha menenangkan hatinya. Ia minum air putih dalam beberapa tegukan. Ia ingin memastikan kebenaran matanya. Ia lawan kata hatinya. Ia kelilingi Catuspata itu tiga, murwadaksina. Ia merasakan jeritan-jeritan puputan menggema di sana.
“Di sinilah darah kami tumpah demi tanah tercinta ini. Ratusan jiwa membela bumi ini demi sebuah harga diri. Di bawah kakimu itu ada darah memerah yang masih basah. Lihatlah telapak kakimu.” Gede Wijaya mengangkat kakinya. Ia perhatikan telapak kakinya. Tak ada tetesan darah. Tak ada yang kurang dengan telapak kakinya.
Canang sekar yang masih mengharumi Catuspata menusuk hidungnya. Ia hirup keharuman itu hingga menyusuri pori-pori tubuhnya. Ia sedikit merasakan ketenangan. Orang-orang menuju pasar Semarapura semakin ramai saja.
“Bli di sini dulu. Tiang mau ke tengah pasar sebentar.” Istrinya meninggalkan dirinya di Catuspata. Setelah hitungan ketiga kali, ia menepi. Diperhatikanlah patung nyama catur dari atas sampai ke bawah. Ia rasakan getaran sampai ke tubuhnya. Ia rasakan nyama catur itu memasuki tubuhnya.
“Sering-seringlah ke sini. Aku adalah saudaramu. Itu saudaramu telah mengorbankan jiwanya demi tanah tercintanya. Kau sendiri apa sudah diperbuat? Apa tidak malu dengan saudaramu yang jiwanya dibaktikan pada bumi ini? Ini demi cintanya pada Semarapura. Kau sudah diberikan kemudahan dengan segala pelayanan. Apa yang sudah kau berikan? Kau hanya menggerogti tanah kelahiranmu saja.”
Gede Wijaya mau menjerit. Syukur titik kesadarannya masih ada. Ia kendalikan hatinya. Ia merasa selama ini tak pernah memberikan sesuatu pada tanah kelahirannya. Ia merasa bersalah. Di usia yang sudah seperti dirinya dengan istri yang setia menemaninya, tak pernah memberikan apapun pada tanah kelahirannya. “Apa itu yang menyebabkan ia seperti melihat darah memerah di Catuspata?”
Ia langkahkan kakinya mau menyusul istrinya. Tapi, hatinya tersedot untuk tetap berdiri di Catuspata. Ada sepasang mata yang memerhatikannya sedari awal. Ia dekati Gede Wijaya. “Pak Gede ada apa. kok dari tadi terus di Catuspata?”
“Oh, ndak. Hanya ingin mengelilinginya saja.”
“Tapi, Pak Gede sedari pagi di sini? Itu matahari sudah meninggi.”
Gede Wijaya tak menjawab. Ia tatap wajah laki-laki itu. Semakin ditatap semakin memudar. Gede Wijaya mengucek-ngucek matanya. Ia tadi berbicara dengan siapa? Ia langkahkan kakinya mau meninggalkan Catuspata, tapi setiap melangkah telinganya mendengar terikan, "Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Puputaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!” [T]
Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang d...
"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."
KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaba...
SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belaka...
Tuhan Beri Aku Waktu
Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku merindumu tak terbatas waktuselagi napas ini bergelayut...
“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.”
PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika permukaan. Kemegahan ko...
PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab moral dan sosialnya dalam m...
SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan fil...
“Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?"
KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade lalu, karya eksplorasi busana yang ia tampilkan di...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING INTERCULTURAL AWA...
BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma solar, dan tubuh-tubuh kekar dengan peluh bergulir...