Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
KEBERADAAN pemain naturalisasi pada kesebelasan Indonesia selalu menarik untuk didiskusikan dan selalu memancing kontroversi. Kalau Timnas Indonesia menang, pemain naturalisasi pasti dipuji, jika hasil yang diraih sebaliknya tak dipungkiri bakal dicaci. Pemain naturalisasi itu kebanyakan berasal dari negeri kincir angin.
Satu dari sekian banyak warga Belanda berdarah Indonesia yang dinaturalisasikan adalah Chelsea Hemsen. Eit tunggu dulu, jangan cari nama ini pada skuad asuhan Pelatih Timnas Shin Tae-yong. Chelsea berpredikat "pemain naturalisasi" pada pengembangan Agrowisata Kunang-Kunang di Rumah Konservasi Kunang-Kunang Tegal Dukuh Camp, Desa Taro, Tegallalang, Gianyar.
"Darah Indonesia yang mengalir di tubuh saya, memantik semangat saya untuk datang kesini memahami berbagai hal sosial-budaya lokal dan berkontribusi sekecil apapun bagi negeri leluhur saya disini," tutur Chelsea berapi-api.
Dia pun bercerita silsilah keluarganya, dia sebagai warga Belanda yang memiliki nenek moyang berdarah Indonesia.
"Nenek saya dan juga kakek saya keturunan Jawa, mereka pernah tinggal di Surabaya dan Malang, sebelum pindah dan menetap di Belanda," tutur Chealse dengan raut muka berseri.
Sayangnya, kata dia, baik kakek dan neneknya meninggal Bahasa Indonesia dalam komunikasinya setelah tinggal di Belanda sehingga orang tuanya dan dia tak ada yang fasih berbahasa Indonesia.
Chelsea Hemsen datang ke Indonesia pertama kali pada akhir tahun 2022 untuk observasi dan menggali ide thesis yang digunakan sebagai syarat menyelesaikan kuliah di M.Sc. programme bidang pembangunan internasional.
Chealse Hemsem ingin meneliti dampak pariwisata terhadap eksistensi subak di Bali. Di tengah eksplorasinya terkait organisasi pertanian lahan basah itu dia menemukan destinasi pariwisata alternatif yakni Agrowisata Kunang-Kunang yang dikembangkan I Wayan Wardika, S.ST.Par di Tegal Dukuh Camp Desa Taro.
"Ternyata ada daya tarik wisata dikembangkan jauh dari upaya mengeksploitasi budaya dan alam Bali, saya sangat mengapresiasi ini," katanya sambil menoleh Wayan Wardika saat penulis memenuhi undangannya bertandang ke tempat dia mengeluti side job disela-sela kesibukannya menulis thesis.
Satu hal yang membuat mata Chelsea terbelalak di Tegal Dukuh adalah niat Wayan Wardika mengembangkan pertanian organik untuk mengkonservasi kunang-kunang. Bagi sebagaian orang, kunang-kunang bukanlah jenis hewan bernilai ekonomis tinggi sehingga layak dikembangkan. Oleh karenanya, Chelsea menawarkan diri menjadi salah satu pihak menyokong keberlanjutan agrowisata kunang-kunang.
Chelsea pun bertindak sebagai ambassador atau tenaga pemasaran destinasi pariwisata tersebut di luar negeri utamanya Belanda. Dia bersama rekannya mempromosikan Tegal Dukuh Camp melalui website dan IG bringbackthelight.org.
"Penjualan paket wisatanya saya langsung ke sekolah atau universitas di Belanda, biasanya di setiap universitas di Belanda ada kegiatan karya siswa ke luar negeri," jelas Chelsea. Bukti kegigihan Chelsea ketika mampu merubah rencana kegiatan karya siswa Universitas Breda yang semula di jadwalkan ke negara lain ditarik untuk berkunjung ke Tegal Dukuh.
Jumat (19/4/2024) rombongan karya siswa Breda University menikmati Tri Hita Karana Jurney di Tegal Dukuh Camp dan ini rombongan pertama yang diinisiasi dan didampingi Chelsea.

Siswa Breda University menikmati Tri Hita Karana Jurney di Tegal Dukuh Camp | Foto: Made Sarjana
Wayan Wardika selaku pemilik dan pengelola Tegal Dukuh Camp kesan mahasiswa Breda University sangat bagus terbukti mereka menyatakan bersedia merekomendasikan ke jejaring sosialnnya agar berkunjung dan jug akan melakukan revisit.
Mantan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Taro ini bercerita kontribusi Chelsea sangat vital dalam menyokong keberlanjutan rumah konservasi kunang-kunang Tegal Dukuh Camp.
"Jujur semula saya tidak memperhitungkan curuk pasar mahasiswa di luar negeri, tetapi kehadiran Chelsea sebagai mitra dalam pemasaran telah memotivasi dan menguatkan tekad saya untuk memperdalam pengetahuan terkait kunang-kunang sehingga kualitas produk pariwisata berbasiskan alam dan budaya pertanian semakin meningkat," papar Wardika.
Bagi Wardika, kunang-kunang memiliki aspek kultural dan kesehatan lingkungan bagi masyarakat Bali. Secara kultural, jelasnya, masyarakat Bali meyakini kunang-kunang sebagai simbul lampu penerangan perjalanan arwah leluhur menuju sorga. Dalam konteks, alam menunjukkan populasi kunang-kunang yang banyak berarti lingkungan pertanian di lokasi tersebut sehat, tanahnya tidak diolah dengan mesin/traktor dan tidak menggunakan pupuk maupun pestisida kimia.
"Buktinya, kunang-kunang populasinya yang paling banyak ada di setra," kata Wardika menguatkan asumsinya.
Ditambahkan, aspek ilmiah kunang-kunang dieksplorasi di laboratorium dengan tiga peneliti berkualifikasi S1, dan seorang supervisor berkualifikasi S3. Supervisor ini, katanya, untuk membantu mengidentifikasi spesies kunang-kunang. Dijelaskan, berdasarkan habitatnya kunang-kunang ada dua jenis, yang hidup di air dan yang hidup di darat.
Menariknya, seekor kunang hanya menghadirkan keindahan pada keheningan malam selama 22 hari, namun perjuangannya untuk mencapai fase ‘indah pada waktunya’ selama 1,5 tahun dengan 9 tahapan. Seekor betina kunang-kunang menghasilkan telor sekitar 300 butir namun yang berhasil menyelesaikan fase dewasa dengan lampu menyala indah kadang hanya satu atau dua ekor saja. Jadi persentase keberhasilan melewati rintangan dalam siklus hidup kunang-kunang sangat kecil.
“Inilah fakta kehidupan, walau sangat berat dan persaingan ketat tetaplah berjuang dengan semangat tinggi, jangan pernah berputus asa,” ujar pria yang bertindak sebagai mentor pada pengembangan sejumlah desa wisata di Bali dan di luar Bali itu.

Siswa Breda University menikmati Tri Hita Karana Jurney di Tegal Dukuh Camp | Foto: Made Sarjana
Chelsea pun menceritakan pengalamannya pertama kali melihat kunang-kunang. Kala itu dia baru tamat SMA dan sedang kebingungan memutuskan mau mengambil jurusan apa dijenjang pendidikan S1.
Suatu malam dia bersama teman-temannya melintas di sekitas kuburan di Belanda dan dia tertarik dengan sinar kelap-kelip yang indah dikuburan. Saat diranyakan kepada orang tuanya, sinar itu berasal dari hewan yang disebut kunang-kunang. Ajaibnya, pasca kejadian itu Chelsea punya keteguhan hati untuk mengambil keputusan menempuh S1 Jurusan Pariwisata di Universitas Breda.
"Kini saya mendapatkan kerja sampingan di rumah konservasi kunang-kunang ditengah kegelapan menyelesaikan thesis. Ternyata pariwisata dan kunang-kunang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup saya," seloroh Chelsea.
Boleh dibilang Chelsea kini mendapatkan pencerahan dari semboyan Pahlawan Nasional RA Kartini: Habis Gelap, Terbitlah Terang. Sinar terang itu dari gemerlap sinar ratusan kunang-kunang yang dibudidayakan di Tegal Dukuh Camp. Selamat Hari Kartini buat Chelsea dan perempuan berdarah Indonesia dimana pun berada. [T]
Penulis: Made Sarjana
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...