Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
TAK banyak penyair dalam lanskap sastra Jawa Kuno atau Bali yang menuturkan sejarah kehidupannya. Alih-alih menceritakan perjalanan hidup, para sastrawan itu juga seringkali menggunakan nama pena sehingga kehidupan pribadinya nyaris tak terlacak. Kalau pun harus menceritakan perasaan, pengalaman, dan pengetahuan pribadi, mereka biasanya melakukan sublimasi dengan menciptakan tokoh baru atau memainkan tokoh-tokoh yang sudah ada melalui proses penggubahan. Intinya, sebisa mungkin pengarang tidak “narsis” dalam karyanya.
Berbeda dari sejumlah kecenderungan di atas, Ida Padanda Made Sidemen membuat dokumentasi tentang kisah hidupnya dalam Geguritan Salampah Laku. Melalui karya sastra tersebut, kita dapat mengetahui bahwa di balik figur legendaris seorang Ida Padanda Made Sidemen, ia sesungguhnya adalah manusia biasa yang tak bisa lepas sepenuhnya dari suka-duka putaran jantra kehidupan.
Sesekali memandang Ida Padanda Made Sidemen sebagai manusia biasa yang terdiri atas darah, daging, pikiran, perasaan, dan jiwa menjadi penting agar figurnya tidak terlalu jauh dari keseharian. Apresiasi berlebihan tak jarang menjadikan seorang figur disangka tokoh mitologis yang tak pernah menapak tanah dan selalu mampu menyelesaikan persoalan dengan sempurna. Padahal, kecenderungan itu secara tidak langsung akan membuat tokoh yang bersangkutan kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Geguritan Salampah Laku agaknya diniatkan oleh Ida Padanda Made Sidemen untuk menunjukkan sisi kemanusiaannya itu. Ia sebagai seorang manusia juga mengalami tantangan dan masalah dalam membina kehidupan rumah tangganya. Menikah dengan cara kawin lari atau lumayati wong kanyaka pada umur dua puluh tujuh tahun tidak lantas membuatnya bersama sang istri langsung sukses mengayuh perahu kehidupan. Meskipun taruhan seseorang yang menikah dengan cara kawin lari adalah kemurnian cinta, istri Ida Padanda Made Sidemen walaka ternyata tidak secara serta merta bisa meninggalkan pola kehidupan masa mudanya.
Sang istri selalu ingat jasa-jasa orang tuanya yang belum sempat dibalasnya secara tuntas. Ia juga berharap suatu saat jika kembali menitis sebagai manusia, dirinya akan kembali ke Sanur untuk melanjutkan bakti kepada kedua orang tuanya. Pilihan untuk menikahi Ida Padanda Made Sidemen ketika masih muda menyebabkan Ia merasa sebagai seorang anak perempuan yang nista karena selalu mengikuti kesenangan. Ia lupa pada hutang cinta kasih yang telah dilimpahkan oleh orang tuanya sejak kecil hingga dewasa.
Bagaimanakah sikap Ida Padanda Made Sidemen menanggapi keluh kesah istrinya yang sedang berada di puncak kesedihan? Geguritan Salampah Laku merekam respon Ida Padanda Made Sidemen yang berusaha meneguhkan dan meneduhkan batin istrinya dengan ungkapan sebagai berikut.
Duh Ratu Denda mas mirah, sampun ida walangati, manyacad lacur pawakan, katiba ring wong kasesi, idepang kula keli, basa gegawane lebur, nganutang teken genah, tan hana papa pinanggih, nama luhur, wong tan lepas dening parab.
Terjemahannya, “wahai engkau dinda emas permataku, janganlah engkau berkecil hati, menghina diri sendiri, berjodoh dengan orang sengsara, andaikan diri seperti orang biasa, kebiasaan sebelumnya lebur, sesuaikan dengan tempat, tak akan ada dosa yang ditemui, nama luhur, manusia tidak akan pernah lepas dari predikat”.
Pesan Ida Padanda Made Sidemen kepada istrinya di atas pada intinya berpusat pada frase nglebur basa gegawan “melebur kebiasaan lama”. Ungkapan itu dapat dimaknai sebagai kemampuan adaptasi diri yang cepat untuk menghadapi berbagai keadaan.
Pendeta yang menyatu dengan keabadian pada umur 126 tahun ini mengartikulasi pentingnya kemampuan adaptasi diri atau melebur kebiasaan lama bagi seseorang yang baru menikah tersebut dengan ungkapan anutang teken genah “sesuaikan dengan ruang”. Jaminan bagi seseorang yang mampu melakukan adaptasi diri dengan cepat itu menurut Ida Padanda Made Sidemen adalah tan hana papa pinanggih, nama luhur “terbebas dari noda atau dosa perbuatan dan nama yang baik”.
Itulah pesan Ida Padanda Made Sidemen kepada istrinya, termasuk juga kepada kita semua yang ingin belajar tentang cara menghadapi berbagai masalah rumah tangga dalam lautan kehidupan. Di satu titik, seseorang memang mesti bersiap dan berani melebur kebiasaan lama demi memberikan kesempatan pada kebiasaan baru bertumbuh. Gugurnya daun tua dari suatu pohon, tidak berarti ia membenci ranting. Justru, lepasnya daun tua itu memberikan kesuburan bagi akar dan memberikan kesempatan kepada daun baru tumbuh.
Dalam konteks ini, bukan hanya sang istri yang harus melebur kebiasaan lamanya, tetapi pada saat yang bersamaan juga sang suami dan keluarganya. Kebiasaan yang dimaksud bisa jadi mulai dari cara berpikir, berbicara, sampai berperilaku. Bukankah seseorang yang baru menikah sering diberi ucapan selamat menempuh hidup baru?
Konsep nglebur basa gegawan tentu tidak saja penting bagi proses adaptasi seseorang yang baru menikah. Akan tetapi, jauh lebih dalam daripada itu, kemampuan adaptasi ini penting bagi seseorang untuk siap menghadapi tantangan dan perubahan kehidupan di tahun-tahun yang akan datang. Jangankan menghadapi kehidupan, orang yang ingin mencapai kebebasan penuh di penghujung waktu hidup di dunia juga harus berani nglebur basa gegawan, bahkan agama sekalipun! [T]
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...