“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
TAK banyak penyair dalam lanskap sastra Jawa Kuno atau Bali yang menuturkan sejarah kehidupannya. Alih-alih menceritakan perjalanan hidup, para sastrawan itu juga seringkali menggunakan nama pena sehingga kehidupan pribadinya nyaris tak terlacak. Kalau pun harus menceritakan perasaan, pengalaman, dan pengetahuan pribadi, mereka biasanya melakukan sublimasi dengan menciptakan tokoh baru atau memainkan tokoh-tokoh yang sudah ada melalui proses penggubahan. Intinya, sebisa mungkin pengarang tidak “narsis” dalam karyanya.
Berbeda dari sejumlah kecenderungan di atas, Ida Padanda Made Sidemen membuat dokumentasi tentang kisah hidupnya dalam Geguritan Salampah Laku. Melalui karya sastra tersebut, kita dapat mengetahui bahwa di balik figur legendaris seorang Ida Padanda Made Sidemen, ia sesungguhnya adalah manusia biasa yang tak bisa lepas sepenuhnya dari suka-duka putaran jantra kehidupan.
Sesekali memandang Ida Padanda Made Sidemen sebagai manusia biasa yang terdiri atas darah, daging, pikiran, perasaan, dan jiwa menjadi penting agar figurnya tidak terlalu jauh dari keseharian. Apresiasi berlebihan tak jarang menjadikan seorang figur disangka tokoh mitologis yang tak pernah menapak tanah dan selalu mampu menyelesaikan persoalan dengan sempurna. Padahal, kecenderungan itu secara tidak langsung akan membuat tokoh yang bersangkutan kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Geguritan Salampah Laku agaknya diniatkan oleh Ida Padanda Made Sidemen untuk menunjukkan sisi kemanusiaannya itu. Ia sebagai seorang manusia juga mengalami tantangan dan masalah dalam membina kehidupan rumah tangganya. Menikah dengan cara kawin lari atau lumayati wong kanyaka pada umur dua puluh tujuh tahun tidak lantas membuatnya bersama sang istri langsung sukses mengayuh perahu kehidupan. Meskipun taruhan seseorang yang menikah dengan cara kawin lari adalah kemurnian cinta, istri Ida Padanda Made Sidemen walaka ternyata tidak secara serta merta bisa meninggalkan pola kehidupan masa mudanya.
Sang istri selalu ingat jasa-jasa orang tuanya yang belum sempat dibalasnya secara tuntas. Ia juga berharap suatu saat jika kembali menitis sebagai manusia, dirinya akan kembali ke Sanur untuk melanjutkan bakti kepada kedua orang tuanya. Pilihan untuk menikahi Ida Padanda Made Sidemen ketika masih muda menyebabkan Ia merasa sebagai seorang anak perempuan yang nista karena selalu mengikuti kesenangan. Ia lupa pada hutang cinta kasih yang telah dilimpahkan oleh orang tuanya sejak kecil hingga dewasa.
Bagaimanakah sikap Ida Padanda Made Sidemen menanggapi keluh kesah istrinya yang sedang berada di puncak kesedihan? Geguritan Salampah Laku merekam respon Ida Padanda Made Sidemen yang berusaha meneguhkan dan meneduhkan batin istrinya dengan ungkapan sebagai berikut.
Duh Ratu Denda mas mirah, sampun ida walangati, manyacad lacur pawakan, katiba ring wong kasesi, idepang kula keli, basa gegawane lebur, nganutang teken genah, tan hana papa pinanggih, nama luhur, wong tan lepas dening parab.
Terjemahannya, “wahai engkau dinda emas permataku, janganlah engkau berkecil hati, menghina diri sendiri, berjodoh dengan orang sengsara, andaikan diri seperti orang biasa, kebiasaan sebelumnya lebur, sesuaikan dengan tempat, tak akan ada dosa yang ditemui, nama luhur, manusia tidak akan pernah lepas dari predikat”.
Pesan Ida Padanda Made Sidemen kepada istrinya di atas pada intinya berpusat pada frase nglebur basa gegawan “melebur kebiasaan lama”. Ungkapan itu dapat dimaknai sebagai kemampuan adaptasi diri yang cepat untuk menghadapi berbagai keadaan.
Pendeta yang menyatu dengan keabadian pada umur 126 tahun ini mengartikulasi pentingnya kemampuan adaptasi diri atau melebur kebiasaan lama bagi seseorang yang baru menikah tersebut dengan ungkapan anutang teken genah “sesuaikan dengan ruang”. Jaminan bagi seseorang yang mampu melakukan adaptasi diri dengan cepat itu menurut Ida Padanda Made Sidemen adalah tan hana papa pinanggih, nama luhur “terbebas dari noda atau dosa perbuatan dan nama yang baik”.
Itulah pesan Ida Padanda Made Sidemen kepada istrinya, termasuk juga kepada kita semua yang ingin belajar tentang cara menghadapi berbagai masalah rumah tangga dalam lautan kehidupan. Di satu titik, seseorang memang mesti bersiap dan berani melebur kebiasaan lama demi memberikan kesempatan pada kebiasaan baru bertumbuh. Gugurnya daun tua dari suatu pohon, tidak berarti ia membenci ranting. Justru, lepasnya daun tua itu memberikan kesuburan bagi akar dan memberikan kesempatan kepada daun baru tumbuh.
Dalam konteks ini, bukan hanya sang istri yang harus melebur kebiasaan lamanya, tetapi pada saat yang bersamaan juga sang suami dan keluarganya. Kebiasaan yang dimaksud bisa jadi mulai dari cara berpikir, berbicara, sampai berperilaku. Bukankah seseorang yang baru menikah sering diberi ucapan selamat menempuh hidup baru?
Konsep nglebur basa gegawan tentu tidak saja penting bagi proses adaptasi seseorang yang baru menikah. Akan tetapi, jauh lebih dalam daripada itu, kemampuan adaptasi ini penting bagi seseorang untuk siap menghadapi tantangan dan perubahan kehidupan di tahun-tahun yang akan datang. Jangankan menghadapi kehidupan, orang yang ingin mencapai kebebasan penuh di penghujung waktu hidup di dunia juga harus berani nglebur basa gegawan, bahkan agama sekalipun! [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...