KETUT Marya atau biasa ditulis dengan nama Maria, atau Mario, punya sejarah hidup dan sejarah kesenimanan yang panjang, bahkan cenderung kompleks. Tak heran, banyak hal yang tak diketahui dari kehidupan Mario, sang seniman tari yang menciptakan Tari Igel Jongkok/Kebyar Duduk dan Oleg Tamulilingan itu.
Budayawan I Made Bandem, atau biasa dipanggil Prof Bandem, punya cerita banyak tentang Mario, termasuk cerita-cerita yang selama ini jarang diketahui orang. Dalam konferensi pers festival bertajuk ”The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya” di ITB Stikom Bali, Sabtu, 13 April 2024, Bandem bercerita tentang Mario dan hal-hal yang belum banyak diketahui.
Festival ”The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya” sendiri akan digelar di Puri Kaleran Tabanan, 26-28 April 2024, dan Prof Bandem akan bercerita lebih lengkap pada festival yang diadakan Mulawali Institute itu.
Namanya I Ketut Marya, biasa juga ditulis Maria, Hanya peneliti-peneliti dari Eropa dan AS — dengan lidah Barat, tentunya — menyebutnya dengan nama I Mario. Nama itu kemudian lebih populer dari nama sesungguhnya. Nama I Mario abadi, karena nilai pemberontakannya yang kental terhadap gerak-gerak tari Bali. Ia dianggap pencipta karakter gerak yang khas, keras sekaligus romantis.
Ada banyak tulisan tentang Mario. Namun Prof Bandem punya banyak cerita tentang sejumlah hal yang sepertinya belum banyak diketahui orang. Apa saja itu?
Cerita menarik salah satunya adalah pertemuan Mario dengan Soekarno. Ceritanya, sejak usia 25 tahun, Mario terkena penyakit kencing batu. Mario yang lahir pada tahun 1897 itu sempat berobat ke rumah sakit di Wangaya, Denpasar. Namun dokter di Wangaya tidak bisa mengobatinya, dan akhirnya teman-teman terbaik Mario, seperti José Miguel Covarrubias, ia kemudian diajak untuk berobat ke Surabaya. Di situ ia diobati oleh dr. Soetomo yang kemudian kita kenal sebagai pendiri Budi Utomo, sehingga penyakit kencing batu yang dikeluhkan Mario sembuh.
Saat bertemu dr. Soetomo itulah Mario bertemu Soekarno yang kemudian kita kenal sebagai Proklamator Kemerdekaan dan Presiden RI. Saat itu Soekarno sedang bersama dr. Soetomo, tapi bukan untuk urusan berobat.
“Bung Karno tidak berobat melainkan rapat dengan tentang perjuangan kemerdekaan kita itu,” cerita Prof Bandem.
Saat itulah Mario bertemu dengan Soekarno atau Bung Karno. Mario ditanya oleh Bung Karno, “Kamu itu pasti orang Bali ya? Karena kamu pakai kancut, pakai udeng!“
Saat itu Mario belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik, jadi Soekarno menyimpulkan, “Ini orang Bali”.
Bung Karno kemudian cerita ke Mario bahwa ia juga orang Bali.
“Saya juga orang Bali. Bapak saya orang Jawa, ibu saya orang Bali,” kata Soekarno.
Embrio Kebyar Duduk Diduga Tercipta di Busungbiu
Embrio tari Igel Jongkok/Kebyar Duduk, terutama gerakan jongkok yang diciptakan Mario diduga terjadi pertama kali di wilayah Busungbiu, Buleleng. (Kemungkinan ini di Desa Kedis -- tambahan dari penulis)
Prof. I Made Bandem saat bercerita tentang Mario dalam konferensi pers terkait acara Festival ”The (Famous) Squatting Dance: Merayakan Marya” | Foto: Hizkia
Prof Bandem menceritakan, dr. Anak Agung Made Djelantik pernah meng- interview Mario ketika Mario mengajarkan Ayu Bulan Trisna menari sekira tahun 1962. Bulan Trisna adalah anak dr. Anak Agung Made Djelantik yang kemudian dikenal sebagai penari hebat.
Dari hasil interview itu, Mario bercerita, salah satunya tentang gerakan jongkok pada tarian Kebyar Duduk.
Mario pada masa mudanya dikenal sebagai penari gandrung yang hebat. Tubuh dan wajahnya sangat pas dengan tarian gandrung. Wajahnya manis, tubuhnya bagus dan tinggi.
Suatu hari ia diundang menari gandrung di daerah Busungbiu, Buleleng. Banyak penabuh gong kebyar Busungbiu menonton Mario menari gandrung.
Keesokan malamnya Mario dicari oleh penabuh atau tukang kendang dari Busungbiu.
“Pak Mario, ayo besok, saya ada latihan di Busungbiu, tolong menarikan tabuh kebyar yang saya punya, bisa atau tidak?” kata si tukang kendang.
Ditantang seperti itu membuat Mario senang dan kendel. Mario adalah orang yang suka sekali membagikan pengetahuannya. Nah, jadilah gong kebyar latihan, di Busungbiu itu. Mario datang ke tempat latihan.
Karena hanya latih, maka perangkat gong tidak diletakkan secara teratur. Letak terompong, gangsa, reong, dan alat-alat gamelan lainnya diletakkan pada posisi sesuka penabuhnya, artinya tidak diatur seperti pada saat pentas di atas panggung.
Ketika penabuh-penabuh dari Busungbiu itu memainkan gamelan gong kebyar, Mario menari dengan improvisasi, dengan mengikuti tambuh-tabuh kekebyaran yang dimainkan penabuh-penabuh dari Busungbiu.
Karena Mario penari gandrung, ia melakukan improvisasi dengan menunjuk salah satu penonton untuk ikut diajak menari. Nah, ketika Mario mau mencari penonton untuk diajak menari, ia tidak bisa keluar karena geraknya dibatasi oleh alat-alat gamelan.
Ia tak bisa keluar, maka ia melakukan improvisasi mencari tukang kendang. Yang dicari tukang kendang wadon. Tukang kendang itu diajak menari.
Nah, tukang kendangnya tak bisa berdiri karena harus tetap main kendang, maka saat itu Mario berinisiatif untuk jongkok. Saat itulah terjadi gerakan kipuk-kipukan, penari gandrung mengipuk yang satu, yakni tukang kendang ini.
Gerakan mengipuk itu tidak dilakukan dalam waktu yang lama, maka berpindahlah Mario ke tempat yang lain.
“Ketika berpindah inilah terjadi suatu gerakan yang sangat original dalam karya Mario, yakni nyeregseg,” kata Prof. Bandem.
Nyeregseg adalah gerakan berpindah satu satu ke tempat lain dengan tetap pada posisi jongkok.
Jongkok atau squatting itu bisa disebut sebagai ciri khas dari gaya penciptaan Mario, sehingga kemudian terciptalah tari Kebyar Duduk yang pada awalnya bernama Igel Jongkok.
Dalam gambuh, kata Prof Bandem, juga terdapat gerakan jongkok, misalnya ada jongkok kadian, ada jongkok panji, dan ada jongkok-jongkok yang lain. Jongkok dalam tarian gambuh memang banyak bentuknya, bahkan jongkok lucu juga ada.
Ketika Mario jongkok saat menari di Busungbiu itulah diduga menjadi inspirasi untuk menciptakan Tari Kebyar Duduk atau Tari Jongkok.
“Gerakan nyeregseg, berpindah dalam posisi jongkok, dengan gerakan kaki disilang ini menjadi originalitas Tari Kebyar Duduk yang diciptakan Mario,” kata Prof Bandem. [T]
Reporter: Hizkia Adi Wicaksono/Rusdy Ulu Penulis/Editor: Adnyana Ole
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...