MEDIA sosial (medsos) telah memberi haru biru dan berbagai dimensi lain, untuk Pura Besakih dan agenda ritualnnya saat ini. Era media baru ini, membawa perubahan sudut pandang dan cara melihat persoalan dengan berbagai gaya. Jika oleh media konvensional dan arus utama, upacara Ida Betara Turun Kabeh senantiasa dipandang sebagai ritual keagamaan semata, maka bagi medsos yang menjadi platform jurnalisme warga, tradisi sakral tersebut dapat menyuguhkan berbagai serba-serbi.
Sejumlah isu yang menonjol antara lain keluhah warga akan harga makanan (nasi bungkus) yang dirasa sangat mahal, area parkir yang menurut seorang pemedek sangat jauh dan video kontroversial seorang wanita dewasa memanjat tembok pura demi menghindari antrian yang panjang serta berdesakan.
Dan tentu saja oleh warganet lain, postingan-postingan tersebut menjadi dinamika polemik berkepanjangan di dunia maya. Sebuah kebebasan berpendapat. Jika media arus utama berusaha menyajikan fakta secara netral dan obyektif, maka keunikan berita medsos adalah tentu saja tersaji kaya rasa dipenuhi emosi penulisnya. Fakta menjadi sedemikian personal dan subyektif dari sudut pandangnya sendiri, karena umumnya memang dibuat secara spontan mengikuti suasana kebatinannya saat itu juga alias baper.
Bagusnya lagi, kita sesungguhnya dapat belajar banyak hal dari berbagai isu yang berkelindan di keseharian kita ini. Sepanjang perdebatan pada konteks etik dan moral, mestinya kita merasa beruntung dengan fenomena tersebut. Sebab, dari diskusi dan perdebatan lah, baik kecerdasan intelektual maupun emosional kita semakin terasah.
Pertama, Pura Besakih yang bergeming mengajak kita belajar dewasa menerima semua situasi dan keadaan, termasuk pula kebebasan untuk memilih. Bahkan, sering kali tak kita sadari, ini justru hakikat paling mendasar dari spiritual. Tujuan hakiki dari keberadaan Pura Besakih yang sakral dan agung.
Sederhananya adalah, jika kemudian kita mengeluh saat tangkil ke Pura Besakih, pasti jauh lebih baik tanpa keluhan tinggal di rumah saja. Usaha melelahkan kita muspayang bakti ke Pura Besakih takkan mungkin pernah mengalahkan betapa berat dan sakralnya usaha Rsi Markandeya yang telah membangun pura terbesar di Asia tersebut. Lebih-lebih pembangunan itu dilaksanakan di abad ke-12, zaman yang masih nihil teknologi.
Nah, apakah layak lalu kita mengeluh soal harga nasi bungkus, jarak parkir yang kejauhan atau bahkan yang tak malu-malu memanjati tembok untuk menerobos antrian? Lalu, tangkil ke Pura Besakih, untuk apa sih sesungguhnya?
Namun pun demikian, meski patut disayangkan segala macam tingkah warga di area pura Besakih dan warganet di dunia maya, semua itu dapat menjadi masukan yang bagus bagi pemangku kebijakan. Begitu pemerintah memutuskan sebuah konsep untuk mengatur kehidupan bergama, maka itu sebaiknya diatur sedemikian rupa hingga nyata menjadi teratur, tertata rapi. Keluhan-keluhan baper warganet yang ada, adalah celetukan yang dari teropong spiritual pun adalah energi kosmis. Itu datang dari serpihan energi besar semesta. Sementara, agenda Pura Besakih merupakan ritual keagamaan jagat dan sudah pasti dihelat secara rutin.
Maka, skema yang terus dibenahi baik terkait alur lalu lintas sampai parkir, pengaturan jumlah pemedek, regulasi pedagang dan lain-lain sangat perlu dipikirkan dengan sebaik-baiknya. Ada kesempatan baik bagi kita, untuk memadukan ritual sakral dengan manajemen modern. Keimanan dengan perkembangan zaman. Sebagai pemedek misalnya, penulis pun pernah mengalami sendiri harus bayar parkir sebesar 100 ribu, beberapa tahun lalu. Harus diapresiasi, hal demikian sudah tidak terjadi lagi saat ini. Manajemen parkir seharusnya sudah semua dengan sistem digital, e-parkir.
Kita, dapat saja menjadikan contoh hal serupa di tempat lain, untuk maksud pembenahan. Satu contoh misalnya, pengelolaan situs sejarah Vatikan. Itu, boleh kita akui sebagai kecerdasan masyarakat setempat memadukan keimanan dengan perjalanan. Bahkan, itu terkelola dengan baik dalam kultur masyarakat mereka yang cenderung semakin agnostik di kalangan masyarakat barat.
Meskipun konsep kepercayaan kepada Tuhan atau energi supra natural telah semakin memudar, namun secara rasional mereka tetap sangat menghargai peradaban. Kebetulan saja peradaban tersebut adalah representasi dari keimanan katolik. Pemerintah kota Vatikan dapat mengelola dengan sangat apik, baik aktivitas keagamaan maupun pariwisata di Basilika Santo Petrus. Kedua aktivitas bahkan dapat berjalan berdampingan setiap hari. Yang sudah pernah berkunjung ke sana pasti masih dapat mengingat, bagaimana rasanya antri bersama ribuan pengunjung lainnya di lapangan St Peter’s Square untuk menunggu giliran masuk ke basilika.
Lalu sampai di dalam, pengunjung dapat menikmati berbagai mahakarya peradaban yang dibangun pada abad ke-15 tersebut, sementara warga yang hendak beribadah, dapat melaksanakan kebaktian dengan khidmat. Lalu keluar dari bangunan megah gereja katolik terbesar dunia itu, kita masih dapat berbelanja suvenir dan cendera mata di toko-toko seni yang tak sedikit jumlahnya di sekitarnya, dengan harga dan kualitas barang yang terstandar.
Sesuatu yang diatur dengan sangat baik, pada akhirnya akan memberikan rasa dan nuansa kebebasan bagi semua. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...