Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
CINTA kasih adalah rasa yang tidak dapat dijelaskan secara pasti. Ia lahir dari hati sanubari setiap insan untuk menabur aura positif dengan sesama. Untuk itulah banyak jalan untuk mencurahkan rasa kasih sayang. Ia dapat berwujud pemberian yang tulus ikhlas, kepedulian dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan, atau wujud lainnya sesuai keinginan yang mencurahkannya. Cinta kasih menjadi unsur penting yang patut dijaga oleh insan berbudaya untuk mencurahkan rasa.
Berbicara mengenai kasih sayang secara lebih lanjut, terdapat sebuah tanggal yang dikenal populis sebagai hari peringatannya. Ialah tanggal 14 Februari yang dikenal dengan istilah Hari Valentine. Hari ini dikenal sebagai hari kasih sayang, dan dirayakan oleh beberapa negara di dunia tak terkecuali masyarakat Indonesia. Dari sisi perayaan, berbagi cokelat dan bunga kepada orang tersayang menjadi ciri khas. Hal ini juga tidak lepas dari promo atau turunnya harga cokelat dan bunga di beberapa toko yang membuat kedua benda tersebut menjadi laris di pasaran setiap bulan Februari.
Populisnya hari Valentine di era sekarang khususnya di Indonesia ternyata juga turut andil dalam menyentil eksistensi salah satu Hari Suci Agama Hindu. Hari suci tersebut adalah Hari Suci Tumpek Krulut yang diperingati setiap 210 hari sekali tepatnya hari Sabtu (Saniscara) Kliwon Wuku Krulut menurut Kalender Bali/Primbon Jawa. Banyak pihak yang menghubungkan keduanya karena memiliki esensi yang mirip sebagai hari kasih sayang. Bahkan tidak jarang beberapa pihak menganggap Hari Suci Tumpek Landep sebagai Hari Valentine-nya versi umat Hindu Bali (Suastini dan Suparwati, 2021).
Penyamaan persepsi demikian bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan jika dipandang dari sisi kacamata positif, penyamaan Hari Suci Tumpek Krulut dengan Hari Valentine sesungguhnya dapat mendongkrak popularitas Tumpek Krulut sebagai hari suci yang mengandung nilai luhur dan filosofi yang kuat. Namun di era sekarang, tidak banyak masyarakat terutama generasi muda Hindu yang berkenan untuk menggali nilai filosofi luhur dari Hari Suci Tumpek Krulut sebagai entitas yang dimiliki oleh Agama Hindu.
Tidak jarang mereka justru terbuai dengan gempitanya perayaan hari Valentine dibandingkan meluangkan waktu untuk menggali ke dalam, dibalik luhurnya Hari Suci Tumpek Krulut. Hal ini tentu merupakan sesuatu hal yang merisaukan, karena bisa saja generasi Hindu baik di masa kini atau di masa yang akan datang, memandang Hari Suci Tumpek Krulut hanya sebagai adopsi dari Hari Valentine. Namun benarkah demikian?
Dari sisi literatur, sejarah Hari Valentine tertuang di dalam sastra cerita berjudul “Parlement of Foules”(Percakapan Burung-Burung) karya pujangga Inggris bernama Geoffrey Chaucer.
Perayaan Hari Valentine diperkirakan dimulai sekitar abad ke-14 sampai 15 Masehi tepatnya di negara Inggris dan Perancis. Hal ini erat kaitannya dengan kisah perjuangan dan kisah romantis Santo Valentinus kepada anak sipir penjara yang ia sembuhkan dengan cara menulis surat cinta sebelum dieksekusi mati. Hari itu diperkirakan bertepatan dengan tanggal 14 Februari sebagai hari yang juga dipercaya sebagai masa burung-burung untuk mencari pasangan hidup (Suastini dan Suparwati, 2021).
Berbeda dengan Hari Valentine yang berasal dari cerita sastra, perayaan Hari Suci Tumpek Krulut sesungguhnya lebih luhur karena bersumber dari pustaka suci yakni lontar Sundharigama dan Aji Ghurnnita yang dipercaya diwahyukan oleh Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pijakan hidup umat manusia.
Dari dua sumber pustaka suci tersebut diketahui bahwa, Tumpek Krulut sejatinya merupakan hari Pemujaan kepada Sang Hyang Taksu yang dipercaya sebagai kekuatan Tuhan untuk menghadirkan karisma atau menghidupkan benda-benda seni. Hal ini tidak lepas dari asal kata “Krulut” berasal dari kata “Kelulut” yang berarti terpikat, daya pikat, atau karisma.
Sehingga tepatlah, apabila perayaan Tumpek Krulut biasanya dirayakan oleh umat Hindu dengan melaksanakan piodalan penyucian terhadap benda-benda seni seperti, Gong, Tapel, Gender, dan lain sebagainya. Benda-benda seni itulah yang dijadikan sebagai media pengungkapan rasa cinta atau kasih sayang baik kepada Tuhan maupun ciptaann-Nya oleh masyarakat Hindu sejak zaman dahulu (Sudarsana, 2003: 90).
Lebih dari pada itu, masyarakat Hindu Bali juga mengenal Tumpek Krulut sebagai Tumpek Lulut. Kata “Lulut”, dapat diartikan sebagai jalinan, perasaan senang, gembira, bahagia, atau sukacita. Sehingga atas dasar tersebut, masyarakat Hindu khususnya di Bali juga menghubungkan perayaan Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang untuk mempererat jalinan persaudaraan atau kekeluargaan.
Benda-benda seni yang diyakini memiliki Taksu, kemudian yang digunakan sebagai media untuk mewujudkan rasa tersebut kepada Sang Hyang Iswara sebagai manifestasi Tuhan yang menciptakan atau menurunkan suasana Satyam (Kebenaran), Sivam (Kesucian), dan Sundharam (Keindahan) (Putra, 2021).
Dengan mengetahui penjelasan tersebut sudah jelas bahwa, Hari Suci Tumpek Krulut yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Nusantara, bukanlah hari suci yang mengadopsi dari hari Valentine.
Meskipun dari esensi hampir mirip sebagai peringatan hari pencurahan rasa kasih sayang, Hari Suci Tumpek Krulut lebih mengarah kepada pengehormatan luhur terhadap benda-benda seni tradisonal yang diyakini mengandung Ketaksuan dibandingkan hari berbagi cokelat atau bunga yang dipandang sebagai media pengungkapan rasa kasih sayang di Hari Valentine.
Dengan penjelasan ini pula, diharapkan generasi muda Hindu menjadi lebih peka dan peduli terhadap hari sucinnya yang mengandung nilai luhur, dibandingkan hari raya yang berasal dari budaya lain. [T]
Referensi:
Putra, I. W. S. (2021). Teo Estetis dalam Ritual Tumpek Krulut pada Masyarakat Bali (Suatu Upaya dalam Mewujudkan Etika Kasih Sayang). Jnanasiddhanta: Jurnal Teologi Hindu, 2(2), 56-65.
Suastini, N. N. dan Suparwati, N. P. (2021). Tumpek Krulut Hari Valentine Versi Umat Hindu Bali.Vidya Samhita: Jurnal Penelitian Agama, 7(1), 154-160. Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama.Denpasar: Yayasan Dharma Acarya
BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...