Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
AKHIR tahun lalu saya menonton Drishyam (1&2). Film ini dibintangi Ajay Devgan. Sebelum saya menonton Ajay dalam film thriller kriminal yang bagus tersebut (dalam hal ini, India memang nyaris tak pernah gagal mengeksekusi cerita thriller), lebih dulu saya menemukannya dalam film Gangubai Kathiawadi (2022).
Gangubai merupakan sebuah film biopic Ganga Harjivandas—yang memiliki julukan The Mafia Queen of Mumbai—yang memperjuangkan hak-hak pelacur di India. Dalam film Gangubai, Ajay berperan sebagai Haji Mastan, salah satu mafia Mumbai yang berteman dengan Don Karim Lala dan Varadarajan.
Namun, selain dua film tersebut, sependek ingatan, saya tak pernah lagi menonton Ajay dalam film apa pun. Hingga awal tahun ini, setelah membaca beberapa artikel Mahfud Ikhwan yang membahas tentang film India, saya kembali menonton Ajay dalam film The Lagend of Bhagat Singh—film lama di belantikan Bollywood.
The Lagend of Bhagat Singh merupakan film bikinan Rajkumar Santhosi bertahun 2002. Film ini bercerita tentang sosok revolusioner India yang memilih jalan non-kompromi terhadap kolonialisme Inggris—bahkan tak jarang menerapkan anarkhisme ala Bakunin dalam perjuangannya. Pahlawan tersebut bernama Bhagat Shing—revolusioner kelahiran Punjab yang namanya harum di India, khususnya di India Utara. Bisa dikata, Bhagat adalah sisi lain dari kepahlawanan Gandhi yang lembek.
Dalam film ini, tak main-main, Ajay langsung membintangi tokoh utama, sang legenda, Bhagat Singh. Dengan kumis melintang dan topi kulit yang khas, Ajay menjelma menjadi Bhagat muda yang pemberani dengan tangan mengepal meneriakkan “Inquilab Zindabad!” bersama kolega-kolega sosialisnya.
Pada kisarah tahun 50-an sampai 2000-an, setidaknya ada tujuh film tentang Bhagat Singh yang diproduksi, salah satunya adalah The Lagend of Bhagat Singh—salah satu film India yang saya tonton tanpa subtitle bahasa Indonesia, selain Gandhi (1982).
Meskipun Bhagat Singh seorang atheis, namanya tetap harum sebagai pahlawan di India. Ia dipatungkan bersama Gandhi dan Bose. Pada tahun 2008, sebuah polling di majalah India Today menempatkan Bhagat di posisi pertama sebagai “The Greatest Indian” mengalahkan Gandhi dan Bose.
Itu merupakan bukti betapa India menaruh hormat kepada Bhagat. Bahkan di tengah sikap fundamentalisme agama di India yang semakin menguat, nama Bhagat Singh ternyata tidak terlupakan oleh rakyat India.
Saya tidak tahu bagaimana orang India memperlakukan pahlawannya. Tapi yang jelas, di India, tampaknya pahlawan tetaplah pahlawan, tak peduli apakah dia seorang Hindu, Muslim, maupun Komunis sekali pun. Dan yang dilakukan para sineas India sungguh hebat. Mereka tak pilih kasih dalam memfilmkan sosok pahlawan India. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan negara kita, Indonesia.
Banar apa yang dikatakan Mahfud Ikhawan. Saat menonton The Lagend of Bhagat Singh, saya langsung teringat satu sosok yang sama-sama menginginkan “Merdeka 100%”, Tan Malaka. Dalam tuntutan kemerdekaan, Bhagat Singh tak jauh berbeda dengan Tan Malaka.
Bhagat memiliki teriakan “Inquilab Zindabad!”, di Indonesia punya “Merdeka atau Mati!” Namun, meski demikian, nasib keduanya jauh berbeda. Bhagat sangat dicintai. Tapi Tan, jangankan memiliki tujuh film tentangnya, bahkan menyebut namanya saja seolah pamali bagi banyak orang.
Pada 2010 ada Sang Pencerah, film tentang tokoh besar Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Tiga tahun berselang, giliran tokoh Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim As’ari, yang diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Kiai. Lalu tayang Soekarno (2013), Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), hingga Buya Hamka (2023), tapi tidak dengan tokoh di “sisi kiri jalan” macam Tan Malaka, Haji Misbach, Kartosuwirjo, Semaun, apalagi sampai Amir Sjarifudin, Muso, Widarta, Kutil, hingga Aidit, Lukman, sampai Disman.
Nama-nama yang terakhir disebut sepertinya adalah kemustahilan dalam sinema Indonesia—meski memungkinkan, tapi sepertinya kita harus menunggu sangat lama untuk peristiwa itu terjadi. Mereka, para pahlawan Komunis itu, tak ubahnya bajingan bagi bangsa ini.
Sebagaimana seorang bajingan—yang tak bertuhan lagi—tentu tak pantas mendapat penghormatan. Bangsa ini bukan India, yang menghormati pahlawannya tanpa memandang latar belakang agama, ideologi, dan bagaimana pun jalan yang ditempuhnya—hal yang oleh bangsa ini masih harus terus dipelajari.
Tapi jangankan Tan Malaka, bahkan untuk orang-orang yang namanya tenar, “bersih”, dan “berdiri di sisi kanan jalan” macam Bung Hatta, Sjahrir, juga jenderal besar Pak Dirman (sebenarnya ada satu, tapi itu karena ada jenderal lain yang ingin numpang tenar) saja tak memiliki film biografi sebagaimana Bhagat, Gandhi, Surya Sen, Netaji Bose, Udham Singh, dll.
Bhagar Singh lahir sebagai Sikh dan gugur sebagai atheis, diberi gelar Shaheed-E-Azaam, dan dipuja di Republik Islam Pakistan. Surya Sen, seorang guru Hindu di Cittagong yang memberontak bersama murid-muridnya, dimuliakan sebagai pahlawan Bangladesh, dan terus dihormati di India (dan bahkan diabadikan dalam dua film yang indah oleh sineas-sineas Bollywood di Bombay) meskipun Cittagong kini sudah bukan lagi menjadi wilayah India.
Jika di India Pemberontakan Cittagong yang dilakukan seorang guru bersama 10 rekan dan 50-an murid-murid yang masih remaja tampak begitu agung dan abadi, di Indonesia, pemberontakan kaum Komunis di Prambanan, Banten, dan Silungkang yang melibatkan ribuan orang bahkan nyaris terlupakan—kalau bukan dipersalahkan sebagai tindakan merusak perjuangan.
Tak ada tempat bagi tokoh palu arit di negara ini—bahkan untuk nama besar macam Tan Malaka. Si Pacar Merah—begitulah para penulis fiksi tahun 30-an menyebutnya—memang memiliki nama yang tenar. Buku-buku yang ditulisnya dan buku tentangnya laris dibaca. Tapi, pada saat yang sama, ia tidak benar-benar sepenuhnya diterima.
Pembongkaran kuburannya bukannya menjadi peristiwa bersejarah yang mengharukan, tapi malah beralih jadi peristiwa politik yang kontroversial. Diskusi-diskusi buku dan pemikirannya tidak dihadiri khalayak dengan buku catatan dan rasa ingin tahu, tapi dengan pedang, pentungan, dan batu.
Tan dibenci oleh sebagain besar rakyat Indonesia tanpa perlu mengenalnya. Bahwa ia seorang tokoh PKI, partai yang telah dihabisi dan ideologinya sampai sekarang masih terlarang di negeri ini, dan bahwa ia mati ditembak tentara, itu sudah cukup untuk jadi alasan menyingkirkannya dari buku-buku sejarah di sekolah dan film-film di bioskop.
Saat nama Bhagat Singh harum di samping nama-nama besar pahlawan India, bahkan tak satu jalan pun yang menggunakan nama Tan Malaka—kecuali, konon, sebuah jalan kecil di kampung halamannya sendiri. Bhagat punya National Martyr Memorial di Husainiwala, juga Bhagat Singh Museum & Bhagat Singh Memorial tempat kelahirannya di Khatkar Kalan, sementara kuburan Tan Malaka—dan tokoh-tokoh PKI lainnya—terlantar dan hampir tak terlacak keberadaannya.
Seperti kata Cak Mahfud, pasti indah sekali jika bisa menyaksikan seorang aktor Indonesia memerankan Tan Malaka yang berpidato di depan Lenin dan para petinggi partai Komunis sedunia tentang betapa cocoknya Komunisme dan Pan-Islamisme, tapi ah… sudahlah. Saya tak mau berandai-andai.[T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...