Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
AKHIR tahun lalu saya menonton Drishyam (1&2). Film ini dibintangi Ajay Devgan. Sebelum saya menonton Ajay dalam film thriller kriminal yang bagus tersebut (dalam hal ini, India memang nyaris tak pernah gagal mengeksekusi cerita thriller), lebih dulu saya menemukannya dalam film Gangubai Kathiawadi (2022).
Gangubai merupakan sebuah film biopic Ganga Harjivandas—yang memiliki julukan The Mafia Queen of Mumbai—yang memperjuangkan hak-hak pelacur di India. Dalam film Gangubai, Ajay berperan sebagai Haji Mastan, salah satu mafia Mumbai yang berteman dengan Don Karim Lala dan Varadarajan.
Namun, selain dua film tersebut, sependek ingatan, saya tak pernah lagi menonton Ajay dalam film apa pun. Hingga awal tahun ini, setelah membaca beberapa artikel Mahfud Ikhwan yang membahas tentang film India, saya kembali menonton Ajay dalam film The Lagend of Bhagat Singh—film lama di belantikan Bollywood.
The Lagend of Bhagat Singh merupakan film bikinan Rajkumar Santhosi bertahun 2002. Film ini bercerita tentang sosok revolusioner India yang memilih jalan non-kompromi terhadap kolonialisme Inggris—bahkan tak jarang menerapkan anarkhisme ala Bakunin dalam perjuangannya. Pahlawan tersebut bernama Bhagat Shing—revolusioner kelahiran Punjab yang namanya harum di India, khususnya di India Utara. Bisa dikata, Bhagat adalah sisi lain dari kepahlawanan Gandhi yang lembek.
Dalam film ini, tak main-main, Ajay langsung membintangi tokoh utama, sang legenda, Bhagat Singh. Dengan kumis melintang dan topi kulit yang khas, Ajay menjelma menjadi Bhagat muda yang pemberani dengan tangan mengepal meneriakkan “Inquilab Zindabad!” bersama kolega-kolega sosialisnya.
Pada kisarah tahun 50-an sampai 2000-an, setidaknya ada tujuh film tentang Bhagat Singh yang diproduksi, salah satunya adalah The Lagend of Bhagat Singh—salah satu film India yang saya tonton tanpa subtitle bahasa Indonesia, selain Gandhi (1982).
Meskipun Bhagat Singh seorang atheis, namanya tetap harum sebagai pahlawan di India. Ia dipatungkan bersama Gandhi dan Bose. Pada tahun 2008, sebuah polling di majalah India Today menempatkan Bhagat di posisi pertama sebagai “The Greatest Indian” mengalahkan Gandhi dan Bose.
Itu merupakan bukti betapa India menaruh hormat kepada Bhagat. Bahkan di tengah sikap fundamentalisme agama di India yang semakin menguat, nama Bhagat Singh ternyata tidak terlupakan oleh rakyat India.
Saya tidak tahu bagaimana orang India memperlakukan pahlawannya. Tapi yang jelas, di India, tampaknya pahlawan tetaplah pahlawan, tak peduli apakah dia seorang Hindu, Muslim, maupun Komunis sekali pun. Dan yang dilakukan para sineas India sungguh hebat. Mereka tak pilih kasih dalam memfilmkan sosok pahlawan India. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan negara kita, Indonesia.
Banar apa yang dikatakan Mahfud Ikhawan. Saat menonton The Lagend of Bhagat Singh, saya langsung teringat satu sosok yang sama-sama menginginkan “Merdeka 100%”, Tan Malaka. Dalam tuntutan kemerdekaan, Bhagat Singh tak jauh berbeda dengan Tan Malaka.
Bhagat memiliki teriakan “Inquilab Zindabad!”, di Indonesia punya “Merdeka atau Mati!” Namun, meski demikian, nasib keduanya jauh berbeda. Bhagat sangat dicintai. Tapi Tan, jangankan memiliki tujuh film tentangnya, bahkan menyebut namanya saja seolah pamali bagi banyak orang.
Pada 2010 ada Sang Pencerah, film tentang tokoh besar Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Tiga tahun berselang, giliran tokoh Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim As’ari, yang diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Kiai. Lalu tayang Soekarno (2013), Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), Rudy Habibie (2016), Kartini (2017), hingga Buya Hamka (2023), tapi tidak dengan tokoh di “sisi kiri jalan” macam Tan Malaka, Haji Misbach, Kartosuwirjo, Semaun, apalagi sampai Amir Sjarifudin, Muso, Widarta, Kutil, hingga Aidit, Lukman, sampai Disman.
Nama-nama yang terakhir disebut sepertinya adalah kemustahilan dalam sinema Indonesia—meski memungkinkan, tapi sepertinya kita harus menunggu sangat lama untuk peristiwa itu terjadi. Mereka, para pahlawan Komunis itu, tak ubahnya bajingan bagi bangsa ini.
Sebagaimana seorang bajingan—yang tak bertuhan lagi—tentu tak pantas mendapat penghormatan. Bangsa ini bukan India, yang menghormati pahlawannya tanpa memandang latar belakang agama, ideologi, dan bagaimana pun jalan yang ditempuhnya—hal yang oleh bangsa ini masih harus terus dipelajari.
Tapi jangankan Tan Malaka, bahkan untuk orang-orang yang namanya tenar, “bersih”, dan “berdiri di sisi kanan jalan” macam Bung Hatta, Sjahrir, juga jenderal besar Pak Dirman (sebenarnya ada satu, tapi itu karena ada jenderal lain yang ingin numpang tenar) saja tak memiliki film biografi sebagaimana Bhagat, Gandhi, Surya Sen, Netaji Bose, Udham Singh, dll.
Bhagar Singh lahir sebagai Sikh dan gugur sebagai atheis, diberi gelar Shaheed-E-Azaam, dan dipuja di Republik Islam Pakistan. Surya Sen, seorang guru Hindu di Cittagong yang memberontak bersama murid-muridnya, dimuliakan sebagai pahlawan Bangladesh, dan terus dihormati di India (dan bahkan diabadikan dalam dua film yang indah oleh sineas-sineas Bollywood di Bombay) meskipun Cittagong kini sudah bukan lagi menjadi wilayah India.
Jika di India Pemberontakan Cittagong yang dilakukan seorang guru bersama 10 rekan dan 50-an murid-murid yang masih remaja tampak begitu agung dan abadi, di Indonesia, pemberontakan kaum Komunis di Prambanan, Banten, dan Silungkang yang melibatkan ribuan orang bahkan nyaris terlupakan—kalau bukan dipersalahkan sebagai tindakan merusak perjuangan.
Tak ada tempat bagi tokoh palu arit di negara ini—bahkan untuk nama besar macam Tan Malaka. Si Pacar Merah—begitulah para penulis fiksi tahun 30-an menyebutnya—memang memiliki nama yang tenar. Buku-buku yang ditulisnya dan buku tentangnya laris dibaca. Tapi, pada saat yang sama, ia tidak benar-benar sepenuhnya diterima.
Pembongkaran kuburannya bukannya menjadi peristiwa bersejarah yang mengharukan, tapi malah beralih jadi peristiwa politik yang kontroversial. Diskusi-diskusi buku dan pemikirannya tidak dihadiri khalayak dengan buku catatan dan rasa ingin tahu, tapi dengan pedang, pentungan, dan batu.
Tan dibenci oleh sebagain besar rakyat Indonesia tanpa perlu mengenalnya. Bahwa ia seorang tokoh PKI, partai yang telah dihabisi dan ideologinya sampai sekarang masih terlarang di negeri ini, dan bahwa ia mati ditembak tentara, itu sudah cukup untuk jadi alasan menyingkirkannya dari buku-buku sejarah di sekolah dan film-film di bioskop.
Saat nama Bhagat Singh harum di samping nama-nama besar pahlawan India, bahkan tak satu jalan pun yang menggunakan nama Tan Malaka—kecuali, konon, sebuah jalan kecil di kampung halamannya sendiri. Bhagat punya National Martyr Memorial di Husainiwala, juga Bhagat Singh Museum & Bhagat Singh Memorial tempat kelahirannya di Khatkar Kalan, sementara kuburan Tan Malaka—dan tokoh-tokoh PKI lainnya—terlantar dan hampir tak terlacak keberadaannya.
Seperti kata Cak Mahfud, pasti indah sekali jika bisa menyaksikan seorang aktor Indonesia memerankan Tan Malaka yang berpidato di depan Lenin dan para petinggi partai Komunis sedunia tentang betapa cocoknya Komunisme dan Pan-Islamisme, tapi ah… sudahlah. Saya tak mau berandai-andai.[T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...