Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
BULELENG | TATKALA.CO --- Pondok Literasi Sabih (PLS) Pedawa kembali menyelenggarakan kolaborasi internasional dengan negara Jepang. Kali ini PLS menggandeng para pecinta budaya dari Kota Hita Perfektur Oita Jepang. Tujuan utama kolaborasi ini adalah menumbuhkan kesepahaman lintas budaya antara Jepang dan Bali serta Indonesia secara umum.
Ada sepuluh orang Jepang dari Kota Hita yang berkunjung dan menginap di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Mereka adalah orang-orang yang tertarik dengan budaya Bali Aga Pedawa. Kegiatan tersebut terdiri dari 4 siswa SMP, 2 siswa SMA, dan 4 orang sebagai pendamping dan pemerhati budaya.
Kolaborasi ini dilakukan selama tiga hari dua malam, dari tanggal 28 sampai 30 Maret 2024. Para peserta dari Jepang berkesempatan untuk menginap di rumah-rumah pendudukan di Pedawa. Dengan cara ini, mereka akan mengenal kehidupan pedesaan di desa Bali Aga.

Dalam kolaborasi ini, ada beberapa kegiatan yang menyenangkan dan menambah pengetahuan dari masing-masing pihak tentu saja. Hari pertama, kedua belah pihak saling perkenalan bahasa dan budaya masing-masing—budaya Jepang dan Bali.
“Anak-anak Pondok Literasi dan siswa dari Jepang dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil dan diberi kesempatan untuk memeperkenalkan budaya Pedawa dan budaya Jepang,” ujar I Wayan Sadyana, pendiri sekaligus Ketua PLS.
Mereka, anak-anak PLS dan siswa dari Jepang, berdiskusi dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris sederhana yang didampingi oleh seorang peneerjemah untuk memperlancar jalannya diskusi. Anak-anak dari kedua negara berbeda ini terlihat sangat antusias dalam menceritakan kebiasaan anak-anak Jepang dan Bali.
Anak-anak Pedawa sangat tertarik untuk mengetahui tentang sekolah di Jepang; bagaimana mereka berangkat ke sekolah, jam berapa pelajaran dimulai, berapa lama sekolah di Jepang, dan lain-lain. Mereka juga saling memperkenalkan mata uang kedua negara.

“Dan dari pembicaraan tentang mata uang tersebut, mengalirkan wacana tentang cara berbelanja dan lain-lain. Di akhir acara hari pertama, para siswa Jepang juga diperkenalkan tarian Bali,” kata Sadyana.
Hari kedua, pada pagi hari, anak-anak PLS dan siswa dari Jepang melakukan tracking menyusuri tempat-tempat yang menarik di Desa Pedawa. Dalam perjalanan selama lebih dari 3 jam itu, siswa dari Jepang mendapat penjelasan tentang sumber air dan kaitannya dengan budaya di Pedawa. Selain itu, mereka juga diajak menyusuri kawasan perkebunan aren (enau) milik Kaki Kabe.
Di kebun tersebut, mereka sangat antusias untuk mengenal tentang kebudayaan aren dan gula Pedawa. Tidak ketinggalan, mereka juga mencicipi manisnya gula Pedawa. Sore harinya, siswa dari Jepang diperkenalkan tentang budaya Bali, yaitu pakaian adat Bali dan membuat canang buratwangi.

“Para siswa terlihat sangat senang dan antusias mendapatkan pengalaman menggunakan pakaian Bali dan membuat sarana persembahan sederhana,” tutur Sadyana.
Sedangkan pada hari ketiga, siswa dari Jepang diajak berkunjung ke SDN 3 Pedawa. Di sana para siswa berkesempatan untuk memperdengarkan lagu-lagu anak dan permainan-permainan tradisional Jepang dan Bali.

Kegiatan dengan siswa Kota Hita ini, merupakan kegiatan pertama kali dan rencananya akan menjadi agenda rutin tahunan dari kedua belah pihak. “Selain dengan Pondok Lietarasi Sabih, kegiatan ini juga terselenggara berkat dukungan penuh dari Komunitas Kayoman Pedawa. Komunitas ini secara aktif turut membantu persiapan, dan pelaksanaan acara,” ujar Sadyana.[T]
Editor: Jaswanto
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...