Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain ---Mengapa Begitu?
JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan bangunan pencakar langit. Orang dat...
Saat sahur tiba..
Ibu terlihat gelisah–khawatir
Di depan tungku hanya melihat
Ada dua telur, dan sekantong tepung
Dari plastik kecil
Aku merasa kesedihan itu ada di dalam batin ibu sangat dalam
Aku menghampirinya dekat dekat. Tapi, kesedihan justru menghilang
begitu cepat dari wajahnya. Begitu cepat,
Sangat mungkin ibu menyembunyikan itu dariku. Sangat mungkin,
Sedihnya yang tak ku mengerti 15 tahun yang lalu,
Selalu disembunyikannya sampai hari ini–jika Ramadhan menjelang?!
Ibu berdiri. Menunjukan sesuatu–tangan ibu;
Terampil membuat keduanya menjadi makanan lezat
Seperti martabak di pinggir jalan raya utama. Ada nasi goreng juga ibu buat
Tercium wanginya lezat masih hangat untuk kami makan sahur
Berpuasa—berbahagia.
Saat berbuka tiba..
Berganti Abah tampak yang bersedih
Melihat ibu hanya memandangi ada lima kurma
Di tudung saji di dapur
Sebelum tenggelam dari air mata hampir
Jatuh di wajah ibu. Ia pergi sebentar tanpa pamit
Entah ke pada siapa. Entah kemana Abah hendak pergi–
Diam diam
Abah pulang membawa roti tawar sesudah itu,
Memperjelas wajah ibu sebenarnya tersenyum,
dan bukan sedang bersedih melihat tudung saji–mengingatku
Membawa susu saset dan satu botol sirop.
Sebelum azan maghrib tiba–abah datang tepat waktu
Aku senang,
Segera ibu menyambut. Membuka pintu,
Membuka tudung bahagia: Diambilnya kurma dan
Dibaginya kami satu satu. Dan roti, segelas sirop.
Kami berbuka—berbahagia.
2024
tak kutemukan tubuh ‘Bumi’ hidup telanjang
di dalam pikiranku
sebab aku mencintainya. bukan saja sebab birahi,
tapi memang dengan cinta–dengan harapan.
tapi aku sedang marah!
melihat mereka juatru membiarkan tubuh ‘Bumi’ telanjang
dan menyucikannya dengan doa selalu setelah—
dan itu adalah pelacuran…pelacuran…pelacuran…
melacurkan diri ke pada tuhan mereka setelah—
dan Tuhan seperti menikmatinya: Tuhan selalu membiarkan doa
lolos mereka setelah—walau langit sudah kotor
Walau bumi dibuatnya kotor.
sebab itu aku marah. marah marah. dengan sajak orang kotor sepertiku,
biarlah sendiri. biarlah membelah langit dari doa doa culas mereka
pula dengan kotor. dengan marah. dengan marah marah,
sendiri,
sajaku menyelinap menggugatnya datang mencari,
O Tuhan/Tuan/Nyonya—Penyihir,
keluarlah kau di mana? Keparat!
2024
Aku ingin memotong hariku
mematikannya hanya setengah
dan dengan setengahnyalah aku hidup
lebih padat lebih baik
Aku ingin memotong hariku
membuang yang mati setengahnya lari
pada trotoar dekat warung tempat mereka
menyalakan rokok dan memancing cinta
agar pula hidup–sama sama hidup
Pada pendatang wajah wajah tak serupa di sana–
hari baik atau keberuntungan yang muncul. Atas merekalah
perempuan di dalamnya–penjajak. Atau pencinta dapat bertemu
2024
Seorang tua menceruk kematiannya pada
kertas bertuliskan—sajak abadi sebelum mati.
Pada sebuah surat kecil—puisi lima bait. Seakan ia tahu
sebentar lagi maut akan datang padanya. Sebentar lagi.
Hingga teringatlah aku kepada kematianku sendiri—kapan?!
Jika memang waktuku masih panjang. Dalam menghabiskannya
umur hidup–penuh remuk tulang dada oleh nasib buruk
tanpa henti hentinya datang;
Mesti menceruk apa jika aku sudah tua nanti? Dan kepada siapa
kematianku mesti dikabarkan?
2024
“Kekasih, lagu apa yang sedang kau dengar–dan suka?”
Kekasih menjawab, “Abu. Ya, ‘Abu’. Dari Nyonya Ayu. Ya!”
Sebentar aku mencari–untuk didengar pula,
Dan lekas aku bertanya terakhir di hari itu.
“Apakah ‘Abu’ kau bayangkan aku?”
Kekasih menjawab pula dalam terakhir di waktu yang sama
“Tentu bukan. Sangat bukan!”
Aku terdiam—
setengah ingin mati hidup penuh malu,
segera kuganti menyesali lagu kudengar itu–
dengan ‘Juwita Malam’.
“..aku terpikat masuk perangkap!”
2024
JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan bangunan pencakar langit. Orang dat...
KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., berbagai program revitalisasi...
DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai hitam. Di depannya, seorang mahasiswa berdiri sembar...
PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLA...
ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek informasi tentang Bung Karno....
DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan ketika musim kering datang. Dari tradisi...
Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini dua cerita yang telah direvitalisa...
Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika kuantum dan Interpretasi Kopenhagen. Nam...
JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar dari isi rekeningnya: semesta pasti punya rencana khusus...
Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah, hutan tua mendekapnya denganakar-akar yang t...