Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Saat sahur tiba..
Ibu terlihat gelisah–khawatir
Di depan tungku hanya melihat
Ada dua telur, dan sekantong tepung
Dari plastik kecil
Aku merasa kesedihan itu ada di dalam batin ibu sangat dalam
Aku menghampirinya dekat dekat. Tapi, kesedihan justru menghilang
begitu cepat dari wajahnya. Begitu cepat,
Sangat mungkin ibu menyembunyikan itu dariku. Sangat mungkin,
Sedihnya yang tak ku mengerti 15 tahun yang lalu,
Selalu disembunyikannya sampai hari ini–jika Ramadhan menjelang?!
Ibu berdiri. Menunjukan sesuatu–tangan ibu;
Terampil membuat keduanya menjadi makanan lezat
Seperti martabak di pinggir jalan raya utama. Ada nasi goreng juga ibu buat
Tercium wanginya lezat masih hangat untuk kami makan sahur
Berpuasa—berbahagia.
Saat berbuka tiba..
Berganti Abah tampak yang bersedih
Melihat ibu hanya memandangi ada lima kurma
Di tudung saji di dapur
Sebelum tenggelam dari air mata hampir
Jatuh di wajah ibu. Ia pergi sebentar tanpa pamit
Entah ke pada siapa. Entah kemana Abah hendak pergi–
Diam diam
Abah pulang membawa roti tawar sesudah itu,
Memperjelas wajah ibu sebenarnya tersenyum,
dan bukan sedang bersedih melihat tudung saji–mengingatku
Membawa susu saset dan satu botol sirop.
Sebelum azan maghrib tiba–abah datang tepat waktu
Aku senang,
Segera ibu menyambut. Membuka pintu,
Membuka tudung bahagia: Diambilnya kurma dan
Dibaginya kami satu satu. Dan roti, segelas sirop.
Kami berbuka—berbahagia.
2024
tak kutemukan tubuh ‘Bumi’ hidup telanjang
di dalam pikiranku
sebab aku mencintainya. bukan saja sebab birahi,
tapi memang dengan cinta–dengan harapan.
tapi aku sedang marah!
melihat mereka juatru membiarkan tubuh ‘Bumi’ telanjang
dan menyucikannya dengan doa selalu setelah—
dan itu adalah pelacuran…pelacuran…pelacuran…
melacurkan diri ke pada tuhan mereka setelah—
dan Tuhan seperti menikmatinya: Tuhan selalu membiarkan doa
lolos mereka setelah—walau langit sudah kotor
Walau bumi dibuatnya kotor.
sebab itu aku marah. marah marah. dengan sajak orang kotor sepertiku,
biarlah sendiri. biarlah membelah langit dari doa doa culas mereka
pula dengan kotor. dengan marah. dengan marah marah,
sendiri,
sajaku menyelinap menggugatnya datang mencari,
O Tuhan/Tuan/Nyonya—Penyihir,
keluarlah kau di mana? Keparat!
2024
Aku ingin memotong hariku
mematikannya hanya setengah
dan dengan setengahnyalah aku hidup
lebih padat lebih baik
Aku ingin memotong hariku
membuang yang mati setengahnya lari
pada trotoar dekat warung tempat mereka
menyalakan rokok dan memancing cinta
agar pula hidup–sama sama hidup
Pada pendatang wajah wajah tak serupa di sana–
hari baik atau keberuntungan yang muncul. Atas merekalah
perempuan di dalamnya–penjajak. Atau pencinta dapat bertemu
2024
Seorang tua menceruk kematiannya pada
kertas bertuliskan—sajak abadi sebelum mati.
Pada sebuah surat kecil—puisi lima bait. Seakan ia tahu
sebentar lagi maut akan datang padanya. Sebentar lagi.
Hingga teringatlah aku kepada kematianku sendiri—kapan?!
Jika memang waktuku masih panjang. Dalam menghabiskannya
umur hidup–penuh remuk tulang dada oleh nasib buruk
tanpa henti hentinya datang;
Mesti menceruk apa jika aku sudah tua nanti? Dan kepada siapa
kematianku mesti dikabarkan?
2024
“Kekasih, lagu apa yang sedang kau dengar–dan suka?”
Kekasih menjawab, “Abu. Ya, ‘Abu’. Dari Nyonya Ayu. Ya!”
Sebentar aku mencari–untuk didengar pula,
Dan lekas aku bertanya terakhir di hari itu.
“Apakah ‘Abu’ kau bayangkan aku?”
Kekasih menjawab pula dalam terakhir di waktu yang sama
“Tentu bukan. Sangat bukan!”
Aku terdiam—
setengah ingin mati hidup penuh malu,
segera kuganti menyesali lagu kudengar itu–
dengan ‘Juwita Malam’.
“..aku terpikat masuk perangkap!”
2024
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...