DI era Society 5.0, peran perempuan menjadi semakin penting dan harus diperluas. Society 5.0 adalah konsep yang menggabungkan teknologi digital dan fisik untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, lebih berkelanjutan, dan lebih inklusif. Oleh karena itu, perempuan harus terwakili dalam politik dan pengambilan keputusan, baik dalam ranah publik maupun domestik—untuk mencapai tujuan ini.
Dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi, peran perempuan di ruang intelektual berdasarkan pendidikan maupun dalam luar kerja juga semakin meningkat. Namun, perempuan masih menghadapi banyak tantangan untuk memasuki posisi manajerial.
Data menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi konflik akibat dari perbedaan pendapat, atau akibat dari tidak adanya suport women dan tidak jarang karena adanya relasi kuasa di dalamnya. Hal itu memang kerap terjadi di ranah pendidikan, seperti organisasi inter maupun ekstra kampus.
Selain dari pada itu, perbedaan gender dalam gaji, kemajuan, dan peluang karir di berbagai bidang dalam ruang kerja juga masih terdapat kesenjangan. Hal ini menunjukkan masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap perempuan yang perlu diubah dan dihilangkan.
Perempuan harus diberi kesempatan dan kebebasan yang sama dalam berpendapat—dan dalam hal mengimpikan dan diimpikan menjadi seorang pemimpin. Sebagai perempuan, kita harus mampu melihat potensi diri kita berdasarkan pengetahuan maupun pengalaman. Sebab untuk memantaskan diri menjadi seorang pemimpin bukan hanya dipersiapkan dalam waktu yang singkat, namun dalam jangka waktu yang lama.
Bukan karena ingin merasa diri lebih, tetapi tanggung jawab menjadi seorang pemimpin itu sangatlah besar, bukan sekadar harus bisa menaklukkan hati saja, namun menjadi seorang pemimpin harus multitalent, siap siaga dalam bentuk intelektual dan kerja nyata yang cerdas, yang mampu mengayomi dan menjadikan orang yang memandang termotivasi akan hal yang dicapai.
Selain kesempatan untuk mengembangkan potensi diri, perempuan juga harus diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk memajukan pencapaian dan karir mereka dan mencapai posisi kepemimpinan tanpa memandang latar belakang yang menjadi batasan untuk bermimpi.
Namun, perempuan tidak harus menunggu pengakuan dan kesempatan. Perempuan bisa menjadi pemimpin dengan membangun karir yang solid dan mengembangkan keterampilan kepemimpinannya sendiri.
Di era Society 5.0 yang semakin maju dan kompleks, peran pemimpin perempuan menjadi semakin penting. Perempuan memiliki peluang besar untuk memimpin dan membawa perubahan positif di berbagai sektor, mulai dari politik hingga bisnis.
Namun, perempuan terus menghadapi stigma dan diskriminasi dari kalangan mereka sendiri, yaitu perempuan, baik dalam ruang lingkup apapun dan di berbagai lapisan masyarakat, termasuk posisi kepemimpinan, hingga melahirkan pemikiran-pemikiran yang tidak sehat, seperti “soal kriteria bisa menyusul dan siapa yang lebih dekat, siapa yang berasal dari kalangan kami maka itu yang pantas, bukan tentang siapa yang mempunyai potensi, pengalaman, serta memenuhi kriteria.”
Pemikiran seperti itu akan menimbulkan konflik dari pihak-pihak tertentu dengan adanya primodial yang melahirkan cara-cara kotor hingga cara-cara yang inskonstitusional untuk mencapai suatu tujuan yang primodial. Pemimpin yang lahir dari inskonstitusional akan membentuk kader-kader yang menganggap aturan mudah dilanggar sesuai dengan arahan dan relasi belaka.
Seperti kita ketahui bersama bahwa seorang pemimpin bukan hanya sekadar mampu mengayomi, namun harus mampu menerapkan dan memiliki jiwa netralitas dalam menjalankan amanah yang di berikan, baik dalam bentuk apapun.
Berbicara tentang pemimpin perempuan, baik dalam ruang lingkup organisasi maupun ruang kerja, sebenarnya ruang lingkup organisasi adalah tempat di mana kepemimpinan kita dilatih dan melakukan segala hal dengan suka rela. Hal ini berbanding terbalik dengan kepemimpinan kita dalam ruang lingkup kerja.
Sehingga, untuk menjadi pemimpin perempuan yang sukses di era Society 5.0, ada beberapa inspirasi dan tips yang bisa dijadikan pedoman. Pertama, pentingnya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memimpin suatu lembaga dan lain sebagainya. Hal ini berpengaruh untuk menyukseskan kinerja-kinerja dengan adanya pengalaman yang melekat walau tanpa adanya suatu yang terikat.
Kemudian, penting untuk membangun kepercayaan diri dan keyakinan pada keterampilan kepemimpinan. Terkadang, perempuan cenderung meragukan diri mereka sendiri dan merasa kurang percaya diri saat membuat keputusan atau memimpin tim. Itulah mengapa penting untuk mengambil risiko dan menantang diri sendiri untuk tumbuh dan berkembang.
Kedua, perempuan perlu berjejaring dan bekerja dengan orang-orang yang memiliki visi dan nilai yang sama. Jaringan dapat menciptakan peluang dan inspirasi untuk kemajuan karir dan menciptakan perubahan positif dalam kader dan masyarakat. Bekerja sama juga dapat membantu perempuan membangun tim yang kuat dan beragam yang dapat membantu mencapai tujuan bersama.
Ketiga, perempuan harus belajar memimpin dengan empati dan kebijaksanaan. Kepemimpinan yang baik tidak hanya berarti kemampuan untuk membuat keputusan strategis, tetapi juga kemampuan untuk memahami dan menghormati sudut pandang orang lain. Dengan memimpin dengan empati, perempuan dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan memotivasi tim untuk bekerja lebih baik.
Keempat, perempuan harus terus belajar dan meningkatkan keterampilannya. Masyarakat 5.0 adalah zaman yang sangat dinamis dan terus berubah, sehingga para pemimpin perempuan harus rutin memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Ada banyak sumber daya seperti seminar, lokakarya, dan kursus online.
Terakhir, perempuan harus berjuang untuk mencapai kesetaraan gender dan mengatasi diskriminasi yang ada. Meskipun banyak kemajuan telah dibuat di bidang kesetaraan gender, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan untuk menghapuskan diskriminasi dan memastikan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk maju dalam karir dan posisi kepemimpinan.
Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, seorang pemimpin perempuan harus mampu menyeimbangkan peran dan tanggung jawab antara keluarga dan karirnya. Dalam hal ini, penting untuk membangun jaringan pendukung yang dapat membantu mengatasi tantangan tersebut. Keluarga, pasangan, dan teman dapat memberikan dukungan moral dan praktis yang sangat dibutuhkan dalam karier perempuan.
Pemimpin perempuan yang sukses memiliki kualifikasi dan keterampilan yang diperlukan untuk memimpin. Perempuan dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan seperti kemampuan berkomunikasi dengan baik, memimpin secara etis, dan memotivasi tim. Perempuan juga harus memiliki keterampilan teknis yang baik, tentang pengetahuan teknologi dan keterampilan pengambilan keputusan berbasis data.
Mengutamakan pendidikan dan pengembangan diri. Pendidikan dan pengembangan diri sangat penting untuk menjadi pemimpin perempuan yang sukses. Pendidikan membuka pintu untuk peluang karir yang lebih baik dan meningkatkan keterampilan kepemimpinan.
Selain itu, pengembangan diri seperti membaca buku, mengikuti kursus pelatihan dan konferensi dapat membantu pemimpin perempuan mengembangkan keterampilan baru.
Penting untuk diingat bahwa menjadi pemimpin perempuan tidak selalu mudah, terutama di lingkungan yang didominasi laki-laki. Namun, dengan keterampilan dan kualifikasi yang diperlukan, serta sikap positif dan berani mengambil risiko, pemimpin perempuan dapat mengatasi tantangan dan berkembang dalam karir mereka.
Penting juga untuk memperhatikan, misalnya, kesetaraan dan keadilan gender dalam karir dan membangun jaringan yang kuat dan saling mendukung dengan perempuan lain. Hal ini memungkinkan para pemimpin perempuan bekerja sama untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan mempromosikan kesetaraan gender.
Dengan semakin majunya era Society 5.0, pemimpin perempuan harus terus berbenah, mengembangkan keterampilan baru dan belajar dari kesalahan. Dengan mempertahankan sikap positif, pemimpin perempuan dapat berhasil dalam karirnya dan menciptakan perubahan positif di komunitasnya.[T]
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...