Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
BAHASA Bali yang saya tuturkan adalah hasil transfer lisan dari ayah dan ibu saya, sebagian kecil saja lingkungan pergaulan saya memengaruhi. Masa kecil dengan lingkup pergaulan terbatas yang menjadi penyebabnya. Radio pun baru ada di keluarga kami ketika saya sudah menjadi murid kelas satu di sekolah dasar, tahun 1978.
Menerima kata hanya dengan kemampuan mendengarkan, membuat saya terkesiap mendapatkan kata yang tertulis. Meminjam istilah dalam bahasa Indonesia, ada bentuk baku dan ada bentuk tidak baku pada kata, menjadi penyebab secuil kegugupan saya menulis dalam bahasa Bali. Seberapa pun adanya, selalu menjadi sumber kekhawatiran saya. Seperti kata paat, misalnya.
Paat adalah kata yang sangat akrab dengan saya karena ayah saya tidak bisa menghindari penggunaan pahat ketika merakit bajak dan komponennya seperti butuh singkal dan yuga. Ketika kemudian kamus mencatat paat tanpa pengertian atau penjelasan, paet dengan pengertian dan kata turunan, saya seperti menjadi tertuduh menuturkan bahasa Bali dengan kata bentuk tidak baku.
Ada syak wasangka, jangan-jangan kata semacam paat dan paet lainnya menyudutkan saya ke hal itu juga. Saya terbiasa menuturkan kata jaan (bukan jaen atau jeen) dan baat (bukan baet). Kamus Bali – Indonesia Edisi Ke-3 (KBI EK3) mencatat baat dengan pengertian sementara baet tanpa pengertian, lalu jaan dan jeen tanpa pengertian sementara jaen dengan pengertian.
Tercatat juga maal tanpa pengertian sementara mael dengan pengertian, maan dengan pengertian sementara maen belum tercatat kamus, naan dan naen belum tercatat kamus. Saya menuturkan baat (bukan baet), baan (bukan ben), jaan (bukan jaen atau jeen), maal (bukan mael), maan (bukan maen), naan (bukan naen), dan paat (bukan paet). Jika kata dengan pengertian atau penjelasan adalah bentuk baku dan kata tanpa pengertian adalah bentuk tidak baku pada KBI EK3, cenderung saya menuturkan bahasa Bali yang tidak baku.
Tidak berhenti sebatas beberapa kata itu. Proses mengolah daging buah kelapa menjadi minyak secara tradisional saya menuturkannya dengan nandusin, tidak nanusin. Membajak saya tuturkan dengan nengala, tidak nenggala. Menyambut saya tuturkan dengan nyangra, tidak nyanggra. Saya menuturkan tangluk, tidak tanggluk. Saya menuturkan lengatan, tidak langgatan. Kian panjang derita saya bertutur bahasa Bali.
Meski demikian saya tetap berprinsip bahwa saya adalah satu dari sekian penutur bahasa Bali. Tugas penutur adalah menuturkan kata demi kata bahasa Bali yang diketahui dan diyakini, lalu ahli bahasa Bali yang mendalami kata demi kata para penutur, dan ada peran pencatat kata demi kata yang dituturkan dan yang didalami.
Sebagai penutur, saya mengikuti pernyataan teman saya, alih nyakne mabasa Bali. Meski pragmatis, semoga bermanfaat, sebab saya termasuk khawatir dengan keberadaan bahasa Bali. Jangankan bahasa Bali orang lain, bahasa Bali kedua anak saya membuat saya mengernyitkan dahi. Sementara saya abaikan saja bahasa Bali baku. Saya abaikan saja bahasa Bali tidak baku.
Saya bercakap-cakap dengan istri dan kedua anak saya hanya menggunakan bahasa Bali amadyana, tidak degag, tidak natya. Ketika belum punya teman sekolah, bahasa Bali kedua anak saya sangat ngatih, benar-benar bahasa Bali, setidaknya versi saya.
Tidak saya sangka anak sulung saya selulusnya dari SMP ingin melanjutkan ke SMK. Alasannya, “Pang bisa De telu bahasa, pang nyidaang ke luar negeri.” Bahasa Indonesia tidak menek bacakan dalam telu bahasa yang dikatakan anak saya, apalagi bahasa Bali. Setidaknya bahasa Inggis, Jepang, Korea yang bercokol di pikirannya. Saya hanya tersenyum. Mengapa anak saya berucap telu bahasa? Telu bahasa itu benar-benar tiga bahasa. Benar-benar bahasa Indonesia. Orang seumuran saya berucap, “Tatelu tawanga bahasane.” Atau, “Tatelu bisaanga bahasane.” Anak saya seharusnya berucap, “Pang pinih bedik tatelu bisaang De bahasane lenan ken bahasa Bali jak bahasa Indonesia.” Beda usia beda dinamika berbahasa, mungkin. [T]
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...