Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
SETIAP malam saya berpikir untuk bersiap menjawab pertanyaan dari anak-anak terkait dengan adat dan budaya Bali yang sudah terkenal sampai ke luar negeri. Terutama konsep tentang keseimbangan dengan semua makhluk ciptaan Tuhan. Akhirnya di suatu pagi terlihat buku yang sangat menarik berjudul Kala Tattwa
Buku karangan dari Drs I Wayan Dunia ini terdiri dari 25 teks asli Kala Tattwa dan terjemahannya sebanyak 30 halaman. Buku yang terbit tahun 2009 oleh Penerbit Paramita di Surayaba telah menginspirasi dan menarik saya untuk membacanya.
Kala Tattwa adalah naskah siwaistik yang menjelaskan tentang asal usul Sang Hyang Kala beserta anugerah yang diterimanya dari Bhatara Siwa dan juga Dewi Uma. Dikisahkan kala Bhatara Siwa dan Bhatari Uma sedang perjalanan bersama ke samudera yang begitu indah, muncul hasrat birahi Bhatara Siwa namun karena situasi tidak memungkinkan ditolak keinginan tersebut oleh Dewi Uma.
Tak ayal sperma Bhata Siwa menetes ke samudera dan membuat ombak yang begitu besar lalu berubah menjadi sosok raksasa yang snagat menyeramkan dan tinggi besar. Meraung raung raksasa tersebut menanyakan siapa dirinya dan orang tuanya. Karena tidak ada jawaban, raksasa ini mengamuk hingga merusak keseimbangan dunia hingga ke kahyangan. Walaupun dewata nawa sanga ikut bertempur dan juga Bhatara Brahma maupun Wisnu menyerang raksasa tersebut, tak juga terkalahkan
Akhirnya para dewa memohon kepada Hyang Bhatara Siwa untuk mengalahkan dan menumpas raksasa yang mengganggu keseimbangan dunia. Bhatara Siwa berperang melawan raksasa tersebut, saling tembak, slaing tusuk namun tidak ada yang kalah. Akhirnya Bhatara Siwa bertanya kepada raksasa tersebut.
“Wahai Raksasa, mengapa engkau mengganggu keseimbangan dunia?”
“Aku hanya ingin tahu nama dan orangtuaku,” jawab raksasan itu.
Lalu Bhatara Siwa menjanjikan memberikan jawaban, asalkan taring kanan sang raksasa dipatahkan terlebih dahulu. Setelah taringnya dipatahkan, maka Bhatara Siwa menjelaskan siapa dirinya dan raksasa itu sendiri adalah anaknya. Dewi Uma sendiri adalah ibunya. Dan semenjak saat itu raksasa itu diberi nama sebagai Hyang Kala dengan anugerah boleh membunuh yang bersalah dan memberi hidup yang tidak bersalah. Selain itu Hyang Kala juga bertubuhkan yang bernapas.
Dewi Uma sendiri memerintahkan Hyang Kala untuk tinggal di Pura Dalem dengan nama Bhatari Durga sebagai dewanya golongan Kala, Durga, Pisaca, Wil, Raksasa, Danuja, Kingkara, penyakit, hama, bisa dan segala yang gaib. Namun saat Dewi Uma ke Pura Dalem, beliau bergelar Bhatara Durga Dewi dan Hyang Kala bergelar Kalika.
Anugerah lain yang diberikan yaitu yang dapat dijadikan santapan oleh Sang Hyang Kala adalah sebagai berikut.
Ada yang menarik dalam buku terjemahan ini yaitu Hyang Bhatari Durga Dewi merestui pada manusia sejati. Ini dimaksudkan pada manusia yang tahu pemujaan terhadap diriNya meski apapun yang dimohonkan agar direstui oleh Hyang Bhatara Kala. Hal ini karena manusia sejati dapat bercampur dengan Bhuta, Kala, Durga, Duewam Bhatara, dan Hyang. Menarik lagi adalah Dewi Uma merestui Hyang Bhatara Kala untuk menghukum orang yang perilakunya tidak sesuai dengan kelahirannya.
Bhatara Siwa juga memberikan wejangan yaitu beberapa hal yang amat penting untuk dilakukan dan diketahui oleh Hyang Bhatara Kala yaitu sebagai berikut.
Terakhir Bhatari Durga Dewi memberikan suatu petuah kepada putranya bahwa penyakit pada manusia ada tanda-tandanya serta obat yang dapat digunakan. Selain itu tanda-tanda orang yang akan meninggal pada orang yang sakit juga dijelaskan. Beliau juga menjelaskan intisari dari ajaran Canting Mas dan juga Siwer Mas serta paling penting konsep dari tirta dalam pelaksanaan pujawali dan upacara kematian sebagai sarana sidhaning pelaksanaan yajna yang disebut tirtha pendeta Siwa-Budha.
Secara umum buku ini sangat nikmat dibaca walau tanpa gambar di setiap halamannya. Selain itu istilah yang ada perlu dicermati lebih detai untuk menghindari perbedaan pemahaman seperti Durga, Bhatara Durga, dan Hyang Durga Dewi adalah hal yang berbeda. Istilah bahan dalam pembuatan obat sesuai dengan Kala Tatwa juga perlu ditanyakan kepada yang lebih paham untuk menghindari perbedaan resep obatnya.
Dijelaskan juga pemberian obat sebaiknya tidak sembarangan dengan disertai prana dan doa yang suci oleh yang terlatih dan memiliki dasar dalam pengobatan sehingga memiliki kemampuan suci dan juga manfaat yang diharapkan. Seperti dijelaskan bahwa buku ini utama, sehingga dilarang dibaca di jalan, sebaliknya perlu persiapan diri untuk memahaminya serta digunakan untuk kepentingan dharma. Salam. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...