Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
SETIAP malam saya berpikir untuk bersiap menjawab pertanyaan dari anak-anak terkait dengan adat dan budaya Bali yang sudah terkenal sampai ke luar negeri. Terutama konsep tentang keseimbangan dengan semua makhluk ciptaan Tuhan. Akhirnya di suatu pagi terlihat buku yang sangat menarik berjudul Kala Tattwa
Buku karangan dari Drs I Wayan Dunia ini terdiri dari 25 teks asli Kala Tattwa dan terjemahannya sebanyak 30 halaman. Buku yang terbit tahun 2009 oleh Penerbit Paramita di Surayaba telah menginspirasi dan menarik saya untuk membacanya.
Kala Tattwa adalah naskah siwaistik yang menjelaskan tentang asal usul Sang Hyang Kala beserta anugerah yang diterimanya dari Bhatara Siwa dan juga Dewi Uma. Dikisahkan kala Bhatara Siwa dan Bhatari Uma sedang perjalanan bersama ke samudera yang begitu indah, muncul hasrat birahi Bhatara Siwa namun karena situasi tidak memungkinkan ditolak keinginan tersebut oleh Dewi Uma.
Tak ayal sperma Bhata Siwa menetes ke samudera dan membuat ombak yang begitu besar lalu berubah menjadi sosok raksasa yang snagat menyeramkan dan tinggi besar. Meraung raung raksasa tersebut menanyakan siapa dirinya dan orang tuanya. Karena tidak ada jawaban, raksasa ini mengamuk hingga merusak keseimbangan dunia hingga ke kahyangan. Walaupun dewata nawa sanga ikut bertempur dan juga Bhatara Brahma maupun Wisnu menyerang raksasa tersebut, tak juga terkalahkan
Akhirnya para dewa memohon kepada Hyang Bhatara Siwa untuk mengalahkan dan menumpas raksasa yang mengganggu keseimbangan dunia. Bhatara Siwa berperang melawan raksasa tersebut, saling tembak, slaing tusuk namun tidak ada yang kalah. Akhirnya Bhatara Siwa bertanya kepada raksasa tersebut.
“Wahai Raksasa, mengapa engkau mengganggu keseimbangan dunia?”
“Aku hanya ingin tahu nama dan orangtuaku,” jawab raksasan itu.
Lalu Bhatara Siwa menjanjikan memberikan jawaban, asalkan taring kanan sang raksasa dipatahkan terlebih dahulu. Setelah taringnya dipatahkan, maka Bhatara Siwa menjelaskan siapa dirinya dan raksasa itu sendiri adalah anaknya. Dewi Uma sendiri adalah ibunya. Dan semenjak saat itu raksasa itu diberi nama sebagai Hyang Kala dengan anugerah boleh membunuh yang bersalah dan memberi hidup yang tidak bersalah. Selain itu Hyang Kala juga bertubuhkan yang bernapas.
Dewi Uma sendiri memerintahkan Hyang Kala untuk tinggal di Pura Dalem dengan nama Bhatari Durga sebagai dewanya golongan Kala, Durga, Pisaca, Wil, Raksasa, Danuja, Kingkara, penyakit, hama, bisa dan segala yang gaib. Namun saat Dewi Uma ke Pura Dalem, beliau bergelar Bhatara Durga Dewi dan Hyang Kala bergelar Kalika.
Anugerah lain yang diberikan yaitu yang dapat dijadikan santapan oleh Sang Hyang Kala adalah sebagai berikut.
Ada yang menarik dalam buku terjemahan ini yaitu Hyang Bhatari Durga Dewi merestui pada manusia sejati. Ini dimaksudkan pada manusia yang tahu pemujaan terhadap diriNya meski apapun yang dimohonkan agar direstui oleh Hyang Bhatara Kala. Hal ini karena manusia sejati dapat bercampur dengan Bhuta, Kala, Durga, Duewam Bhatara, dan Hyang. Menarik lagi adalah Dewi Uma merestui Hyang Bhatara Kala untuk menghukum orang yang perilakunya tidak sesuai dengan kelahirannya.
Bhatara Siwa juga memberikan wejangan yaitu beberapa hal yang amat penting untuk dilakukan dan diketahui oleh Hyang Bhatara Kala yaitu sebagai berikut.
Terakhir Bhatari Durga Dewi memberikan suatu petuah kepada putranya bahwa penyakit pada manusia ada tanda-tandanya serta obat yang dapat digunakan. Selain itu tanda-tanda orang yang akan meninggal pada orang yang sakit juga dijelaskan. Beliau juga menjelaskan intisari dari ajaran Canting Mas dan juga Siwer Mas serta paling penting konsep dari tirta dalam pelaksanaan pujawali dan upacara kematian sebagai sarana sidhaning pelaksanaan yajna yang disebut tirtha pendeta Siwa-Budha.
Secara umum buku ini sangat nikmat dibaca walau tanpa gambar di setiap halamannya. Selain itu istilah yang ada perlu dicermati lebih detai untuk menghindari perbedaan pemahaman seperti Durga, Bhatara Durga, dan Hyang Durga Dewi adalah hal yang berbeda. Istilah bahan dalam pembuatan obat sesuai dengan Kala Tatwa juga perlu ditanyakan kepada yang lebih paham untuk menghindari perbedaan resep obatnya.
Dijelaskan juga pemberian obat sebaiknya tidak sembarangan dengan disertai prana dan doa yang suci oleh yang terlatih dan memiliki dasar dalam pengobatan sehingga memiliki kemampuan suci dan juga manfaat yang diharapkan. Seperti dijelaskan bahwa buku ini utama, sehingga dilarang dibaca di jalan, sebaliknya perlu persiapan diri untuk memahaminya serta digunakan untuk kepentingan dharma. Salam. [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...