‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
AKU masih terlalu polos untuk mengartikan jika apa yang tersembunyi di dalam selangkangan bukan barang dagangan. Dalam remang, kupeluk kedua lengan dalam dingin. Bawah mataku sembap. Beberapa tetes air yang nakal jatuh di atas rambutku yang kusut. Dari atas, banyak air bocor dari sambungan paralon. Kuremas rok hitam selutut yang basah. Hujan deras mengguyur kota ini sejak siang dan enggan berhenti bahkan ketika langit telah menggulita.
Kugigit bibir berkali-kali. Dalam sorot lampu yang menyilaukan mata, kulihat mobil sedan hitam mengilat mendekatiku perlahan. Sejujurnya aku ingin lari. Namun, perutku tak bisa diajak kompromi. Sudah dari tadi pagi lambungku belum terisi nasi. Hanya teh manis yang berhasil kusesap.
Pintu mobil terbuka, seseorang berjalan mendekatiku yang berdiri kaku di tepi trotoar dalam dingin. Sekali lagi, sejujurnya aku ingin berlari. Kota ini telah menimbulkan luka tak terperi yang tak ada dalam bayanganku dulu-dulu. Entah bisa-bisanya aku terdampar di kota ini. Dalam kebingungan, dalam kesialan. Andai saja aku menurut kata Emak dan mau menikah dengan anak musuh bebuyutan bapak. Kuakui Sajat memang tampan, tetapi aku tak suka dia hobi berjudi dan mabuk-mabukan.
Pria yang keluar dari mobil itu tetiba tersenyum padaku. Entah senyum asli atau palsu. Tak ada manusia yang bisa membaca isi hati. Kulit wajahnya terlalu bersih. Berbanding terbalik denganku yang saban hari di kampung hanya berkutat di kebun karet dan kopi. Ia membetulkan kacamatanya yang melorot, melihatku dengan saksama. Kukira tidak ada lagi yang lebih tampan dari Sajat. Di kota ini, ternyata banyak pria tampan menyaingi dirinya. Namun, barangkali bisa dihitung jari pria yang benar-benar baik dan tulus tak ingin menyakiti wanita.
Lesung pipi kirinya mengembang ketika ia menyapaku. Dalam remang, entah kenapa aku tetiba terpesona oleh senyumnya yang manis, semanis gula. Padahal, sejak aku berlari hingga di bawah kolong tol ini, sudah kukuatkan hati tak percaya lagi dengan yang namanya lelaki.
“Mau ke mana Neng? Kulihat kamu bingung dari tadi? Mana bajumu kuyup begitu.”
Jika aku menjawabnya, apa benar ia akan menolongku. Di kota besar ini, banyak sekali modus yang aku tak tahu. Bahkan aku terdampar di kota ini dalam kesialan juga hasil dari modus perekrutan biro kerja di kotaku. Aku tak ingin sial dua kali. Namun, bagaimana jika beliau di depanku benar-benar orang baik yang mau menolongku?”
“Aku mau pulang Om.”
“Pulang? Ke mana? Mau kuantar? Tak baik malam-malam begini keluyuran.”
Kulihat sekali lagi lelaki di depanku ini. Dia memang tak tinggi-tinggi amat. Namun, bentuk badannya yang sedang, tidak gemuk dan tidak kurus, ditambah matanya yang sipit berkacamata, entah kenapa, begitu cepat seperti tertarik padanya. Padahal, aku sadar diri siapa.
“Kalau mau, kuantar ya.”
Aku mengangguk saja. Masuk di pintu depan setelah dipersilakannya. Ia menyalakan lampu, mengambilkan selimut di kursi tengah, memasangkan sabuk di dadaku dengan perlahan sambil meminta maaf. Bahkan ia meminta maaf untuk memasang sabuk itu? Sedikit aku mulai percaya, barangkali ia lelaki baik-baik.
Mobil melaju, lalu ia menanyakan di mana rumahku. Aku tak tahu aku harus menjawab apa. Ke rumahku butuh enam belas jam perjalanan dari kota ini ditambah naik kapal di penyeberangan Merak-Bakauheni.
“Tidak usah sungkan Neng. Bilang saja nanti kuantar. Saya sering kok mengantar siapa saja yang kebingungan di kota ini. Kota ini mirip labirin atau lorong-lorong jalan membingungkan yang membuat sebagian orang bisa tersesat di dalamnya.”
Labirin? Kukira om ini punya pendapat yang benar. Dua hari aku kabur dari rumah yang menampungku, aku kadang bingung melewati jalanan yang saling tumpang tindih. Kereta di atas, di bawahnya kereta lagi, di bawahnya tol, di bawahnya jalan raya, di bawah lagi ada kolong jalan raya. Aku menggeleng kepala, bisa-bisanya manusia membuat jalan kolong dan lubang di sana-sini mirip tikus.
“Aku mau pulang Om. Tetapi aku tak punya ongkos.”
“Iya. Om antar kamu sekarang.”
“Om mau mengantar saya sekarang ke Lampung?”
Tak ada jawab. Hujan deras di luar tidak bisa membuat senyap di dalam kembali bersuara. Kulihat Om itu seolah bingung. Perlahan, ia memancingku untuk bercerita bagaimana ia terdampar dan tersesat di kota ini.
Maka, kuceritakan saja jika aku melihat temanku Mawar sering menelepon ibuku jika hidup di ibu kota enak. Ia yang dulu dekil dan kumal, sekarang wajahnya glowing dan ia makin cantik dan bohay. Aku tak menanyakan lebih dulu dia kerja sebagai apa. Aku hanya pamitan pada Emak jika aku ingin bekerja dan berusaha mengobati luka karena sering dihina miskin oleh keluarga Sajat pemilik perkebunan karet dan kopi di kampungku.
Hanya dengan bekal tekad, aku mendaftar ke biro jasa pekerjaan yang satu kantor dengan penyalur Mawar. Aku diberangkatkan dengan 12 belas gadis-gadis lain dan bilang akan dipekerjakan di pabrik, mal, atau kafe. Nanti tinggal ikuti tes saja. Namun, sungguh, aku tak menyangka jika tes pertama selalu membuatku ketakutan. Aku tak tahu jika pekerjaanku hanya diharuskan untuk mengangkang. Menjual apa yang tersembunyi dalam selangkangan.
Om itu melihat wajahku dalam serius. Wajah yang tadinya tersenyum manis mirip kecap, kali ini mendadak sayu dan mendung. Entah sedih, entah marah, entah malah senang dengan nasibku dan ia akan menambah kesialan itu jika ia seorang bunglon yang pandai bersandiwara di depanku. Namun, saat ia sering mencuri pandang melihatku, aku makin kikuk. Mendadak rasa takut kembali muncul di dada. Lepas dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Ya Tuhan, aku tak mau itu terjadi lagi.
“Vid. Iya. Aku titip kantor besok. Mungkin bisa tiga hari. Kamu yang pegang semuanya. Konfirmasi saja jika butuh bantuan. Oke. Ya. Terima kasih ya.”
Aku tak tahu ia bicara dengan siapa di teleponnya. Ia terus melajukan mobil di tengah jalan raya yang sedikit lengang di antara kerlip lampu-lampu gedung tinggi di ibu kota.
“Kita ke Lampung sekarang. Kuantar kamu pulang. Subuh semoga sudah sampai Merak. Mudah-mudahan tidak macet.”
Melewati daratan dan lautan, lalu kembali menjajaki daratan pulau Andalas, sejujurnya aku begitu bahagia ada orang asing yang dengan sudi mau membantuku. Bayangkan, aku yang mencoba melarikan diri, tanpa uang, tanpa alat komunikasi, mendadak aku dibelikan baju, disuruh makan di warung makan pinggir jalan. Entah apakah ini balasan doa ibu jika di kampung beliau selalu berkata padaku, “Berbuat baik ke orang lain itu mirip orang menanam pohon. Buah kebaikannya nanti jika bukan Emak yang makan, ya nanti untuk kamu dan anak-anakmu. Emak ingin di mana pun kamu berada saat dalam kesusahan., semoga ada malaikat yang baik hati segera menolongmu. Apa artinya sepiring nasi ini untuk tetangga yang sedang kelaparan. Emak memang tahu beras kita tinggal sedikit. Namun, sekali lagi Emak hanya ingin bilang, semoga kebaikan ini akan bertunas di kemudian hari dan engkau yang akan merasakannya.”
Aku menyeka sudut mata. Sungguh, aku kangen Emak dan mungkin dari doa beliau, aku bisa di posisi ini.
Enam belas jam bukan waktu yang singkat, tetapi itu bukan apa-apa untuk sebuah kata rindu. Maka, ketika sampai di rumah sederhana dengan tembok bata yang belum diplester semen, aku dipersilakannya masuk. Pintu terbuka, ibuku menyapa. Namun, entah kenapa ibuku malah terkejut melihatku. Ada noda darah di pelipisku. Ibuku terus menggeleng. Menggoyang-goyang tubuhku tak percaya. Lalu melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman telah penyok bagian depannya.
***
Seorang ibu bersimpuh di atas rerumputan. Pipinya sembab. Ia diapit dua pusara yang dibangun dengan tumpukan bata merah. Tangannya gesit membersihkan reumputan kecil di atas dua makam. Batu-batu kecil putih di atas makam ia lemparkan, ia rapikan di tengah. Ia sesenggukan. Anak dan menantunya datang lagi dalam mimpi. Ia tak tahu bagaimana mengobati rasa rindunya yang selalu bersembunyi. [T]
BACA cerpen lain di rubrik CERPEN
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...