Menggugat Empati Elite kepada Rakyat
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
SUASANA gedung Kesenian Gde Manik Singaraja begitu meriah, Sabtu malam, 3 Maret 2024. Di gedung itu, berlangsung acara Preliminary Competition yang merupakan rangkaian dari ajang pemilih Jegeg Bagus Buleleng tahun 2024.
Salah satu sesi yang mengundang sorot mata dari ratusan pengunjung di gedung itu adalah penampilan fashion show yang memamerkan bakat dari 10 pasang finalis Jegeg Bagus Buleleng. Tentu ada banyak sesi menarik lainnya.
Dalam fashion show itu dipertunjukkan berbagai ragam busana, seperti busana formal, busana Bali modern, dan busana gaun malam.
Ida Ayu Shanti Pinandita Erawan atau Dayu Santhi selaku Ketua Panitia Pemilihan Jegeg Bagus Buleleng 2024 mengatakan tema Preliminary Competition ini adalah '90s Night of Jegeg Bagus Buleleng 2024'.
Artinya, pada acara itu tampil berbagai unsur yang membangun suasana tahun 1990-an, seperti musik dan busana didominasi oleh nuansa nostalgia tahun 1990-an.
Tiga desainer busana lokal dan 10 penata rias lokal terlibat untuk mendukung penampilan seluruh finalis.
"Kami memberikan kebebasan kepada seluruh desainer dan penata rias untuk dapat mengkreasikan apa yang mereka ingin promosikan melalui finalis-finalis ini nantinya," jelas Dayu Shanti yang merupakan Runner Up V Jegeg Bagus Bali 2021 itu.
Tiga juri yang berasal dari alumni Jegeg Bagus Buleleng dilibatkan untuk memberi nilai pada setiap penampilan finalis Jegeg Bagus Buleleng itu. Para juri itu pernah berkompetisi di ajang Jegeg Bagus Bali, mereka memiliki pengalaman dan kompetensi yang mumpuni dalam membina dan menilai para finalis.

Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng
Aspek yang dinilai meliputi performa peragaan busana yang telah dibuatkan oleh desainer, stage attitude, dan stage act.
"Sesuai dengan tema kami yaitu 'Aryaduta Padma Gandiva', di mana pada setiap rangkaian yang telah kami buat kami berharap bahwa duta kami tidak hanya cantik secara fisik untuk dilihat, namun bagaimana mereka juga memberikan pemikiran yang tajam," kata Dayu Shanti.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, mengatakan kegiatan ini sejalan dengan semangat Smart Branding yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk Singaraja Smart City.
Pada kesempatan ini, finalis tidak hanya memamerkan kepiawaian mereka dalam berbusana, namun juga kemampuan mereka dalam berbicara di depan umum serta menguasai panggung. Mereka telah diberikan pembekalan dan pelatihan baik softskill maupun hardskill yang terkait dengan kepariwisataan sebagaimana Jegeg Bagus Buleleng berperan sebagai duta pariwisata. Hal ini sejalan dengan langkah Buleleng untuk menjadi Kabupaten Kreatif di Indonesia pada tahun 2024 ini.

Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng
Menurut Dody, sub-sektor kriya khususnya tenunan kain tradisional adalah sub-sektor unggulan di Kabupaten Buleleng, ajang ini diprioritaskan untuk mengangkat sub-sektor unggulan tersebut.
"Kita bersinergi bersama Semeton Jegeg Bagus Buleleng dengan para stakeholder yaitu para perancang busana, penenun, dan butik-butik untuk bisa mempromosikan hasil-hasil karya yang asli dari Buleleng. Tentunya ini akan menjadi daya dorong nantinya sekaligus sebagai promosi bagi hasil-hasil karya Buleleng," kata Dody.

Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng
Selain peragaan busana, Dody juga menugaskan para finalis untuk membuat konten promosi Destinasi Tujuan Wisata (DTW) pada 9 Kecamatan di Kabupaten Buleleng. Materi yang diberikan selama masa karantina akan dipraktekkan oleh para finalis pada konten promosi DTW mereka yang berwujud video.
"Materi yang kita berikan agar mereka bisa aktualisasikan untuk melakukan promosi dengan teknik promosi digital kawula muda yang sejalan dengan program Smart Branding dalam Singaraja Smart City," ujar Dody.

Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng
Sejumlah penerima penghargaan dalam Preliminary Competition ini yaitu:
Sumber: Rilis Dinas Kominfosanti Buleleng
Editor: Adnyana Ole
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manife...
PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut berakar pad...
SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, s...
“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens), menempatkan tindakan ekologis ‘menana...
GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung, tetapi aktivitas di lingkungan sekolah justru ber...
MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur. Mereka meletakkan tas, sembari menarik nafas panjang, sambil menikm...
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru SMP Negeri 1 Singaraja pada Selasa, 21 A...
JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan dari Generasi Z memanfaatkan gawa...
KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT, telah memberi dampak positif dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan pesi...