Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
CERPEN Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-Daun karya Frans Nadjira telah menyihir saya sejak perkenalan pertama hingga saya berlatih menghayatinya untuk dibacakan pada acara “Mimbar Obituari Frans Nadjira” di Lombok Timur, 24 Februari 2024 lalu. Komunitas kami, Kelas Reading Buya Syafii Lombok Timur, memberi saya mandat untuk membacakan cerpen itu, karena kira-kira dua pekan sebelumnya saya juga telah membacakannya dalam acara diskusi bulanan Kelas Reading.
Tentu saja saya merasa percaya diri menerima mandat tersebut, karena diam-diam saya sangat menikmati membaca cerita itu. Berbeda dengan cerita lain yang pernah saya baca untuk bahan perkuliahan, yang biasanya mengutamakan emosional pribadi penulisnya dan hanya menonjolkan romansa yang sama dengan realita hidup sehari-hari, cerpen BdGD sungguh menggugah sunyi pikiran. Sangat mengesankan bagi saya ketika narator dalam cerpen itu memanggil kematian dengan sebutan; Sahabat.
Kematian di sini diumpamakan kunjungan seorang sahabat. Jelas itu berbanding terbalik dengan citra umum yang menganggap kematian sebagai sesuatu yang mensayatkan dan menyedihkankan. Bagi saya, itulah di antara keunikan BdGD yang paling penting. Ia menuntun saya masuk ke dalam dunia kematian yang indah karena tak terpikirkan sebelumnya.
BdGD yang saya baca bersumber dari buku yang diterbitkan matamerabook (2004). Walaupun tak memiliki cetakan lain, saya percaya cerpen ini tak berbeda isinya dengan cerpen BdGD yang tercantum dalam buku terbitan 1979.
Pada hari pertama membaca cerpen tersebut, saya duduk di kamar sambil mengetik ulang cerpen dalam file screenshot yang dikirimkan panitia acara pada saya.
Saya telanjangi jendela yang ditutup gorden lalu saya biarkan seluruh ide saya untuk hidup. Sesekali saya memandangi dunia dari balik kaca jendela yang burik. Samar-samar saya lihat matahari dipeluk awan sampai menghilang. Yang terpancar hanya sebagian kecil dari terik yang biasanya menusuk kulit. Setelah selesai mengetik ulang, saya mencoba membaca dalam hati. Ternyata, memang benar adanya cerpen ini bernyawa.
Di luar jendela, suara guruh menyertai guguran daun-daun di taman belakang rumah. Lalu terlihat awan hitam mulai bergerak. Sontak saya keluar dengan membawa kertas cerpen ini. Saya memperhatikan sekeliling. Ada suara yang merambat melalui udara dan termakan paru-paru. Angin berembus pelan seperti berbisik bahwa akan ada yang datang.
Saya lihat awan hitam bergerak di atas menara masjid yang sedang mengumandangkan azan. Selang beberapa kedipan, hujan turun untuk menjawab segala kebingungan. Cerpen ini membuat saya melipir sebentar dari dunia saya.
Dibiarkannya saya bermain dalam hujan. Mengingat segala kenangan indah masa kecil yang mengharukan. Menumpahkan segala sesuatu yang saya rindukan ke dalam guyuran hujan yang menyembunyikan rembesan air matsaya. Saya dibiarkan bermain dan keluar dari kerepotan hidup sehari-hari. Saya mendadak lupa bagaimana suara bising mesin cuci tiap pagi. Saya lupa bagaimana debu selalu mendominasi paru-paruku saat menyapu. Kini, saya benar-benar percaya bahwa cerpen ini bernyawa.
Saya bergegas menyelesaikan permainan yang saya mulai dengan hujan karena saya menyadari sosok yang datang telah menitipkan pesan. Malam harinya, saya terus mengulang bacaan dalam hati. Saya merencanakan besok pagi akan menjadi latihan perdana saya dalam membawakan kehebatan Om Frans.
Besoknya, pagi tidak seberat hari-hari kemarin. Ada yang berdesir dari dalam dan mendorong saya keluar. Cerpen ini menggugah saya untuk terus bermain dengannya. Tanpa saya sadari, suara bising mesin cuci tiap pagi tidak lagi mengiris gendang telinga saya.
Ada suara lain yang membuat saya tidak lagi terganggu. Hembusan angin, kicauan burung, guguran daun, kepakan sayap kupu-kupu, pohon bambu yang menari-nari dan ikan yang melompat-lompat dengan girang. Beberapa hal-hal yang sudah saya sebut di atas, seringkali luput dari indra-indra saya.
Tapi pagi ini, dengan cerpen yang dititipkan Om Frans untuk saya baca, saya merasakan kebermaknaan di tengah-tengah kebosanan yang berulang. Raga saya seperti mengenali bagaimana saya harus memaknai hidupku kali ini. Kematian orang-orang yang saya cintai seperti mendung sepanjang tahun yang masih belum bisa saya lalui.
Akan tetapi, Om Frans membantu saya memahami bahwa kematian bukan sesuatu yang merenggut. Kematian hanya menjaga apa dan siapa yang sudah tak sanggup hidup di dunia. Mungkin saja, dunia yang ditawarkan kematian lebih tenang daripada dunia yang sedang saya tinggali saat ini.
Hari-hari dalam sepekan saya jalani sambil mengingat kata-kata yang bernyawa dalam BdGD. Sekali waktu, saya merasa indra yang tersembunyi seperti terbuka. Saya mendadak peka dengan segala hal yang ditangkap oleh indra saya. Kembali saya melihat awan hitam yang bergerak di atas menara masjid. Menyaksikan guguran daun-daun yang memenuhi jalanan yang basah. Melihat-lihat segala yang bermain dalam hujan. Semua tertangkap oleh retina dan berubah menjadi kekal dalam akal.
Lagi-lagi saya meyakini, Om Frans memang memilih saya untuk mengemban tugas membaca kehebatannya. Lalu pada suatu malam, di kamar, saya kedatangan seorang tamu. Ia adalah Om Frans itu sendiri. Saya menonton beliau berpuisi. Tanpa ia melirik, saya hanya termangu memandanginya bersama ratusan orang yang juga menyaksikannya. Saya kedatangan Om Frans dalam mimpi. Mimpi itu seperti berkat yang langsung saya terima darinya. Oleh karena itu, saya mengharuskan diri untuk selalu mengulang dan mengingat-ingat kata-kata bernyawa darinya.
Pada malam saya membawakan cerpen Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-Daun karya Om Frans, saya berdoa untuk diberkati olehnya. Selang beberapa waktu, hujan terjun bebas ke bumi lalu saya maju ke mimbar obituari membacakan cerpen ini.
Dalam suasana yang menghidupkan indra, suara air, angin, juga malam yang tak bising membantu saya menikmati dunia di cerpen ini. Tanpa saya sadari, teks yang saya bawa ternyata tidak saya anggap ada. Saya terus membaca kata demi kata dengan mengandalkan indra-indra yang hidup. Ternyata saya berhasil, membaca tanpa teks dan merasakan bahwa Om Frans memang berada di antara wajah-wajah yang memandangi saya.
Mimbar Obituari Frans Nadjira memupuk batin yang sudah lama berkutat dengan kerepotan hidup yang membosankan. Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun-Daun karya Frans Nadjira akan selalu kekal dalam pikiran, dalam jiwa yang gelisah mencari.[T]
Masbagik, Lombok Timur, Februari 2024
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...