MANUSIA Lahir tak semerta-merta terlepas dari batin dan begitu juga sebaliknya. Keduanya adalah elemen diri manusia yang saling memengaruhi dan berusaha menguasai satu sama lain.
Namun, dari pergulatan itu tidak hanya ada satu pemenang atau pecundang. Hal itu sematamata untuk menemukan keseimbangan dan harmoni di antara keduanya.
Ide tersebut melatarbelakangi penciptaan karya seni pertunjukan bertajuk “Puthut Gelut: Si Lahir vs Si Batin”.
"Puthut Gelut" yang dipilih sebagai judul terinspirasi dari teknik bermain alat musik Gendher. Dalam teknik "Puthut Gelut" kedua tangan penabuh memukul Gendher secara berdekatan dengan melodi yang berbeda namun menciptakan sebuah harmoni.
Teknik tersebut lalu diterjemahkan dalam seni pertunjukkan melalui dua seniman pertunjukkan dari dispilin yang berbeda.
Adalah pantomimer, Andi SW dan koreografer, Darsono Djarot sebagai aktor utama depan panggung dan didukung oleh skenografer, Sugeng ‘Yeah’ dari belakang panggung. Pementasan ini mengangkat kisah dua tokoh, Si Lahir dan Si Batin.
Kedua tokoh tersebut merepresentasikan kondisi lahir dan batin manusia yang saling berebut dalam alam pikiran. Harmoni yang tercipta dari pergulatan itu menjadi penentu untuk mengambil keputusan.
“Puthut Gelut: Si Lahir vs Si Batin” dipentaskan pada hari Selasa dan Rabu tanggal 27 dan 28 Februari 2024 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta pukul 20.00 WIB. Pementasan ini didukung oleh Taman Budaya Jawa Tengah, Yeah Foundation, Studio Taksu, SOC Lighting Kleb, dan Kerja Keras. [T][Rls]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...